Apa kabar?

Hai perempuan yang kini hatinya sedang dijaga oleh pria yang dulu kusebut priaku. Apa kabar? Tentu harimu menyenangkan, bukan? Jelas. Karena kamu sedang dekat-sedekatnya dengan pria itu.

Hari ini, ku beranikan diri untuk mengirimimu surat yang (mungkin tidak) akan sampai ke tanganmu. Tapi izinkan aku menyampaikan beberapa hal.

Aku tahu sosokmu, meski tanpa mengenalmu.

Aku tahu sosokmu. Perempuan cantik nan ayu, lembut, selalu menutupi aurat dengan sempurna dan selalu ditemani oleh kaos kaki. Sungguh, aku sangat mengagumi sosok perempuan seperti itu. Baiklah, akan ku ganti kata “priaku” dengan “priamu” mulai dari sekarang.

Advertisement

Kamu juga tahu sosokku, meski tanpa mengenalku, bukan?

Kamu tahu 'kan aku? Aku adalah perempuan yang pernah menemani priamu selama tiga tahun lebih. Dari mulai dia sedang lucu-lucunya dan sekarang beranjak dewasa. Dari mulai bangku Sekolah Menengah dan kini bangku Perguruan Tinggi. Dari mulai pemakai kendaraan umum dan kini memakai kendaraan pribadi.

Apa kamu bisa merasakan?

Apa kamu tahu rasanya diusir secara kasar oleh pria yang sudah menemani bertahun-tahun? Apa yang kamu lakukan setelah hari buruk itu? Menangis? Menutup diri? Mengurung diri? Berusaha membenci pria itu? Ya, itu yang aku lakukan.

Hari-hari berlalu, dan aku mulai menata kembali serpihan-serpihan hatiku. Aku mulai menata kembali hidupku. Sendiri.
Kemudian datang pria yang menawarkan kebahagiaan untukku. Tapi demi menjaga perasaan priamu, aku menolak.

Harapanku Makin jauh Sekarang

Ku kira yang aku lakukan akan sebanding dengan yang ku dapatkan. Tapi ternyata tidak. Priamu tidak menjaga hatinya untukku! Dia tidak melakukan apa yang aku lakukan; menolak jika ditawarkan kebahagiaan.

Sudah berapa banyak cerita yang kalian ukir? Aku yakin akan mengalahkan cerita dan kenanganku bersama priamu dulu. Kamu tahu? Hal yang paling tidak ingin ku dengar akhirnya terjadi. Kabar bahwa kamu dan priamu semakin dekat bukan rahasia lagi.

Siang tadi aku beranikan diri menyapanya kembali untuk mengucapkan selamat atas penemuannya, yaitu kamu. Setelah mengeluarkan semua isi hatiku, priamu ini memberitahuku beberapa hal.

Apa kamu ingin tahu? Aku yakin kamu ingin tahu.

Priamu berkata, dia masih menyayangiku. Perasaannya tidak berubah sama sekali. Tidak ada kenyamanan selain dariku. Aku adalah satu nama yang selalu dia sebut dalam doa. Dan kamu tahu apa yang aku rasa? Ya! Benar. Aku senang, aku bahagia mengetahui hal itu. Air mata yang telah ku keluarkan berjam-jam seketika mengering.

Hei, jangan sakit hati! Jangan sedih! Ayo baca lagi.

Semakin lama kami bercerita, semakin banyak hal yang ku tahu. Salah satunya tentang kamu! Iya, kamu. Dia bilang dia masih menyayangiku, tapi dia tidak mau perasaanmu tersakiti. Dia ingin menjaga hatimu. Sejak kapan priaku–eh priamu bisa bersikap seperti itu? Kamu hebat! Kamu telah merubahnya menjadi sosok yang tak ku kenal.

Tapi coba kamu pikir, untuk apa dia bilang hal yang membahagiakan jika akhirnya kecewa yang kudapat? Coba kamu pikir untuk apa dia menyakiti perasaan orang yang katanya dia sayangi demi menjaga hati orang baru?

Ya, aku kecewa. Ternyata dia lebih memilih menjaga hatimu daripada hatiku yang katanya orang yang dia sayangi. Bisa kamu pikirkan, mengapa dia lebih memilih menjaga hatimu? Ya, dia ingin mencoba hidup yang baru denganmu.

Di percakapan kita, dia sering membawa-bawa Allah, persis seperti lelaki sholeh. Bukan 'seperti', tapi 'semoga' saja dia sudah menjadi seperti apa yang diucapkannya. Mungkin kamu telah mengajarinya banyak hal.

Dia sudah memutuskan, dia memilihmu. Bukan aku.

Aku perempuan. Kamu pun. Meskipun kamu dan aku berbeda tapi kita ditakdirkan untuk saling merasa. Ya, aku tahu rasanya menjadi perempuan yang selalu ada yang selalu menawarkan kebahagiaan untuk pria yang hatinya ada diperempuan lain. Aku pernah merasakan itu, dulu, bersama priamu.

Jika akhirnya dia bisa mencintaiku dan menyayangiku, aku yakin kamu pun bisa membuatnya mencintaimu dan menyayangimu kemudian perlahan menghapus namaku dihatinya.

Kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan pernah mengambilnya dari tanganmu. Seperti yang selalu priamu katakan, aku harus mulai membuka hati untuk orang lain yang lebih baik dari dia. Oke, akan kucoba. Aku yakin jika dia ditakdirkan untukku, dia akan kembali padaku dan jika bukan, akan kita temukan orang yang tepat menurut-Nya.

Semoga kamu dan priamu hidup bahagia.

Hiduplah bahagia. Jangan lepaskan dia. Jaga dirinya.

Dariku,
Perempuan yang pernah mendampingi priamu.