Mungkin aku tak paham mengapa aku merindukan hari-hari kedekatanku bersamamu saat dulu, dan entah apalah sekarang hanya sebatas angan belaka?

Dari aku, sosok yang selalu kau abaikan perasaannya..

Di dunia yang luas ini, aku bukanlah wanita yang ingin mencari sosok sempurna selayaknya orang kaya yang memiliki harta banyak atau mobil mewah yang berjejeran di garasinya, juga bukanlah mencari lelaki yang selalu mentraktirku makanan mewah entah dari Meksiko atau Itali.

Semua yang ada, semua yang tersedia tak turut membuatku bahagia, mungkin ya senang tapi tidak lebih dari kata itu. Lalu apa?

Perihalnya menjadi seorang wanita bukanlah perkara mudah bagiku secara pribadi, harus mengerti segala hal, masa depan hingga bagaimana pasangan hidup yang akan selamanya mendampingiku nanti, saat tidur, saat bangun, saat suka maupun duka. Dahulu aku pun tak percaya apa artinya cinta, hingga akhirnya kutemukan dirimu. Kau yang menarik hati dengan paras dan tingkah laku unik membuatku selalu ingin bersamamu. Entah daya tarik apa yang membuatku bahkan ortuku sendiri begitu menyukai caramu memperkenalkan diri.

Advertisement

Tampilanmu mungkin sederhana tapi cukup rapi dan sedap untuk dipandang. Kau tidak begitu tinggi, setidaknya hampir sama dengan diriku ini. Kamu masih ingat kapan kita pertama kali berjumpa, di mana kita mengucapkan salam kenal, bahkan saat kau dengan beranina berkenalan dengan ortuku?

Sungguh terkesima diriku dibuat olehmu. Setelah sekian lama kita berjalan, perasaan yang awal hanya kagum tumbuh menjadi perasaan lebih dari sebatas itu. Apakah ini pertanda kuingin memilikimu? Hingga akhirnya semua itu terungkap. Di matamu aku bukanlah siapa-siapa yang terkesan lebih dari sebatas teman, kau bilang kita hanyalah sahabat, tak pernah mungkin ada rasa antara kita.

Aku tahu, aku bodoh, mendalami perasaan sebelum tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya, aku egois. Aku bermimpi aku bisa bersanding denganmu, tak hentinya kuturut berdoa agar aku bisa memilikimu.

Kau begitu mengerti sebelum aku ucapkan apa yang kurasa, kau cukup paham apa yang kuinginkan, tapi sayang perasaan ini hanyalah sebagian cerita akan dimulainya luka dalam hati. Aku akan terus memendam hingga rasa itu pergi.. Sayang itu hanya sebuah penggalan kisah palsu yang kubuat. Pura-pura aku kuat di depanmu, tiap problem ataupun hal yang membuatku sedih, kuangsurkan kepadamu, dan seketika titik air mata itu turun dari pelupuk mataku, dalam hati aku turut berjuang untuk tidak melepaskanmu dari pikiran ini.

Kau hapus air mataku bahkan dengan maksud memberi sebuah kekuatan agar aku bisa bahagia bersama dengan yang lain, mungkinkah? Aku tetap berjuang menata diri setelah perlahan kau menjauh dari aku, terus berkata aku harus kuat tanpa kamu, menjaga perasaan dan biarkan ia berlalu, karena yang kutahu membuang perasaan pun tak ada gunanya, membuatku ingin kembali ke rangkulanmu yang hangat dirasakan olehku.

Enam bulan berlalu, saat itu pun kau sibuk dengan urusanmu begitu juga denganku yang berkutat dengan dunia perkuliahanku. Kau seakan membuat hubungan antara kita menjadi renggang, tak ada lagi sapaan pagi, ungkapan perhatian bahkan canda tawa yang dulu pernah kita rangkai.

Kini kita kembali dalam sebuah permulaan baru, kau dan aku menjadi sahabat, perlahan kuterima keputusan ini walau terasa berat. Saat ini aku snagatlah berterima kasih padamu, banyak hal yang dapat kuambil dari kisah-kisah kita yang lalu, sejak saat itu aku benar-benar menjadi sosok kuat, cinta bukanlah perihal untuk saling memiliki tapi bagaimana melihat orang itu bahagia walau tak ada kita di sampingnya.

Maafkan aku yang dahulu pernah menyimpan rasa terdalam ini.