Kau adalah teman masa kecil ku. Yang berenkarnasi menjadi kekasih hati ku.

Oh, betapa indahnya masa kecil kita. Bermain dengan hujan, berlari kesana kemari, tertawa lepas itu menjadi rutinitas. Dan, kau selalu ada untuk ku. Ya, kau menjadi ksatria hitam ku. Saat aku diganggu dengan anak bandel itu. Kau datang dan melindungi ku. Mungkin karena usia mu diatas ku 3 tahun sehingga kau bisa dengan mudah menghalau anak bandel itu. Saat tangis ku pecah, kau mencoba menghibur ku. Dasar kau ksatria hitam. Ah, kau selalu cemberut saat ku panggil ksatria hitam. “Apa kulit ku hitam ?” tanya mu dengan polosnya. Dan, aku pun tertawa. Entahlah, mungkin karena kita selalu bersama. Benih-benih cinta itu pun ada. Apa benar itu cinta ? Ya, katamu itu cinta. Masih terekam jelas dalam ingatan. Saat kau menyelesaikan pendidikan putih abu-abu mu. Kau mengungkapkan itu. Perasaanmu. Kau tak mau hanya jadi teman masa kecil ku. Kau tak mau hanya jadi kakak ku. Kau mau aku menjadi kekasih mu. Seseorang yang spesial dalam hatimu. Apa kau ingat ? Pipi ku memerah karena itu. Kau membuat ku seperti kepiting rebus. Dengan segera aku meng-iya-kan permintaan mu. Terlihat jelas kebahagiaan itu. Ah, sayang perasaan ku hangat mengingat hal itu. Sayang, aku merindukan saat-saat istimewa itu. Tak bisakah kita mengulang masa-masa itu ? Sebentar saja, aku begitu merindukannya.

Jarak membuat kita mengerti arti rindu. Rindu mengajarkan kita arti setia. Setia membuat kita paham arti memiliki dan tanggung jawab.

Tepat setengah tahun kita menjadi kekasih. Kau memberi ku kejutan. Ya, kau mempersilahkan ku melihat isi amplop coklat yang kau bawa. Sayang, selamat kau diterima di tempat yang kau ingin kan. Kau akan melanjutkan study mu. Aku mencoba tersenyum dan memelukmu. Tangis ku pecah saat itu juga. Aku beralibi ini tangis bahagia. Namun, aku tak sepenuhnya beralasan ini memang tangis bahagia. Bahagia dan juga sedih. Kau akan meninggalkan ku. Hai, aku sudah terbiasa denganmu. Kau menggenggam erat tangan ku. Kau meyakinkan ku bahwa kita bisa melewati ini. Kau bilang ini demi kebahagiaan kita di masa depan. Aku tak sanggup berkata, aku hanya bisa menganggukkan kepala. Kita mencoba lebih menikmati kebersamaan kita. Toh, waktu terus berjalan. Saat itu tiba, kau harus pergi keluar kota demi study mu. Aku mengantarkan mu sampai stasiun. Aku mencoba tersenyum. Kau, mengingat kan ku. Untuk menjaga kesehatan, sekolah dengan benar. Dan, ku jawab ringan “Aku selalu sekolah dengan benar dan makan dengan tepat waktu,”. Kau tersenyum mendengarnya. Kau mengusap kepala ku perlahan. Hati-hati. Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Kau tersenyum seraya berpamit. Saat ular besi itu membawa mu pergi. Aku ingin menarik mu keluar. Tapi, aku harus kuat ini untuk masa depan kita.

Aku tahu sulit untuk menjalani ini. Tapi, aku telah berusaha. Pertengkaran semakin intens terjadi. Namun, kita tak mau untuk berakhir.

Advertisement

Kau begitu sibuk. Apa kau dengan bidadari lain ? Aku selalu mencoba menghapus pikiran buruk itu. Komunikasi kita sedikit terganggu. Aku marah. Ya, perempuan mana yang tidak marah bila kau seperti siput. Lama sekali kau tak menghubungiku. Aku tak posesif. Mengertilah sayang, aku takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan ksatria hitam ku. Aku takut tak ada yang menyediakan kebahagiaan ku lagi. Namun, kau selalu menenangkan ku. Ah, hangat yang ku rasakan. Walaupun hanya dengan mendengar suaramu. Kau bercerita banyak hal tentang lingkungan baru mu itu. Ya, kau tinggal di asrama yang mengharuskan mu untuk hidup mandiri. Kata rindu tak pernah lepas dari percakapan kita. Kau berjanji untuk mengajak ku jalan-jalan ke tempat perantauan mu itu. Aku sangat bersemangat sayang. Dan, harusnya kau bangun dari tidur panjang mu untuk merealisasikan janji mu itu.

Hari yang ku tunggu saat kau pulang menemuiku. Dan, aku benci saat kau kembali.

Saat kau pulang. Kau selalu membawakan ku buah tangan yang cukup banyak. Padahal, keselamatanmu dalam perjalanan itu lebih dari cukup sayang. Kita mengahbiskan waktu bersama persis sebelum kau pergi merantau. Entahlah, kenapa aku begitu nyaman bila didekat mu. Tak lupa kita selalu mengabadikan momen-momen bersama. Ya, karena pertemuan kita sangat berharga. Kita bercerita banyak hal. Kau menanyakan bagaimana sekolah ku ? Apa aku membawa pulang piala lagi ? Dan, aku menagih janjimu yang akan mengajak ku jalan-jalan. Sayangnya, aku belum liburan. Waktu terus berputar. Itu hal mutlak. Kau kembali. Namun, kali ini aku lebih kuat. Kau tahu hati ku sedikit sakit. Ya, aku selalu merindukan mu. Jadi, saat kau kembali ke paerantauan. Seperti ada yang hilang dariku.

Dua tahun aku bertahan. Dan dengan teganya kau pergi untuk selamanya.

Sayang, masih jelas dalam ingatan. Komunikasi kita yang terakhir. Kau berpamitan untuk menjalankan tugas. Ya, kau menjadi anak buah kapal. Kau bilang setelah ini kau kembali untuk menemuiku. Betapa bahagianya aku. Saat itu pun tiba. Ya, kapal yang membawamu tenggelam. Aku terdiam, aku percaya kau masih ada. Kau bisa berenang ksatria hitam ku.kau masih berjuang di tengah gulungan ombak itu. Aku berusaha menguatkan diri ku. Aku beranjak kerumahmu. Kau tahu ? Ibumu memeluk ku. Tangis ku pecah saat nama mu tidak ada dalam data korban selamat. Dunia bagaikan runtuh. Memori saat kita bersama berputar jelas dalam ingatan ku. Aku menangis didalam kamarmu. Begitu banyak kenangan dan kebahagiaan yang telah kau beri sayang. Aku mencintaimu.

Tak seperti biasanya, dulu kau selalu menjemputku. Namun, kali ini aku beserta keluargamu menjemput mu. Ya, aku bersyukur kau telah ditemukan. Meskipun ragamu tak lagi mampu meyentuh ku.

Sayang, aku datang menjemput mu. Aku mencintaimu sayang. Namun, Tuhan lebih mencintaimu. Tuhan lebih merindukanmu daripada aku. Saat kau disemayamkan. Aku sempat melihatmu. Aku serap baik-baik sosok yang selalu menjaga ku, yang menyediakan kebahagiaan tanpa aku memintanya. Ya, sayang aku ikhlas. Mungkin tugasmu untuk menjaga ku telah selesai. Sayang, tidur yang nyenyak ya. Bolehkah kau minta kepada Tuhan supaya aku saja yang menjadi bidadarimu di surga. Terima kasih sayang telah mengajarkan arti cinta kepada ku. Sekarang waktu ku untuk mencari kebahagiaan. Ya, aku tahu kau melihatku dari surga. Jadi, aku akan tetap bahagia disini. Supaya, kau bisa tidur dengan tenang tanpa terganggu suara tangisku.