Hey masa laluku,

Aku datang kali ini bukan untuk mengajakmu menengok yang sudah kita lewati bersama atau memintamu kembali. Aku memang masih belum bisa lupa atau bahkan tak akan pernah lupa bagaimana saat kau merajam tubuhku dengan pisau yang kau bawa. Aku juga masih bisa merasakan perihnya luka yang belum juga mengering dengan sempurna. Tapi perlu kau tahu, sedikit demi sedikit aku sudah mencoba menyapa lukaku, mengajaknya bercengkerama dan memintanya untuk segera mengering. Aku juga sudah berjabat tangan dengan setiap episode kehidupan yang pernah aku lalui denganmu.

Hey masa laluku,

Aku tak akan pernah lupa bagaimana saat kita terbang berdua menuju kebahagiaan yang kita inginkan. Aku juga tak akan pernah lupa bagaimana saat kita sudah di atas awan dan dengan sengaja kau memotong salah satu sayapku hingga aku terjerembab jatuh dengan tubuh bersimbah darah. Masih teringat jelas di benakku, aku bisa melihatmu mengajak terbang sosok lain dan meninggalkanku yang sedang menjerit kesakitan. Entah kau memang tak mendengar jeritanku ataukah telingamu sudah mulai tuli karena kata-kata manis dari sosok barumu itu.

Hey masa laluku,

Advertisement

Kau dan dia memang masih menjadi topik utama setiap sesi perbincanganku denganNya. Pelupuk mataku seringkali masih basah tiap kali aku mengadukan tentang kalian padaNya. Darahku masih berdesir hebat ketika dalam terpejamnya mataku tiba-tiba aku melihat dengan jelas bagaimana kalian melempar lumpur dengan aroma tak mengenakkan ke arahku. Amarah seringkali membanjiri hatiku setiap kali aku mengingat bagaimana kau berpaling padanya tepat di beberapa belas hari sebelum kau seharusnya mengucap ikrar suci di sampingku.

Hey masa laluku,

Tak akan aku lupakan tiap penggalan cerita yang sudah pernah kita lalui. Tak akan ada rasa sesal yang aku ungkapkan setiap mengingat semuanya. Tak akan ada rasa dendam yang aku tanam dalam hatiku. Tak akan lagi aku mengingat semua penghianatan terhebatmu itu dengan rasa sesak yang terlalu dalam. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Aku sudah menjanjikan bahagia pada diriku lebih dari janji manis yang pernah kau ucapkan padaku dulu. Aku hanya akan duduk dengan tenang agar bisa melihat bagaimana waktu mempermainkan kalian seperti saat kalian mempermainkan hatiku dan harga diriku sekaligus keluarga besarku sekarang.

Hey masa laluku,

Nyeri ini masih akan tetap menjadi nyeri. Percayalah, segala peristiwa yang kalian ukir akan menjadi relief di masa depan. Relief yang bisa di saksikan oleh anak cucu kalian kelak dengan sebuah peristiwa yang menceritakan bahwa moyang mereka pernah mengukir tubuh orang lain dengan pisau tajam lalu pergi dengan tawa yang kencangnya melebihi suara petir. Terima kasih sudah mengajarkanku tentang cara berkhianat dan cara merebut yang bukan milik. Dari cara kotor yang kalian lakukan, aku benar-benar bisa belajar banyak hal dan bisa mengajari putra-putriku kelak untuk tak berlaku bodoh dan menginjak harga diri orang lain seperti yang kalian lakukan padaku dan keluarga besarku sekarang.