Hai, lelaki pemilik senyuman paling teduh, sedang apa di kejauhan sana? Menikmati kopi? Semoga hatimu selalu teduh seteduh kopi hitam yang menemanimu. Seperti biasa, ketika ada rindu yang tanpa permisi mendobrak pintu hatiku, dan ketika tak kutemukan jalan untuk menghubungi untuk mendengar suaramu, aku memilih bercerita panjang lebar tentang perjalananku, perjalananmu, perjalanan kita. Kali ini kusebut cerita ini sebagai sebuah surat, yang kelak jika koneksi internetmu sudah tak payah lagi, kumohon luangkan waktu di sela-sela kesibukanmu untuk membacanya.

Ini adalah hari ke-315 kita memasangkan perasaan menjadi satu.

Tentu di benakmu masih begitu jelas bagaimana 315 hari yang lalu sebuah proses kita lewati dan akhirnya membawa kita pada keputusan untuk saling menerima sebagai sepasang kekasih. Sebuah proses pendekatan yang setiap kali mengenangnya akan membuat perasaan ini menjadi bahagia yang meluap dan terkadang bermuara pada air mata sebagai simbol betapa rindu menguatkan indahnya masa-masa itu untuk dikenang. Masa-masa pendekatan itu begitu indah, begitu nyaman, begitu membuat ketagihan.

Aku mengizinkanmu mengenalku lebih dekat, lebih dalam, lebih berani. Kutampilkan semua usaha terbaikku untuk memantaskan diri agar kau temukan kenyamanan dalam diriku. Perhatian demi perhatian kuberikan, pendapat demi pendapat saling kita tukarkan untuk mengetahui pola pikir dan sifat masing-masing. Mengirimimu pesan singkat untuk mengingatkan makan siang, ucapan selamat hari Minggu, bahkan mulai berani menyampaikan rindu.

Ingat tentang semua itu, bukan? Dan lengkaplah kebahagiaanku ketika segala usahaku membuahkan permintaan darimu agar aku bersedia menerimamu sebagai kekasih. Hatiku bersorak kegirangan. Aku merasa paling bahagia. Aku berhasil menaklukkanmu, membuatmu bertekuk lutut lewat sebuah permintaan. Setelah itu cerita kita mulai berkembang.

Advertisement

Di tengah perjalanan kisah kita, aku mulai lalai.

Hari demi hari, kejadian demi kejadian mewarnai perjalanan cerita kita. Banyak kisah terjadi, berbagai perasaan menghampiri. Tak ketinggalan barisan masa lalu yang masih menyambangi. Atas sebuah alasan agar kau menghargai keberadaan dan perasaanku, aku mulai memainkan begitu banyak aturan. Aku tak suka ini itu, aku kesal pada siapapun yang mencoba hadir mendekat padamu.

Aku menjelma menjadi gadis tak sabar, tak lagi seindah ketika dulu pertama mengenalmu. Hal-hal kecil acap kali kita ributkan. Butuh berhari-hari agar api kemarahan bisa padam. Cepat sekali mengucapkan kata-kata penuh amarah, dan susah sekali memohon maaf satu dengan yang lain. Aku mulai lupa bagaimana gigihnya usaha demi usaha yang pernah terjadi ketika berusaha mendapatkan simpatimu.

Namun lelakiku, tahukah kau bahwa aku sangat bersyukur memilikimu.

Dalam setiap pertengkaran kita, walau terkadang nadamu meninggi terhadapku, di ujungnya tetap saja kutemukan cinta yang penuh ketika kau ucapkan "maafkan aku." Bahkan ketika permohonan maafmu masih juga tak kugubris, kau tetap menghujaniku dengan kasih sayang dan perhatian-perhatianmu. Seakan kau tahu bahwa aku tak pernah puas hanya dengan "maaf."

Satu hal yang sangat kuketahui darimu, kau tak pernah memohon-mohon untuk dimaafkan. Di satu sisi aku begitu menginginkan permohonan maafmu namun aku kagum ketika permohonan maafmu kau sampaikan dengan penuh wibawa. Kau berani mengatakan bahwa akulah yang bersalah dan mendobrak pintu gengsiku. Kau babat habis semua keegoisanku, kau bunuh semua ketidakdewasaanku.

Sungguh lelakiku, aku bersyukur dipertemukan denganmu.

Tak pernah sekalipun kau mengeluh, tetapi justru kau semakin menunjukkan bahwa kau pilihan terbaikku ketika di tengah isak tangis penyesalanku, kau selalu bilang, "jangan menangis, aku tidak marah tapi aku sayang." Ketika aku selalu menuntut ini itu, memintamu menjauhi gadis-gadis tertentu, kau selalu penuh kesabaran menjelaskan padaku bahwa cemburuku membuatmu tak nyaman, namun kau tetap tak mau kehilangan.

Seolah kau melucuti semua sisi burukku namun tak berniat memojokkanku.

Jika engkau adalah lelaki lain, mungkin kau akan merasa telah tertipu.
Kapanpun kau bisa saja menyalahkanku karena ternyata aku tak seindah di awal dulu, namun selama ini tak pernah sepatah katapun kutemukan bahwa kau telah kecewa. Ketika pernah sekali waktu kutawarkan sebuah opsi agar kau melepaskan aku dan memilih saja dari sekian banyak gadis lain di luar sana, itu pertama kalinya aku mengetahui engkau begitu marah.

Aku bersyukur karena Tuhan membuat hatimu sekuat dan sesabar itu. Aku yakin kedua orang tuamu telah berhasil mendidikmu menjadi lelaki berjiwa besar dan bijaksana. Semoga Tuhan memberikan mereka umur panjang agar kelak aku dapat bertemu dan berterima kasih kepada mereka. Entah sudah berapa banyak sikapku yang egois, keputusanku yang menyudutkanmu, bahkan tingkahku yang tak jarang membuat orang-orang di sekitarmu berkomentar miring tentangku.

Namun, engkau adalah lelaki yang kehadirannya akan selalu kusyukuri. Kesabaranmu perlahan-lahan menyadarkanku bahwa aku harus berubah.

Dan pada akhirnya kutemukan hikmah dari ratusan kata maaf yang pernah kuucapkan padamu.
Aku pernah mencoba membayangkan kejadian terburuk, jika suatu saat kau lelah dan berfikir untuk meninggalkanku. Membayangkannya saja sudah membuatku bersedih. Seperti ada rasa hampa yang sangat besar seketika datang menghampiri. Lalu kusadari itu sangat mengerikan. Engkau sebenarnya adalah anugerah yang Tuhan berikan agar aku berubah menjadi lebih baik lagi, memanjangkan sabar, dan membesarkan hati memberi maaf.

Hingga akhirnya lewat surat ini kusampaikan padamu, kau bukan lelaki biasa. Engkau adalah hal luar biasa yang Tuhan izinkan untuk aku miliki. Namun aku tetaplah manusia bergelar wanita, tak akan pernah luput dari salah. Hanya saja ketika nanti kuulangi kesalahan yang sama, kumohon tetaplah luaskan lautan sabarmu terhadapku, dan akan kupantaskan diri untuk sepenuhnya menjadi wanitamu. Lelakiku, kumohon maaf untuk begitu banyak garis hitam yang pernah kutorehkan dalam lembaran kita.

Aku tak ingin sekedar berjanji, namun pasti akan kau temui aku sebagai wanitamu yang lebih baik lagi. Sekali lagi lelakiku, terima kasih untuk cinta yang melekat kuat pada setiap maaf yang kauberikan untukku. I'm proud to be yours.