Kamu adalah orang yang kupilih. Sosok yang kupercayai dapat menyembuhkan segala luka, menghapuskan semua memori buruk mengenai masa laluku. Kupercayakan rasa sayang ini kepadamu. Aku mempercayai dirimu semampuku walaupun kenangan buruk di masa lalu senantiasa menghantui.

Hati ini selalu bertanya. Apakah kau memang orang yang tepat? Apakah aku tidak akan menyesal untuk kesekian kalinya? Sekelumit keraguan itu pun senantiasa membuatku berpikir dan berpikir lagi. Hati yang sudah teguh kembali menjadi goyah. Trauma di masa lalu membuat langkah kaki yang bergerak maju kini harus tertahan di tempat.

Salahkah aku jika merasa ragu? Aku hanya merasa takut. Takut bila ditinggalkan. Takut jika harus tersakiti. Namun kamu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Kamu mengatakan kepadaku akan mencoba semampumu menjadi sosok yang terbaik untukku hingga akhirnya akupun percaya.

Kubiarkan rasa itu berkembang dengan sendirinya. Kubiarkan hubungan ini terus mengalir mengikuti arus kemana ia akan bermuara. Kupersilahkan kasih sayangmu masuk mengisi kekosongan pada relung hatiku.

Hingga akhirnya aku benar-benar menyayangimu.

Advertisement

Kita bukan anak SMA lagi. Kita sama-sama sudah dewasa. Harusnya kita jalani ini semua secara serius. Mungkin awalnya memang begitu. Kupikir semua ini akan berjalan dengan mudah. Kupikir aku bisa melaluinya bersamamu.

Karena pada awalnya kamu memberikan pernyataan yang nyata seolah-olah kamu sudah siap mengikat hatiku. Bahkan tanpa rasa canggung, kukemukakan rencana masa depan yang kususun jika sudah memiliki pasangan sah nantinya. Karena aku pikir kamu adalah yang terakhir. Kamu adalah orang yang akhirnya ditakdirkan untukku.

Namun kenyataan berkata lain. Nasib sudah berbicara sebaliknya. Cinta yang berseri ini kini harus terbenam jauh ke dasar jurang sakit hati.

Sakit dan getir. Hal itulah yang selalu kurasakan setiap kali merasakan sebuah dilema. Kegagalan dalam suatu hubungan sejujurnya menorehkan luka dan trauma yang membekas dalam ingatan. Siapa yang ingin hubungan yang telah dirajut sedemikian rupa dengan segala asam manis dan bumbu-bumbu percintaan itu harus sirna begitu saja dalam waktu yang cepat?

Sejujurnya aku tidak ingin merasakan lagi pahitnya patah hati untuk kesekian kalinya. Walaupun ada pepatah yang mengatakan jika seseorang sering patah hati, maka hati seseorang itu akan menjadi lebih tegar …

Menurutku itu adalah kebohongan yang besar. Bagaimanapun juga aku ini adalah seorang wanita yang memiliki perasaan. Hatiku tetaplah mudah rapuh walaupun sudah terlalu sering disakiti. Luka yang sudah mengering kini harus terbuka kembali.

Patah hati itu menimbulkan rasa sakit, sakit yang tidak berdarah.

Wahai masa laluku, darimu aku banyak belajar mengenai cinta. Bagaimana cara menghadapi rasa sakit. Bagaimana jika kembali tersakiti. Sejujurnya aku membencimu. Namun aku juga berterima kasih banyak atas segala momentum yang telah terjadi selama ini. Waktu terus bergerak maju. Begitu pula dengan aku dan dirimu.

Kita kini menjadi orang lain tanpa ikatan. Walaupun begitu, jangan lupakan masa lalu kita. Jangan abaikan janjimu agar kita senantiasa berteman dan menjaga komunikasi. Biarkan hubungan lain berkembang di antara kita. Sekalipun kita bukan lagi sepasang kekasih, tapi kita masih bisa bersahabat kan?

Setidaknya hal itulah yang sampai saat ini aku percayai. Cinta tak harus memiliki. Rasa sayang tak harus terbalas. Aku memang bodoh karena masih mengharapkanmu. Tapi aku menyadari bahwa kita ini masih terikat.

Ya, setidaknya persahabatan inilah yang mengikat kita sampai akhir hayat.