Tepat satu minggu yang lalu. Semenjak kepergianmu untuk mewujudkan segala mimpimu; semenjak aku memilih untuk menjauh darimu. Aku masih disini mencoba menghapus luka; aku masih berusaha untuk memungut segala macam kenangan yang ada diantara kita. Aku yang sedang berusaha untuk baik-baik saja tanpamu. Namun nyatanya hingga detik ini pun aku masih tidak baik-baik saja.

Hingga kini aku masih bersembunyi di balik senyum palsu dan kalimat-kalimat bijak.

Maaf aku hanya sedang mengenangmu saat ini; maaf memang aku yang memilih pergi dari hidupmu. Bukan tanpa alasan, aku pergi karena sebuah ketidakjelasan hubungan. Aku memilih pergi karena menunggu pun juga ada batasnya. Apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti?

Aku menyerah bukan karena perasaan ini telah hilang. Justru dengan aku pergi, aku ingin menyelamatkan hatiku dari rasa sakit yang terlalu dalam nantinya.

***

Advertisement

Dengan sedikit ketidakiklhasanmu hingga akhirnya kamu melepaskanku. Dan tepat satu minggu yang lalu kamu memutuskan untuk pamit. Pamit untuk menggapai asa, mengejar impianmu untuk membahagiakan keluargamu. Setidaknya kita berakhir bukan karena orang lain.

Ah, tidak. Maaf, aku tidak bermaksud berpikiran negatif tentangmu. Kamu masih ingat? Kamu selalu bilang jika selama ini yang kamu katakan tidak pernah bohong dan kamu selalu tulus denganku. Aku tak pernah menanggapi hal itu, dan mungkin sekarang aku ingin katakan bahwa aku selalu percaya dengan apa yang kamu katakan.

Kamu ingat? Saat kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk bercengkarama lewat telepon, kita selalu membicarakan dan menertawakan segala sesuatu yang tak penting.

Kita berdua pernah sangat bahagia.

Kamu yang tahu aku; bahwa aku adalah seorang penakut dan kamu selalu menggodaku dengan segala leluconmu. Kamu yang selalu berusaha membuatku tertawa saat hati ini sedang gundah. Kamu yang selalu mengajarkan semua hal baru yang sebelumnya tak pernah aku pelajari.

Kamu ingat di pertemuan terakhir kita kamu bilang, “Kamu sangat bahagia bisa seru-seruan denganku?” Namun aku tak memberi jawaban. Dan sekarang mungkin sudah terlambat untukku menjawab kalimatmu itu bahwa aku lebih sangat bahagia dan bersyukur dihari itu kita bisa menghabiskan waktu berdua.

Di pertemuan terakhir kita, apa kamu masih ingat? Begitu eratnya tanganmu menggenggam seakan memberi isyarat bahwa kita tak akan pisah? Kita lupa bahwa setiap pertemuan pasti akan menemukan ujungnya; yaitu perpisahan.

Maaf jika aku menyebutnya pertemuan terakhir, karena nyatanya kamu memang ditakdirkan hanya untuk sekedar mampir.

Lebih tepatnya, kamu seperti pelangi: datang begitu cepat kemudian menghilang begitu saja. Maaf jika pada akhirnya aku yang terlebih dulu melepaskanmu terlebih dulu, sekali lagi aku hanya ingin menyelamatkan hatiku dari segala ketidakpastian.

Mungkin saat ini kamu sudah sangat sibuk dengan pekerjaanmu; dan aku? Sekali lagi aku masih berusaha menata hidupku. Aku juga akan mengejar segala impianku. Aku tak ingin terlalu sibuk mengenangmu. Segala kesedihan ini pasti akan ada akhirnya.

Kita sama-sama tahu bahwa jika kita berjodoh di dimensi yang lain, kita akan bertemu kembali dengan pribadi yang lebih baik lagi. Namun jika takdir berkata lain, aku akan mengenangmu sebagai seseorang yang telah membawa setengah hatiku ikut pergi, aku akan mengenangmu sebagai seseorang yang sangat berarti untukku

Ingat selalu pesanku: jaga kesehatan dan jangan suka memberi harapan berlebih dengan semua wanita.

Jangan mencoba mengetuk hatinya jika kau tak ada niat untuk menetap dan mengikat.