Simbah kakung atau mbahkung, beliau biasa dipanggil. Beliau bukanlah veteran pejuang ataupun orang keren yang pernah muncul dalam catatan sejarah. Beliau juga tidak pernah jadi orang penting di desa, kecuali ngemong anak-anak kecil yang suka datang ke rumah. Tapi beliau selalu ada dalam cerita dan kisah kami, anak dan cucunya.

Mbahkung tidak punya kondisi fisik yang sempurna. Sejak kecil, beliau kesulitan berjalan karena kakinya kecil sebelah. Awalnya hanya badan yang panas, lalu kaki yang lemah tidak bisa berjalan. Setelah panasnya sembuh, ternyata pertumbuhan salah satu kakinya tidak normal. Orang desa tanpa pengetahuan yang memadai soal kesehatan mana tahu itu penyakit apa. Paling-paling hanya memanggil dukun atau semacamnya untuk memberikan pijatan atau urut. Mungkin kalau orang zaman sekarang akan menyebutnya polio.

Tidak ada yang pernah tahu kapan persisnya mbahkung lahir. Mbahkung Cuma bilang, mengalami masa kecil saat tentara bermata sipit itu ada di negeri ini. Ya, mungkin sekitar akhir tahun 1930-an atau awal 1940-an.

Tumbuh di desa yang sama sekali belum mengenal listrik atau apapun, mbahkung tidak bisa membaca huruf latin. Ya, anak kecil yang kesulitan berjalan itu lebih banyak di rumah. Berlarian di pematang sawah, memanjat pohon kopi, menyeret turun pelepah daun kelapa yang kering apalagi memanggul rumput untuk kambing, menjadi hal yang terpaksa dilewatkan.

Alih-alih melakukan banyak kegiatan di luar, mbahkung kecil lebih sering melakukan pekerjaan rumah. Hal yang sebenarnya sangat jarang dilakukan oleh anak-anak laki-laki di desa kami. Ketika kemudian satu per satu adiknya lahir, mbahkung kecil pun terpaksa harus merelakan dipan terbatas di rumah untuk adik-adiknya. Ia sendiri kemudian menyingkir dan lebih banyak menghabiskan malam di mushola kampung. Satu-satunya tempat yang bisa dengan mudah didatangi oleh anak laki-laki tanggung yang terpaksa menyingkir dari rumah saat adik-adiknya lahir.

Advertisement

Tumbuh dan menikmati masa kanak-kanak hingga remajanya di mushola, mbahkung jadi punya kesempatan belajar baca tulis. Sekali lagi, bukan huruf latin. Karena memang belum ada yang bisa membaca dengan huruf latin saat itu. Hanya huruf Arab gundul tetapi dalam bahasa Jawa. Sayangnya, saat ini yang masih bisa menulis dan membaca huruf Arab gundul dalam bahasa Jawa tinggal mbahkung seorang. Tidak ada yang benar-benar serius untuk mempelajari atau mewarisinya, sayang.

Beranjak dewasa, pria manapun tentu mengharapkan untuk bisa bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi kemudian mbahkung menikah dengan mbah putri yang usianya terpaut cukup jauh darinya. Bersyukur mbah putri adalah orang paling legawa yang pernah ada. Keterbatasan yang dimiliki mbahkung dimakluminya dengan tanpa ragu membantunya bekerja. Dan ternyata, ketujuh putra dan putri mbahkung dan mbah putri pun tumbuh dengan baik.

Saya lahir sebagai cucu pertama bagi mbahkung dan mbah putri, tidak berselang lama dengan tante terkecil saya. Dan meski hanya setahun sekali pulang saat Lebaran, saya dengan adik-adik sepupu tumbuh dalam dekapan mbahkung yang hangat. Tidak jarang kami dininabobokan dengan hafalan-hafalan surat pendek. Saya sendiri sering tertidur sambil menemani mbahkung membaca Al-Quran sambil dielus-elus oleh mbah putri. Meski tidak punya latar belakang pendidikan yang luar biasa, mbahkung selalu menanamkan pada putra-putri dan juga cucu-cucunya, tentang pentingnya belajar agama. Dan lagi, tidak hanya anak dan cucu sendiri saja, masih ada beberapa anak kecil tetangga yang datang untuk belajar, lantaran sekarang mbahkung semakin kesulitan jika harus memaksakan diri datang ke masjid kampung.

Di usia yang nyaris 80 tahun, mbahkung masih sehat dan bugar. Meski sekarang tidak bisa lagi lincah kesana kemari dan butuh tongkat untuk berjalan. Meski matanya masih harus disambung kaca mata lensa tebal, suara serak mbahkung masih terus terdengar melantunkan ayat-ayat Al-Quran sepanjang hari.

Hingga kini, ada satu kebiasaan mbahkung yang sangat sulit untuk kami tiru, puasa. Sepanjang tahun, Cuma dua hari raya saja dan hari-hari haram puasa, mbahkung tidak puasa. Tidak ada sahur atau apapun, kecuali secangkir wedang gula merah atau teh hangat yang menemani mbahkung sahur. Dan hingga kini pun, mbah putri masih setia mempersiapkannya. Kalau dipikir, itu artinya mbahkung Cuma makan sehari sekali. Sebuah cara sederhana untuk sehat. Mbahkung tidak pernah punya penyakit serius apapun selama selalu berpuasa selama ini.

Ada dua keinginan besar yang sebenarnya ingin saya wujudkan soal mbahkung dan mbah putri. Ingin bisa mengantarkan mbahkung dan mbah putri mencicipi bersujud di lantai depan Ka’bah, dan melihat mbahkung mengajari buyutnya membaca Al-Quran. Saya masih punya hutang rupanya, untuk memberikan mbahkung dan mbah putri buyut #ehe

Mbahkung dan mbah putri bukan orang keren ala pejuang atau veteran. Pun bukan orang dengan harta melimpah yang selalu siap membantu banyak orang. Juga bukan orang tua yang banyak mewarisi harta untuk putri-putrinya. Karena sudah cukup, mereka adalah simbahku yang keren.

Semoga kisah ini pun nantinya, bisa sampai pada buyut, canggah, udeg-udeg, gantung siwur dan urutan berikutnya ya, Mbah!