Cukup mereka saja mama yang bertanya ini itu tentang alasan mengapa aku lebih ingin sendiri sampai saat ini. Aku dapat sangat maklum apapun pendapat mereka tentang aku, karena kurasa mereka tak pernah mengenal aku sebagaimana mama mengenalku. Mama yang sejak aku dalam kandungan sudah lebih dulu mengajak aku membicarakan banyak hal sekalipun aku sendiri belum mampu mengerti tiap katamu.

Bisakah mama sedikit lebih menyederhanakan bahagia? Mendukung apapun keputusanku seperti papa yang selalu berkata iya saat aku ingin merenda karya? Aku mencintaimu mama.. Tak pernah terbersit sedikitpun pikiran dalam benakku untuk tak ingin membahagiakannmu.

Ku mohon percayalah padaku. Aku sendiripun tak ingin selamanya begini. Tapi bisakah mama berikan aku ruang untuk bernafas dan tertawa bahagia dengan tidak mendapat pertanyaan 'kapan kamu menikah?' Bukankah mama sendiri sudah akrab dengan kisahku sebelumnya? Masih ingatkah mama, kalau dulu aku pernah membawa kerumah pria yang dulu sempat membuatku percaya dan berniat menghentikan pencarianku selamanya? Puterimu ini masih cukup terluka mama.

Pernikahan bukan hanya tentang sebuah janji dihadapan Tuhan kemudian menggelar resepsi sekedar untuk membuat dunia tahu bahwa telah ku temukan tempat ternyaman untuk pulang. Tapi ini tentang bagaimana kehidupanku setelah itu. Bisa mama bayangkan, yang akan kupilih adalah dia yang akan bersamaku selamanya, bagaimana bila pada akhirnya aku salah pilih?

Sanggupkah aku menggerogoti kebahagiaanmu dengan cerita pilu bersama dia yang awalnya memberi cinta dengan luar biasa tapi akhirnya membuatku selamanya tak bisa lagi tertawa?

Advertisement

Kumohon, bersabarlah mama! Cinta juga perlu diuji. Yang kucari bukan cuma sekedar suami. Tapi rekan yang dapat diandalkan. Ayah yang hebat bagi anak-anak kami nanti. Dia yang selalu mengajakku bertarung bersama untuk menaklukan dunia. Dia yang tak akan pernah bosan berbicara denganku sampai masa tua kami tiba. Kurang dan lebihku sanggup dia terima dengan lapang dada.

Dia yang akan tetap jatuh cinta padaku saat rambutku memutih, pendengaran, penglihatanku, dan ingatanku memudar. Juga saat mulutku tak cakap lagi memanggilnya sayang.

Bukankah emas yang murni tak akan dengan mudah ditemukan begitu saja? Beri aku sedikit waktu untuk lebih mengenal dia yang datang. Agar aku tahu bukan hanya mampir yang diinginkannya. Tapi juga menua bersamaku adalah impiannya. Lagipula, aku masih punya banyak mimpi yang ingin kuraih dengan tujuan membuatmu dan papa tentunya, tersenyum bahagia.

Tersenyumlah, Mama! Sekalipun dulu aku terluka, bukan berarti aku tak ingin hidupku disentuh oleh cinta. Kelak dia yang paling ku yakini untuk mendampingi akan kuperkenalkan pada kalian. Percaya saja, bahwa Penguasa semestapun tak akan membiarkan aku sendiri selamanya. Bila aku mau sedikit saja bersabar, pasti akan ku temukan dia yang hatinya adalah pintu tempat aku berhenti mencari dan menetap di sana.

Dariku,

Putri pertamamu yang ingin membuatmu bangga.