Sebab, dia adalah sahabat yang kusayangi seperti saudaraku sendiri.

Barangkali ini akan terlihat aneh, tapi aku berharap kau akan menguatkan dirimu untuk membaca tulisan ini sampai akhir. Aku memang bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang kau kenal selintas karena aku adalah sahabat kekasihmu. Bisa dibilang aku juga tidak kenal baik denganmu, hanya tahu sedikit dari cerita-cerita yang dia sampaikan padaku. Namun, kau tentunya tahu bahwa aku dan dia adalah sahabat baik yang telah melewati cukup banyak hal bersama-sama. Maka sekarang izinkanlah aku untuk sekedar mengatakan beberapa hal kepadamu, meskipun tentunya kau telah mengenal dia dengan lebih baik dibandingkan aku.

Aku masih ingat bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya sekitar enam tahun yang lalu, di tempat yang kemudian menjadi tempat tinggal kami bersama selama empat tahun duduk di bangku kuliah. Kesan pertamaku tentangnya menggambarkan keseluruhan sosoknya yang kukenal kemudian: cantik, lembut dan dewasa. Kau tentunya sudah tahu hal itu –atau barangkali malah ada sisi lain dari dirinya yang tidak kuketahui. Kami menjadi sahabat baik sejak hari itu, bukan hanya karena kami satu tempat kos dan satu jurusan di kampus, tapi karena ada beberapa persamaan yang membuat kami bisa berbagi lebih banyak hal: kesukaan pada tulis-menulis dan hal-hal melankolis, misalnya. Kami melewatkan banyak momen bersama: di kampus, di organisasi, di tempat praktik, di tempat KKN, dan akhirnya juga wisuda bersama. Meskipun sekarang kami tinggal di tempat yang berbeda, tetapi persahabatan bukanlah sesuatu yang mudah dikikis oleh jarak antara dua kota.

Aku sungguh sangat bahagia mendengar rencana pernikahan kalian.

Meskipun tidak mengetahui secara keseluruhan, tapi aku sedikit tahu dan pernah melihat bagaimana kalian berjuang untuk bertahan. Aku memang belum menikah dan bahkan pernah berkali-kali gagal dalam menjalin hubungan. Jadi, aku juga tidak akan memberikan petuah-petuah bijak tentang bagaimana agar pernikahan kalian langgeng dan bahagia. Kegagalan-kegagalan yang pernah kualami memberikanku pelajaran bagaimana sulitnya untuk mempertahankan sebuah hubungan dalam waktu yang panjang. Dan kalian adalah contoh dua orang yang bisa bertahan setelah sekian lama, sehingga aku tidak akan meragukan lagi bagaimana kalian saling mencintai. Aku ingat tentang beberapa hal. Bagaimana dia pernah galau tentang restu orang tuamu. Bagaimana dia yang detik ini tertawa riang, bisa murung di detik berikutnya karena kesal padamu. Bagaimana dia pernah menangis diam-diam ketika berbaring tidur di sampingku karena bertengkar denganmu. Bagaimana dia pada suatu sore tiba-tiba memelukku sambil menangis usai pergi mengantarkan keberangkatanmu ke pulau seberang. Aku juga ingat beberapa hal lain. Bagaimana dia terlihat bahagia ketika menceritakanmu. Bagaimana dia senang ketika kau memakai kemeja merah marun kado ulang tahun darinya. Bagaimana dia mempersiapkan kue ulang tahun dan memutarkan lagu kesukaan kalian di hari ulang tahunmu. Bagaimana dia memasak makanan untukmu. Dan setelah hal-hal itu, aku tidak ragu lagi bagaimana kau memang bisa membuatnya bahagia dengan caramu sendiri.

Advertisement

Akhirnya sekarang cinta kalian akan dipersatukan oleh ikatan yang bukan hanya diakui di mata manusia, tetapi juga di depan Tuhan.

Kata orang, pernikahan memang tidak melulu soal kebahagiaan. Tentu ada kalanya ombak dan badai akan datang menerpa, tapi aku tahu kalian akan selalu bertahan. Demi semua hal yang telah kalian lalui bersama, demi semua perjuangan yang telah kalian lakukan untuk bisa sampai di titik itu, jadikan semuanya kenangan yang akan menyelamatkan. Aku tidak akan menitipkan dia kepadamu, tapi aku menitipkan kebahagiaannya di tanganmu. Aku tidak sabar menunggu hari bahagia itu, di mana aku akan ikut tersenyum dan barangkali menangis terharu. Sampai pada hari di mana kalian mengucapkan janji di depan Tuhan, aku hanya bisa mendoakan semoga semua urusan dimudahkan dan kalian bisa menjadi sepasang pengantin paling bahagia di dunia.