Lama mengamati dinamika pendidikan di Indonesia, membuat jari-jari saya tergilitik membagikan kisah ini.

Dipersembahkan khusus teruntuk kamu yang patah hati ..
terutama kamu, yang saat ini menempuh pendidikan ..
percayalah, beban studi kamu sudah berat tanpa kamu campur adukkan dengan masalah hati ..

Kadang suka heran sama anak sekolah/kuliahan yang hubungan asmaranya labil. Dikit-dikit berantem, dikit-dikit perang di sosmed, dikit-dikit putus. Beberapa hari kemudian balikan, habis itu siklus berulang. Tiap kali putus, suka gga konsen belajar, tugas terbengkalai, gga masuk sekolah/kuliah, bahkan ada yang melakukan tindakan membahayakan nyawa. Hasil observasi kasar saya menyimpulkan bahwa kebanyakan kasus studi yang terbengkalai yaa disebabkan kegalauan pasca putus. Padahal sejak awal hubungannya memang gga jelas, memang isinya ribut aja. Terus kenapa kalau putus?

Memang, masalah hati gga se-simple itu. Saya paham.
Tapi, kalau kamu merasa berhak menyia-nyiakan studi kamu cuma buat meratapi hubungan tak harmonis yang harus disudahi, coba deh baca sampai selesai tulisan ini :))

Saya punya kenalan, sebut saja namanya Bintang.
Dia punya pacar yang juga kenalan saya, sebut saja namanya Kakak.

Bintang dan Kakak adalah pasangan yang tergolong famous di kampus. Orang-orang bilang mereka serasi. Kece badai deh.
Hubungan keduanya manis. Mungkin karena sama-sama sudah memasuki usia yang cukup matang. Hadiah muncul di depan pintu kediaman Bintang setiap bulannya, komunikasi yang terjaga dengan baik setiap harinya, perhatian yang tumpah ruah. Melihat mereka saja, rasanya saya sudah bahagia. Haha.

Advertisement

Semua berjalan baik-baik saja. Tapi sebenarnya ada bom waktu yang menunggu diledakkan.

Dua tahun berlalu, semuanya lancar. Memasuki tahun ketiga, Bintang pergi jauh untuk meningkatkan kualitas diri. Kuliah master di luar negeri. Jadi pasangan LDR, komitmen keduanya diuji. Satu tahun pertama, lulus. Enam bulan berikutnya bomnya mulai aktif. Kemudian hubungannya tidak terselamatkan. Bukan karena keduanya tidak lagi ada rasa, hanya saja mereka memang harus berpisah. Singkat kata, asumsikan aja Tuhan tidak ingin mereka bersama

Mau tahu yang lebih miris?

Bintang lagi jaman ujian final untuk blok keduanya di sana. Di tempat yang beratus-ratus kilometer jauhnya dari Indonesia. Di tempat yang beratus-ratus kilometer jauhnya dari sahabat-sahabat terbaiknya.

Apa yang Bintang lakukan?

Galau berkepanjangan?

Hello, pemerintah bayarin Bintang sekolah bukan buat ngegalau waktu musim ujian jengsist.

Jam 12pm, 23 Juni 2014. Tiga puluh satu hari menjelang perayaan anniversary Bintang & Kakak yang ketiga.
Bintang ada presentasi untuk final examnya. Satu kelompok penyaji lagi sebelum giliran Bintang. Tiba-tiba ada pesan masuk. Dari kakak.
Isinya?
Intinya hubungan mereka tidak terselamatkan.
Bintang membeku ditempatnya.
Pikirannya kacau. Dia bersiap untuk maju dan mempresentasikan tugas akhirnya.
Tiba-tiba dosen mengumumkan break 30 menit.

Bintang tersenyum, tubuhnya lunglai.
Ia pergi ke toilet. Menangis sejadi-jadinya.
10 menit sebelum 12.30pm, saya mengetuk pintu, meminta dia bersiap-siap.
"Tang, selesai dulu nangisnya. Nanti dilanjutin lagi."

Bintang membasuh wajahnya dan menyiapkan senyum terbaiknya.
Dengan penuh percaya diri, masuk ke kelas.
Dengan penuh kebahagiaan, menyajikan hasil kerjanya.

Ada wajah-wajah takjub dan haru di kelas kami.
Betapa tegarnya gadis ini.
Pembawaannya yang ceria ternyata penuh kepalsuan.
Baru saja kami menjadi saksinya.

Berbulan-bulan setelahnya nafsu makannya buruk.
Tapi tidak dengan semangat belajarnya.
Tidak dengan antusiasmenya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tidak pula dengan wajah cerianya.

Ia berjuang mengatasi semuanya.
Ia lulus dengan hasil yang memuaskan.

"Master of Science, jomblo. 24 tahun", katanya selalu.
Ia menertawai hidupnya.
Penuh dengan drama. Biarkan saja mengalir. Dari satu episode ke episode lain.
Biar saja.

Sekembalinya ia di Indonesia, tiap kali bertemu kenalannya semua menanyakan hubungannya dengan Kakak. Lagi-lagi Bintang tersenyum, menjelaskan seolah tanpa beban. Seolah tanpa beban tidak sama dengan tanpa beban. Bintang tahu. Orang-orang tak perlu tahu.

Ada pencapaian besar di sana. Ketika ia berhasil mengesampingkan masalah hati demi masa depannya. Dan dia bangga akan itu. Demi orang tua, demi keluarga, demi negaranya.
"I made a promise to him, no matter what happened I should finish my study with a good result," katanya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Entahlah, gadis ini sepertinya mengalami gangguan ekspresi. Hampir selalu ia tersenyum.

Bagaimana rasanya dipisahkan dari seseorang yang begitu memperhatikan kamu?
Tanya Bintang jawabannya.

Hati boleh tersayat habis, tapi ada banyak hati yang berharap akan kesuksesan kamu. Belajar dari
Bintang yang bisa profesional menyikapi masalah hidupnya, maukah kamu berusaha juga?

Untuk kamu yang patah hati,
hatimu sudah sedih karena masalah pasangan, jangan kamu tambah lagi dengan sedih karena masalah nilai.
Biarlah hubungan yang sudah tak terselamatkan itu hancur, tapi studimu masih panjang. Masih patut diperjuangkan.
Percayalah, suatu hari nanti mentari lain akan datang.