Assalamu’alaikum ukhti. Maafkan aku yang masih mengganggu harimu. Waktu memang harus terus berjalan dan aku masih terus belajar tentang hakikat semua ini. Berbagai hikmah dan pelajaran baru telah aku dapatkan dari kisah kita.Ingin rasanya aku bercerita dan engkau temani di setiap ujiku. Berbagai hal telah aku coba untuk menahan inginku agar tak menghalangi jalan bahagiamu. Aku sebenarnya malu dengan diriku ketika harus berbagi keluhan kepadamu, namun entah apa yang membuatku memilihmu sebagai teman bercerita ataukah mungkin itu memang salahku yang tak punya banyak teman atau mungkin memang aku lebih merasa nyaman ketika berbicara denganmu. Sekali lagi aku minta maaf karena kesalahanku yang tak bisa seperti harapmu. Semua itu bukan karena aku tak mau atau tak ingin melakukannya, hanya saja aku dihadapkan pada suatu perkara yang tak bisa aku utarakan dan tak ingin ku jadikan alasan agar kau mau mengerti, namun semua itu menurutku memang lebih baik tersimpan daripada di ungkapkan. Suatu saat ku harap kamu akan mengerti, memahami dan mampu memaknai apa yang mungkin memang sudah menjadi takdir ini. Marah dan bencilah aku bila itu bisa membuatmu lebih baik namun tolong jangan tanya tentang rasa yang ku alami karena sebenarnya akupun tak tahu apa kata yang paling tepat untuk menggambarkannya. Temuilah lelaki yang lebih baik dariku dan terimalah niatan baiknya bila ia memintamu untuk membatunya di dalam mendapatkan ridho ILLAHI. Aku disini telah berdo’a dan menitipkanmu padaNYA, jadi ikutilah kata hatimu dan sertakan ALLAH dalam setiap urusanmu. Engkau kini sudah tak lagi sedekat dulu denganku, maka jagalah dirimu baik-baik dan rawatlah hatimu agar tak terluka oleh kemilau fana yang selalu terpapar menggoda. Mungkin aku akan jarang menghubungi dan menyapamu itu bukan berarti aku membeci atau tak lagi mau peduli. Aku melakukan ini karenatak ingin menjadi penghambat lajumu. Sudah banyak saran yang telah aku sampaikan kepadamu di masa kita. Dan sekarang yakinlah dengan segala keputusan yang telah kau pertimbangkan. Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi selain ALLOH, maka bila kelak terjadi sesuatu kepadamu maka katakanlah:

"Cukuplah ALLOH sebagai penolongku, karena DIAlah sebaik-baiknya penolong".

Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana membayar semua kebaikanmu dan aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga ALLOH menjaga dan melindungimu karena

“DIAlah sebaik-baiknya pemelihara”.

Datanglah di persembunyianku suatu saat nanti bila engkau merindukanku atau engkau ingin menyelesaikan sesuatu yang belum engkau pahami. Disini aku akan mencoba menunggumu semampuku dan berusaha mempersiapkan hal-hal untuk menyambutmu bila suatu saat kau ingin kembali.

Advertisement

Jagalah kuncup tulipku wahai yang terpilih.
Mekarkan ia yang mulai mempercayakan penjagaanya kepadamu.
Aku sadar hanya pengagum yang lemah.
Wahai pangeran yang terpilih, terima dan bacalah pesanku ini.
Haruslah engkau memeliharanya tetap di dalam ridhoNYa.
Mengajar dan membimbingnya menuju jannah.
Rawat dan siramilah ia dengan sesuatu yang ma’ruf.
Dekap dan lindungilah ia di kerajaanmu.
Pimpinlah ia dengan penuh kebijaksanaan dan rasa cinta.
Kelak ku berharap kan melihatnya melampaui anganku.
Jadikanlah ia bunga yang penuh senyum kebahagiaan.
Wahai tulip yang ku kagumi.
Berikanlah kelembutan dan kesejukan pada dadanya.
Jangan biarkan sang pangeran merasa sendiri dalam berjuang.
Jadilah pembantu setianya dalam menggapai impiannya.

Maafkanlah aku yang seperti ini dan terimakasih atas apa yang pernah kau beri.

semoga ALLOH tetap menyertai kita dimanapun kita berada.