Tentang bagaimana akhir suatu hubungan, aku rasa dan aku pikir tidak ada yang tahu selain Sang Empunya waktu. Banyak orang yang berharap bahwa apa yang sudah terjalin –satu bulan, satu tahun atau lebih- akan berlabuh kepada ikatan yang hakiki. Maka dengan kesadaran penuh akan saling berusaha untuk mempertahankan jalinan tersebut. Dengan mencoba mengalah, lebih mendengarkan, saling intropeksi maupun merefresh komitmen yang sudah disepakati. Namun benang merah adalah kuasa-Nya.

Hal itulah yang aku ingat. Dengan hal tersebut, hilangnya status “pacar” semestinya tak membuatku atau siapapun memutuskan silaturahmi. Bagaimanapun dengan orang tersebut kita pernah jatuh cinta. Pernah tertawa bersama, saling percaya, saling mengabari dan saling membuat kenangan yang indah. Hubungan itu pun yang pernah membuat masing-masing kita saling tersenyum dan bahagia.

Seperti kisah aku dan kamu. Jalinan kasih yang sudah dua setengah tahun harus pupus. Meskipun kita beberapa waktu sudah mencoba untuk mengkomunikasikan hati masing-masing dan saling instropeksi diri. Beberapa waktu juga hati aku-kamu kembali saling bergandengan untuk terus berjalan bersama. Tapi hati aku dan kamu pada akhirnya memiliki pemikirannya sendiri. Pemikiran untuk jalan masing-masing. Pertanyaan "apakah mantan pacar bisa menjadi teman?" pun muncul.

Tidak dipungkiri bahwa saat keputusan itu yang hadir, rasa sedih dan kecewa sempat memenuhi sang hati. Tapi, cinta adalah anugerah, bagaimanapun bentuk dari cinta itu. Jadi ketika hubungan yang “atas nama cinta” sudah usai, bukan berarti cinta yang ada harus kehilangan semua bentuknya. Karena cinta selalu memiliki bentuk dalam setiap hubungan dan memberikan pilihan-pilihan yang baik.

Dan aku-kamu memilih: untuk kembali berteman.