Untuk kamu yang hatinya tak pernah tersentuh olehku.

Kau tau, dari awal cerita kita dimulai seolah aku tau kau hanya terpaksa menerima kehadiranku dalam hidupmu. Kau hanya terlalu baik hati dengan tidak menolak aku. Aku tau itu saat kau tidak pernah menyatakan cinta kepadaku.

Aku hanya menutup mataku, berharap kau lelakiku yang aku kasihi, suatu saat akan berpaling padaku. Harapan akan ada tahun dimana kau bisa mencintai aku. Walau hanya sekali saja aku berharap kau memandangku dengan tatapan cinta. Tatapan penuh minat yang sungguh sumpah mati kuharapkan. Demi apapun.

Setahun berlalu, dua tahun berlalu hingga tahun ketiga kita berlalu.

Kau masih sama, aku masih menyandang status yang sama di hatimu. Masih bergelar "pengisi waktu luang", bahkan ada kala dimana aku adalah adik kecilmu yang merengek meminta permen padamu dan kau memandangku sebal. Apa yang salah padaku hingga kau tak kunjung dihinggapi cinta? Lalu aku mencoba menengok ke belakang sekali lagi, pada awal Tuhan mempertemukan kita. Dan kau tau kenyataan apa yang aku temui?

Advertisement

Kau memiliki wanita yang kau cintai sebelum bersamaku. Mencintainya menunjukkan bahwa dia sangat berarti untukmu. Aku bisa merasakan hatimu begitu dipenuhi olehnya. Hanya dia? Oh tentu tidak, kau bahkan memiliki selir lain saat telah bersamaku.

Aku yang telah menyerahkan seluruhnya untukmu bahkan sampai remah terkecilnya untukmu. Sementara kau memilih wanita lain. Bahkan aku sudah hampir gila dengan mengharapkanku menjadi selirmu saja. Aku tidak banyak berharap kau memilihku. Harapanku hanya sekali saja kau cinta aku. Sementara itu hatiku berteriak, sampai kapan aku akan menjadi wahana bermainmu yang tak kunjung berakhir.

Aku ingin dicintai

Aku ingin disayangi

Aku ingin diakui

Aku ingin dipedulikan olehmu

Sampai pada satu titik aku tersadar itu adalah ambisi. Tapi tidak, aku terlalu buta mengakui dan membedakan mana cinta mana ambisi. Antara kenyataan dan harapan mulai jungkir balik dalam hidupku.

Tapi kuhilangkan pikiran itu dari otakku karena kenaifanku. Selalu berharap setidaknya kau masih menghabiskan malam demi malam yang indah bersamaku, menjadi pemandangan pertama yang aku lihat di pagi hari, dan masih menjadi pelariannmu ketika kau dilanda masalah bersama wanitamu.

Semakin hari aku semakin perhitungan kepadamu. Bukan materi tentunya, melainkan bagaimana bisa hanya aku saja yang berjuang dalam hubungan kita? Dan aku baru teringat bahwa cintamu untukku belum juga datang.

Setahun belakangan ini aku mulai lelah menunggumu lelakiku! Maafkan aku. Aku mencintaimu hingga lupa bahwa aku menyiksamu bertahun-tahun dalam cinta ini. Menjadikanku beban pikiranmu dan hanya memikirkan perasaanku padamu hingga mengacaukan hidupmu.

Bukannya aku tak bernah mencoba berhehenti mencintaimu. Bukan, sungguh.

Kerap kali aku menerima lelaki lain di hidupku hanya semata-mata ingin agar bisa melepaskan perasaanku. Tapi kau tau apa? Selama itu pula hanya "nol besar" yang aku dapat. Hatiku selalu kembali padamu hingga lelahku mencekikku.

Maafkan kekasih gelapmu ini yang begitu lancang memporak-porandakan hidupmu!

Sekarang aku ingin berhenti. Tapi sebelum aku akhiri, aku ingin menanyakan satu hal padamu. Benarkah tak pernah sekalipun dalam hidupmu kau mencintaiku? Maaf di sini aku terlalu lancang membicarakan cinta. Kita ganti pertanyaannya. Pernahkah kau menyukaiku? Hanya suka yang tulus. Tapi kubiarkan pertanyaanku terpendam.

Ada kalanya pertanyaan kita tidak bisa dijawab oleh manusia. Aku sekarang menunggu Tuhan memberiku jawaban. Bahkan pertanyaanku sudah kubiarkan menguap. Aku bisa apa jika sekarang kau bilang akan meminang selirmu itu? Itu adalah pilihanmu.

Tak patut jika seorang aku mempertanyakan keputusanmu. Aku bahkan banyak berdosa atas hubungan kalian. Semoga yang kau pilih adalah yang terbaik.

Tuhan berjanji bahwa apa yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Aku tau kau tak sempurna, kadang kau pun sama jahatnya dengan diriku, tapi ada kalanya kau menjelma sebagai sosok malaikat. Ada saat dimana kau menjadi tempatku berlindung. Bahkan hingga saat ini, kau masih sama baiknya seperti saat pertama bertemu, begitu tidak egoisnya dirimu. Kisah kita adalah kesalahanku. Aku yang begitu tak peduli dengan perasaan hatimu.

Saat ini aku putuskan menyerah, lelakiku. Aku menyerah dengan apa yang digariskan Tuhan kita tentang perjodohan umat-Nya.

Semoga kau bahagia. Maaf karena aku telah egois dan tentang segala ambisiku akan kau. Aku gadis malammu rela melepaskanmu. Semoga aku tak salah, bahwa saat ini yang paling kau inginkan adalah aku pergi darimu.

Terimakasih atas semua pelajaran yang kau berikan. Banyak hal yang kau beri untukku. Mencintai, ambisi, kasih sayang, kebencian, mengerti, memahami, menjaga rasa dan melepaskan.

Terimakasih cintaku. Dan aku melepasmu