Untuk rindu yang tak tersampaikan, apa kabar? Aku masih mencari kabarmu, menanyakan kepada temanmu, atau sekedar bercerita kepada temanku. Kau tidak merasakannya ya, tak apa, biar aku saja. Dulu, kita melepas rindu dengan bertemu, atau sekedar menelpon, ataupun dalam ruang chat yang penuh dengan kata-kata romantis yang siapapun membacanya akan membuat hati terbang melayang.

Kini, rindu hanya terpendam dalam hati, dan tak terbalas. Sungguh, aku merasa hari-hariku kini kacau karena rindu, ada apa dengan diriku? Aku memilih untuk meninggalkanmu, tapi aku masih tetap rindu. Aku meninggalkanmu bukan berarti aku ingin benar-benar meninggalkan, aku hanya ingin diperjuangkan. Dan kenyataan tak sesuai harapan, kau pergi meninggalkanku juga, menghilang bagai ditelan bumi.

Mengapa? Mengapa akhirnya menjadi seperti ini? Apa kau tidak akan menyesal meninggalkanku dan hanya membawa kenangan saja? apa kau akan bahagia tanpa aku? jujur, aku selalu mengkhawatirkanmu, disetiap hariku, aku selalu memikirkan apa yang sedang kau lakukan.

Sebelumnya, sebelum pertengkaran kita, mengapa kau tidak mencegah aku pergi? Aku hanya ingin ditahan, mencoba untuk memastikan kau benar-benar akan mempertahankan dan memperbaiki keadaan. Mengapa kau tidak selalu mencoba meyakinkanku? Tentang apapun masalah yang kita hadapi akan diselesaikan dengan baik? Mengapa selalu diakhiri dengan pertengkaran dan kata perpisahan?

Jika pun kesalahan ada pada diriku, seharusnya kau memberitahuku dan aku akan mencoba merubahnya demi kebaikan, dan jika kesalahan ada pada dirimu, kau pun sama harus merubahnya agar demi kebaikan pula. Tetapi, mengapa kau selalu mengulang-ngulang kesalahan yang kau perbuat kepadaku? Aku hanya terlalu lelah karena itu. Ketika ada pilihan diantara harus meninggalkanmu atau berdebat denganmu, aku tak ingin keduanya.

Advertisement

Tak bisa kah hubungan dibuat baik-baik saja? Mengapa harus ada perdebatan hingga berakhir perpisahan? Aku hanya ingin bahagia denganmu, tak lebih. Mengapa kau tidak selalu mengerti? Aku wanita yang tak banyak menuntut, tetapi mengapa kau meninggalkanku? Aku rindu, aku rindu dalam diam. Bagaimana bisa rindu itu terucap sedangkan dirimu telah pergi meniggalkan. Aku rindu.

Untuk rindu yang kini tak tersampaikan, sedang apakah dirimu? Aku tak bisa berhenti merindukanmu, memikirkanmu, membayangkan wajahmu. Apa kau juga begitu? Merasakan apa yang kurasa? Sepertinya tidak. Kau tidak mencariku, atau bahkan bertahan sebelumnya, sebelum kata perpisahan terucap. Aku hanya tak bisa membayangkan ini semua terjadi begitu saja, tak ada perjungan, atau sekedar menahan diriku.

Apa kau merasa akan mendapatkan wanita yang lebih dari diriku? Padahal selama ini akulah wanita yang bertahan disisimu, berada di sampingmu. Aku wanita yang menemanimu, apa kau lupa? Mengapa bisa kau semudah itu melupakanku? Mengapa tak pernah ingin berjuang? Aku hanya ingin menjadi wanita teristimewa untukmu, mengapa kau tak pernah membuatku merasa teristimewa?

Akhirnya kini benar-benar berakhir, aku yang tak bisa berbuat banyak hanya bisa merindukanmu dalam diam. Rindu yang tak tersampaikan kini hanya terpendam didalam hati, jauh di lubuk hati.

Dari wanita, yang pernah kau perjuangkan sebelumnya.