Empat tahun lalu, aku dekat denganmu, ini bukan pertama kalinya aku mengenalmu. Saat itu aku mengenalmu lebih jauh, bukan hanya tentang kau, tentang hidupmu, hobimu, kesukaanmu, tapi juga keluargamu. Semua berjalan sangat baik, sesuai dengan yang aku harapkan.

Aku tau saat itu aku bukanlah seseorang yang kau harapkan hadir di dalam hidupmu, ada seseorang yang istimewa yang kau harapkan hadir di sana mengisi setiap relung hatimu, mengisi kekosongan setiap sudut hati yang sulit rasanya untuk kusingkirkan.

Aku tak pernah bermaksud untuk menghilangkan dia di dalam hidupmu, aku hanya berusaha menjadi diriku sendiri dan berharap kau bisa melihat semua usahaku dan pengorbananku. Sampai akhirnya suatu ketika, aku merasa bahwa harapanku telah menjadi kenyataan. Detik, menit, jam hari, dan bulan kita lalui bersama. Kita sering menghabiskan waktu bersama, hampir setiap saat kau selalu ada.

Bahagiaku tak bisa diungkapkan saat itu, seakan aku lupa tak seharusnya kucurahkan semua perasaanku untukmu.

Tahun berjalan semua masih terlihat baik-baik saja, dan semakin baik rasanya aku tak lagi malu mengungkapkan perasaanku. Aku tak lagi sungkan untuk mengenal keluargamu lebih jauh. Entah itu khayalan atau kicauan entahlah, kita sudah sering membahasnya dulu, kapan kita akan menikah, kapan kita akan memiliki rumah, kita akan punya anak berapa, kita akan tinggal di mana, kita akan membangun dan memulai dari mana. Saat itu hanya ada kata KITA bukan aku dan kamu.

Advertisement

Satu hal yang selalu kuingat, entah itu janji atau hanya menenangkan saja, entahlah kalimatmu takkan pernah aku lupa "kita kan mulai semuanya setelah aku lulus kuliah" aku tak tau apa kau masih mengingatnya atau tidak. Atau kau akan berkata "aku tak pernah mengatakan itu". Yang pasti saat itu aku sangat,sangat, sangat percaya sepenuhnya denganmu. Hampir aku tak melihat keburukanmu, aku bahkan tak percaya denga gosip murahan yang kuanggap menggaggu telingaku.

Kau memberikanku banyak mimpi saat itu, aku percaya, aku berharap dan aku siap menerimamu menjadi suami dan ayah dari anak-anakku. Kau bawa aku ke keluargamu, ya walaupun itu hanya sekedar perkenalan biasa tapi aku menganggap tak mungkin rasanya seorang lelaki memperkenalkan teman wanitanya ke keluarganya jika tidak ada niat yang baik untuk dibawa ke masa depan, dan kau juga sudah dekat dengan keluargaku. Mereka semua menerimamu dengan tangan terbuka tanpa ragu.

Setelah aku lulus kuliah aku semakin yakin, aku akan membangun mimpi dan hidup bersamamu. Kumulai dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangku, ya alhamdulillah Allah masih mendengar semua doaku dan aku memintamu untuk kita sama-sama menabung demi masa depan yang baik yang telah kita impikan dan akan kita rajut bersama di bawah atap yang sama, dengan penuh kasih sayang begitu harapanku saat itu.

Jarak memang menjadi penghalang antara aku dan kau, aku pikir kau bisa mengerti dengan yang kulakukan. Bahwa apa yang kulakukan bukan hanya untuk diriku tapi juga untuk masa depan kita. Beberapa bulan aku bekerja di sini, semakin bahagia rasanya, aku sudah mulai bisa menabung untuk masa depan kita, pikirku saat itu. Aku sama sekali tak mempermasalahkan profesimu, bukan kah kita sudah pernah membahasnya? Kau tetap ada di porsimu dan aku di porsiku? Masih belum cukupkah itu kita bahas?

Beberapa kali aku menanyakan padamu tentang status hubungan kita akan diteruskan ke mana? Tapi aku tak pernah mendapat jawaban yang pasti darimu, semuanya hanya ada kata NANTI. Aku mulai berpikir ke mana perginya yang sering kau ungkapkan dulu. Aku mencoba menghibur diri sendiri, dan menenangkan hati ku, "mungkin kau belum siap atau mungkin kau bosan dengan pertanyaanku yang terus bertubi-tubi dan itu-itu saja".

Bukan aku tak percaya kepadamu, sebagai wanita aku hanya ingin menginginkan kepastian dari seseorang yang memang kutunggu selama ini.

Sampai suatu hari, beberapa bulan yang lalu aku menerima telpon dari seorang wanita yang mengaku kekasihmu. Aku mencoba tenang dan tidak meluapkan kemarahanku. Setelah dia berbicara dari ujung sana, dia menceritakan semuanya tentang kalian. ya Allah, apa ini? Aku hampir tak bisa berpikir lagi rasanya. Semua nya keluh, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku mencoba diam, dan membendung air di pelupuk mataku. Tapi, aku tak mampu akhirnya semuanya pecah hari itu juga.

Aku hampir tak percaya, kau yang sangat kupercaya tega melakukan itu. Aku di sini bukan main-main. Semua yang kulakukan ada tujuannya. Ya Allah, aku tak percaya ini. Saat semua itu kutanyakan padamu, kau hanya menjawab dengan tenang "itu bukan siapa-siapa, jangan di dengar", segampang itu kau bicara, sebenarnya apa maumu?

Yang semakin membuatku tak habis pikir, kau sanggup memutuskan semuanya tanpa berbicara denganku. Di tengah perjalananku pulang aku menerima pesan mu, yang luar biasa sakitnya kurasa. Pesanmu hanya berisi "kau tak perlu menunggu aku, carilah yang lebih baik", lagi-lagi aku tak menyangka kau sanggup melakukan itu. Tak taukah kau aku menjaga semua ini empat tahun lamanya, inikah akhir yang kau berikan?

Tak bisa ku ungkapkan kecewa ku, marahku aku masih tak percaya yang melakukan itu adalah kau. Orang yang selama ini aku tunggu. Aku hanya bisa diam untuk meredam kecewaku.
empat tahun bukan waktu yang singkat, untuk kita saling mengenal dan bukan waktu yang sebentar untuk di lupakan begitu saja.

Jika kau tanya saat ini seperti apa perasaanku terhadapmu, aku memang masih menyayangimu. Ya, sayang itu masih tersimpan rapi di sini, tak akan di usik dan takkan hilang. Tapi aku takkan ingin kembali, sama sekali tidak.

Tak ingatkah kau dengan semua kenangan yang sudah kita lalui empat tahun bersama? Jujur aku merindukan kenangan kita, di mana aku selalu bisa melihat senyum indahmu. Tapi sayang yang kumiliki, masih bisa melihat kenyataan bahwa kau bukan yang tepat untukku.

Aku berharap kau menemukan seseorang yang tepat, yang paham akan dirimu.

Jika kau baca tulisan yang tak seberapa ini aku hanya ingin mengatakan, aku harap kau sadar, kau tau, kau mengerti, dan kau paham dengan keputusanmu, semoga keputusanmu tidak salah.

Semoga kau bisa tau apa yang kulakukan untukmu selama ini tulus tanpa syarat.

Untuk pertama kalinya kukatakan padamu, pergilah. Jangan datang di kehidupanku lagi, entah untuk apapun itu karena aku tak mau punya urusan denganmu lagi. Aku sudah ihklas kau bukan yang terbaik buatku.

Terima kasih telah memberikan warna di kehidupanku dan buatmu kekasihnya, tolong jangan usik kehidupanku, dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu yang tak seharusnya kau tanyakan padaku, jangan kau cari dia padaku jika dia tidak ada. Dia kekasihmu, bukan?