Terkadang berfikir dan berangan-angan tentang kamu yang nantinya bersamaku. Denganmu yang akan aku habiskan masa tua bersama, membangun dan berjalan bergandengan dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis, dan dalam kasih dan sayang. Mungkin kita akan bertengkar hebat untuk hal sepele, tapi dengan segera kita tertawa kembali seolah itu hanya angin lalu. Kini aku disini menuliskan surat untukmu yang akan kau baca saat masa tuamu nanti.

Untukmu yang akan menjadi teman hidupku,

Tidak pernah menyangka aku akan bersamamu, dan menjalin cerita disini. Menggandengmu dan berjalan berdampingan membangun sebuah tempat yang kita sebut itu ‘rumah’. Terima kasih karena kau sudah bersabar menungguku sebelum kita bertemu, dan terima kasih untuk diriku yang bersedia menunggumu hingga Tuhan mempertemukan kita.

Sebelum aku bersamamu banyak hal sudah terjadi dalam setiap perjalananku. Segala yang pahit dan menyakitkan sudah aku nikmati. Rasa sesak, merintih dan menangis dalam malam pernah aku jalani, sampai aku pada titik akhirku yaitu ‘Menyerah’. Tapi, apakah kau tahu dalam hati kecilku ini berkata “Apakah kau akan menyerah dan membiarkan mereka yang menertawai sakitmu itu senang ?” dan saat itu pun aku bangkit.

Aku berbicara pada hatiku dan bercerita pada Tuhan dalam setiap do’aku. Apakah aku pantas menyerah seperti ini ? ataukah pantaskan dia yang menjadi hidupku nanti melihatku seperti ini ? hatiku bertanya dan suara terkecil itu menggema “Tidak! Apa kau akan membiarkan dia yang di depanmu menderita karena kau menyerah untuknya.” Sejak saat itu, aku tersadar sakit ini bukan selamanya tapi sementara saja. Tidak apa jika ini sangat perih, namun aku percaya ini tidak akan lama.

Advertisement

Kini aku bisa berteman dengan waktu. Seiring berjalanannya waktu, aku memperbaiki diri sebelum kau datang padaku. Aku bersenang-senang dan menikmati setiap waktu yang ada untuk berkaca dan berbagi dengan sesama, sebelum kau datang dan fokusku akan aku curahkan padamu. Aku percaya kau masih menungguku di sana dengan setia dan juga pasti mendo’akan untuk pertemuan kita.

Hingga hari itu datang, tolong bersabarlah dulu. Kita sedang berjuang menemukan jalan. Kita juga sedang berjuang membuka hutan rimba yang akan mempertemukan kita. Aku akan terus berjuang disini memperbaiki diri dan imanku agar aku segera sampai padamu. Aku ingin persembahkan versi terbaik dari diriku untuk teman hidupku di sana.

Salam cinta dari penggemar masa depanmu.