Aku baru mengenal cinta ketika aku bertemu denganmu. Sorot matamu yang hangat, candamu yang lebih sering garing daripada lucu, dan nada tawamu yang serupa nyanyian merdu di telingaku. Usiaku baru 17 tahun ketika itu.

Seperti kata lagu "Dancing Queen"; young and sweet, only seventeen.

Kata orang, cinta pertama tidak akan pernah terlupakan. Manisnya, pahitnya, senangnya, sedihnya; semua emosi yang bercampur menjadi satu tidak akan pernah pergi dari ingatan kita. Lagu-lagu yang bersenandung di radio mengingatkanku pada pesan cintamu.

"Kirim salam untuk seorang cewek yang suka banget sama lagu yang satu ini. Moga-moga kamu lagi dengerin ya," begitu pesanmu, dibacakan dengan ceria oleh seorang penyiar radio, yang lalu memutarkan Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu dari Yovie and The Nuno. Kamu menarikku ke halaman belakang sekolah keesokan harinya, dengan malu-malu bertanya apakah aku mau menjadi kekasihmu.

"Jadian, yuk?" katamu.

"Mm. Oke…" jawabku, tersipu malu.

Kita jarang bertengkar. Hari-hari yang aku jalani bersamamu terasa seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan. Setelah sekian lama hanya bisa memandangmu dari kejauhan, dikerumuni oleh teman-temanmu dan gadis-gadis cantik lainnya, akhirnya aku bisa berada di sampingmu. Bukan gadis-gadis itu. Bukan Reta, si ketua OSIS. Atau Ariana, si kapten cheerleader yang cantik. Aku yang kamu pilih. Gadis yang duduk di belakangmu di kelas.

Jadi bayangkan betapa hancurnya hatiku di hari itu, ketika kamu pergi untuk selamanya…

Aku tertawa ketika Roy, sahabatmu dulu, memberitahuku lewat telepon. Kamu kecelakaan, katanya. Kamu terluka parah, katanya. Dan kamu telah pergi untuk selamanya, katanya.

Aku tidak percaya. Ralat, aku tidak mau percaya. Afterall, Roy terkenal dengan hobi bercandanya yang kadang-kadang keterlaluan. Aku pikir itu hanyalah siasat Roy denganmu untuk mengerjaiku. Aku pikir kamu berada di belakang Roy, terkekeh-kekeh geli mendengar suaraku yang kebingungan.

Tetapi Roy tidak bercanda. Dan kamu juga tidak ada di belakangnya, menertawai aku. Kamu telah pergi. Benar-benar pergi, untuk selamanya…

Sepuluh tahun sudah berlalu semenjak hari itu. Hari di mana aku terduduk di lantai, meratapi dirimu yang telah hilang, menjerit menangis sampai suaraku hilang. Banyak orang yang memberitahuku bahwa cinta pertama biasanya tidak akan menjadi yang terakhir. Memang betul, tetapi tidak ada yang pernah bilang padaku bahwa cinta pertamaku bisa direnggut secara paksa dariku seperti itu.

Di hari-hari ketika aku sendiri, terkadang aku terkenang akan masa-masa yang kita lalui. Hanya tiga bulan kita bersama, tetapi memori tentang dirimu tidak pernah pergi. Ketika kupikir air mataku sudah habis terkuras, masih ada saja setetes air mata yang jatuh ketika aku mengingat dirimu.

Untuk kamu yang pergi selamanya, terima kasih karena kamu telah hadir di hidupku. Terima kasih karena kamu sudah mengajari aku tentang cinta, tentang persahabatan, dan memilih aku untuk diriku yang sebenarnya. Suatu hari, mungkin aku akan melupakan bayangmu. Suatu hari, mungkin aku akan lupa bagaimana rupamu. Suatu hari, aku akan menikahi pria lain dan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersamanya. Apapun itu, kamu akan tetap menjadi salah satu bagian yang terpenting di hidupku, dan aku tidak akan pernah melupakanmu.

Untuk kamu yang pergi selamanya. I love you; ten years ago, today, and forever.

'Till we meet again…