Halo Tuan Konglomerat..

Maaf.

Mungkin aku baru berani menyampaikan maaf ku lewat tulisan ini.

Aku tahu Anda begitu marah dengan cara yang ku lakukan tapi itu semua sengaja ku atur jalur ceritanya.

Aku ingin lepas Tuan, dari genggaman tanganmu, dari gerutu panjangmu, dari aturan-aturanmu yang menyempitkan otakku, dan dari senyuman khas mu yang melemaskan engsel sendi kakiku.

Advertisement

Mana mungkin bisa aku yang bumi mengharapkan langit?

Bukankah itu sungguh tidak pantas? Angan ku harus ku tepis. Apalagi aku yang bumi terus menatap nanar ke langit yang terlihat begitu mesra kepada Bulan. Yah, aku memang tak pantas untukmu, Tuan.

Kenapa begitu egois? Ketika bersamaku membuatmu begitu nyaman seperti sedang duduk santai di cafe lalu bersamanya kamu menemukan rumah. Iya, Aku ibarat cafe yang ketika kamu suntuk dengan keadaan rumah kamu memilih berjam-jam duduk disana. Tapi kamu tetap akan pulang ke rumah. Lalu, salahkan aku jika akhirnya meminta mu menjadikanku juga rumah? Tempatmu untuk tinggal . Anda egois Tuan. Memintaku untuk tetap tinggal sementara anda tidak bisa membiarkan dia pergi. Lalu, untuk apa anda masih menyuruhku tinggal?

Tuan memang benar aku mulai menyukai Anda bahkan dari awal berjumpa aku yang lebih dulu terpana dengan senyuman khas milikmu. Lalu ketika anda mengungkapkan kata "sayang" di saat hatiku masih kacau karena mahkluk halus bernama " mantan " tentu saja aku tak meghiraukan ucapanmu.

Anda pelan-pelan memasuki ruang kosong hati saya, dengan cara yang begitu lembut. Dan akhirnya, galaksi perasaan saya terpenuhi oleh semua wajah Anda.

Namun, ketika Anda berkata jujur telah memiliki kekasih………… "praaaaaaaaaaaaaaaaaagggggg".

Saya menyukai orang yang salah.

Awalnya, aku masih menapik kenyataan menjadi bayangan hanya saja semakin sering Anda memperlakukanku bak Putri manja, Semestaku bergejolak.

Aku semakin sering bertengkar dengan logikaku. Caraku menyukaimu adalah salah.

Maafkan aku Tuan,

We are DONE.

Dariku,

Bumi yang terus cemburu melihat langit dan bulan bersama.