Aku pernah berkali-kali menitihkan air mataku, entah di depanmu atau saat kamu tidak ada di sampingku.

Aku pernah beberapa kali memandang wajahmu karena tahu, aku akan segera kehilanganmu.

Aku pernah bersumpah tidak akan memejamkan mataku demi melihat kamu tertidur di sampingku.

Aku pernah menangis diam-diam saat berada dalam rengkuh pelukmu.

Aku tidak pernah tidak memikirkanmu, sekalipun kamu telah berkali-kali menyakitiku.

Advertisement

Aku pernah mencintaimu begitu tulus.

Aku pernah bersumpah bersedia mengorbankan apapun saat kamu berada di sampingku.

Aku pernah begitu bodohnya berpikir tak apa jika kamu menduakanku, asalkan kamu tetap di sisiku.

Aku pernah merendahkan harga diriku demi memintamu tetap bersamaku.

Tapi kamu menganggap murah perasanku.

***

Aku berantakan saat itu.

Aku tidak lagi melihat aku.

Aku tidak lagi menjadi diriku.

Sedih, kecewa, marah.

Semua itu berdiam di hatiku.

Kamu dan semua rasa sakit itu.

Mengendap tepat dihatiku.

Aku benar-benar berjuang agar berada di titik ini.

Aku mengerahkan semua tenagaku agar pikiranku duduk di atas hatiku.

Dan kini, ketika aku sudah berada di titik ini.

Aku merasa kamu mulai datang mengingatkan kembali rasa sakit itu.

Kamu seperti dengan sengaja hendak merobohkan tembok pertahananku.

Tapi tidak semudah itu; pikiranku sudah membetengi hatiku.

Hatiku sudah cukup dewasa; memintaku mendengarkan apa yg ada di otakku, bukan apa yg ad di dalam dadaku.

Bersenanglah dengan siapapun itu, jangan kembali jika hanya untuk meninggalkan luka.

Karena sakitku telah mengajarkanku untuk lebih waspada.