Teruntuk kamu yang aku sebut entah siapa di jaman dulu. Bukan pasangan, yang kemudian menjadi mantan. Bukan pula orang yang seharusnya kukenang.

Meskipun tak ada ikatan, tapi kita pernah saling nyaman. Meski begitu, yang katamu kamu cinta tapi tak pernah kubalas.

Jangan samakan nyaman dengan cinta yang bisa berakhir di pelaminan. Toh semua orang bisa merasa nyaman satu dengan yang lain tapi mereka tak maju ke pelaminan. Karena modal membangun ikatan tak hanya bermodal nyaman. Tak ada yang tahu bagaimana perasaanmu padaku sekarang. Aku tak pernah tau dan tidak akan berusaha mencari tahu, atau bahkan mungkin dirimu sendiripun tak tahu ? Hanya Tuhan yang tahu.

Teruntuk kamu yang aku sendiri enggan menyebut sahabat. Karena pada hakikatnya sahabat tak akan bisa memiliki rasa cinta seperti fitrahnya laki-laki mencintai wanita. Tak ada sahabat yang terobsesi ingin memiliki satu sama lain dalam satu ikatan suci. Jangan anggap aku memiliki rasa cinta, karena yang pernah kulakukan tak lain hanya sebuah penghormatan atas kebaikan yang kamu berikan dan sebuah penghargaan atas apa yang telah kamu lakukan. Tidak lebih.

Setelah bertahun-tahun kita tak lagi saling menyapa kurasa kamu tak perlu lagi menanyakan kabar. Tak perlu mengirim bait puisi seperti yang sudah-sudah. Tak perlu membangun dongeng lagi di antara kita. Bahkan, jika kamu tau bahwa aku akan melangkah one step closer menuju singgasana impianku, sekeras apapun kamu ingin tahu kabarku dan bertukar pesan kumohon jangan lakukan itu.

Advertisement

Jauhkan keinginanmu mengirim kata “Hai…Apa kabar?” dari ponselmu. Karena jarang kutemui wanita yang tidak mudah luluh setelah kalimat sederhana itu terlontar. Karena dongeng yang kamu ciptakan dulu, sudah aku kubur dalam-dalam. Jadi, kumohon jangan ingatkan itu. Karna aku tak ingin menjadi putri dalam dunia khayalan yang kamu ciptakan. Sudah cukup dongeng masa lalu yang telah tumbuh di antara pertemanan kita.

Kini, biarkan aku menapaki jalan berbatu di dunia nyata bersama orang yang sudah Tuhan kirimkan untukku. Selamat tinggal, masa lalu, terima kasih untuk pelajaran yang sangat berharga bagiku. Aku akan tutup buku dan membuka lembaran di buku yang baru tanpa perlu mengingat-ingat yang telah lalu.