Hari ini, tepat di tanggal yang sama dengan tahun lalu, kita memutuskan untuk memulai kisah berdua. Mencoba berjalan beriringan dalam setiap perbedaan yang tak jarang menimbulkan perdebatan di antara kita.

Aku tak menyangka, perkenalan singkat waktu itu membawa kita melangkah sejauh ini. Kita saling menyayangi sambil terus mencoba menerima kekurangan satu sama lainnya. Setiap hari kita lalui dengan sejuta kerinduan dan bertarung dengan keraguan. Hal itu terkadang benar-benar menguras energi kita sehingga tak jarang kita mengeluh ketika dada terasa sesak.

Ingin rasanya berhenti dan menyerah dengan keadaan. Aku benci ketika kita goyah dalam hubungan ini.

“Aku sering meragu, dan aku benci keadaan itu”

Long Distance Relationship atau cinta jarak jauh memaksa kita untuk bersahabat dengan rindu, bercumbu dengan kecurigaan, dan bahkan bergurau dengan keraguan. Namun, memiliku adalah anugerah terindahku.

Advertisement

Kau adalah lelaki yang selalu mengingatkanku bahwa kita tak lebih lemah dari keadaan. Kau selalu menguatkanku saat aku hanya melihat kehampaan dalam hubungan kita. Kau bilang kita hanya sedang berbesar hati membiarkan jarak mengambil bagian dalam hubungan kita agar kita tak lemah oleh perasaan.

Bahkan ketika kesibukan kini perlahan merenggutmu dariku, kau tetap menyempatkan sedikit waktumu untuk mengingatkanku bahwa hatimu tak berubah sedikitpun malah semakin bertambah dalam cintamu. Meskipun, kau tak menggenggam tanganku dan aku tak mengusap peluh lelahmu, kita tetap menyatu dalam cinta ini.

Aku ingat ketika kau memintaku untuk tetap percaya padamu, karena kepercayaanku adalah kekuatan untukmu yang terpisah jauh dariku. Yaaa…Kepercayaan kau jadikan tameng untuk kita berlindung dari kerapuhan hati agar kita tetap berjalan bersama.

“Bahkan kini aku telah bersahabat dengan rindu yang selalu menemani di setiap di malamku”

Kini satu tahun telah berselang. Ceritak kita masih tetap ada. Kita belajar dari banyak peristiwa yang telah kita lalui. Tak jarang pertengkaran singgah dalam hubungan kita. Namun, semua itu hanya membuat kita semakin mampu melihat meski tak nyata, merasa meski hampa, dan melangkah meski tak ada arah.

Tapi, hati kita tetap memberi dari ketidaknyataan, kehampaan, dan ketiadaan. Terkadang aku benci dengan keadaan ini. Aku menyesalkan waktu mengapa enggan memberikan sedikit kesempatan untuk kita bersama, saling bertatap, bercerita, tertawa, bahkan menangis, karena sungguh menyedihkan ketika aku lupa bagaimana caramu bercerita, caramu menatapku, caramu tertawa, dan caramu meluapkan kesedihanmu.

“Kita semakin mampu melihat meski tak nyata, merasa meski hampa, dan melangkah meski tak ada arah, karena hati kita memberi dari ketidaknyataan, kehampaan, dan ketiadaan”

Kini satu tahun telah berselang, cinta pun mengajari kita tentang kesabaran dalam menghadapi dan kebesaran hati dalam menerima. Tetap tenang dan bertutur lembut adalah caramu meredam emosi yang ketika itu mewarnai obrolan kita via telepon.

Setiap kali itu terjadi, seketika air mata menetes. Aku menyesal untuk membiarkan emosi menodai hubungan kita. Kau adalah lelaki yang memperkenalkanku dengan cinta. Cinta untuk tetap bertahan meski sulit dan memahami meski berbeda.

Hari ini, ditanggal yang sama dengan tahun lalu, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyayangimu bukan hanya sebatas kata. Bantu aku untuk terus bertahan, ingatkan aku terus bahwa kita saling menyayangi, dan temani aku terus sampai kita benar-benar tak mampu untuk menemani.

Aku bahagia memilikimu selama setahun ini. Maaf jika selama setahun ini aku hanya membuatmu kesal, aku berbuat semauku, dan aku tak peduli perasaanmu. Tetaplah menjadi lelakiku.

Happy Anniversary sayang ..

Aku mencintaimu…