Kawan seperjuangan di pulau orang, maafkan aku yang kadang kekanak-kanakan. Bukan maksudku begitu, hanya saja terkadang aku merasa kamu tak paham. Padahal di balik semua yang kamu lakukan, tak didasari rasa ingin memanfaatkan. Kamu jadi tempatku mengadu di kala hati gelisah karena dikecewakan orang. Kamu yang selalu aku repotkan dengan hiruk pikuk masalah rumit yang menghadang.

Di balik semua rasa pengertianmu, aku tahu ada lelah yang tak tersampaikan. Kamu tak akan pernah tega membuat sobatmu ini kecewa karena keluhan.

Menjadi bagian hidupmu di perantauan membuatku sadar arti sebuah persahabatan yang lebih dari sekedar penumpah lelah, namun juga kawan suka dan duka. Denganmu, kuceritakan hampir segala kisah hidupku. Padamu, aku merangkai khayal tentang cita-cita. Kamu setia mendengar tanpa bosan ocehan dari orang yang sama macam aku. Beruntungnya aku memilikimu. Aku ingin kamu pun merasakan hal yang sama. Semoga kita bisa saling melengkapi selalu.

Ingatkah bagaimana awalnya kita bertemu?

Sahabatku yang kini sedang jauh menghabiskan waktu liburan di kampung halaman, coba ingat-ingat hari di mana kita dipertemukan. Di ruang administrasi pembayaran kampus. Kamu dan aku sama-sama sedang diceramahi pihak administrasi karena belum melunasi pembayaran. Wajah kita sama-sama khawatir karena tak bisa menyelesaikan Kartu Rencana Ujian. Ya, karena merasa senasib, kita saling menguatkan padahal belum ada jabat tangan.

Bukan karena sama lantas kita berteman akrab.

Ya, bukan karena kita seagama, satu ras, atau seuniversitas. Namun entah mengapa, insting menyatukan timbul tanpa sengaja. Ternyata kamu tak hanya manis di awal saja. Kamu benar-benar manis di sepanjang waktu, bahkan hingga sekarang dan nanti.

Senang dan duka memang sudah kita lewati. Ujian juga tak luput dari proses kita saling memahami.

Advertisement

Bukan hanya kampus yang punya jadwal ujian. Kita pun sudah berkali-kali diuji oleh Tuhan. Kamu pasti ingat masa-masa sulit harus meluluhkan kerasnya hatiku. Memang banyak orang tahu sekaku apa aku. Pernah dulu aku salah paham padamu, mengira kamu memanfaatkan dan tak pengertian. Aku menghindar hingga beberapa saat. Tak hentinya kamu mengucap maaf karena tak pernah tahu bagaimana kabarku.

Kamu khawatir jika ada kata atau perlakuanmu menyinggungku. Setiap saat kamu mencoba menghubungi layaknya polisi yang sedang mencari napi. Tapi kamu tak kunjung mendapat respon dari aku yang terlanjur salah mengira. Maafkan aku. Ternyata kamu tetap bertahan menjadi teman meski tahu bagaimana kakunya aku.

Meski sendiri datang kemari, setidaknya ada kamu yang bisa kugandeng ke sana-sini.

Jika sekarang kamu belum datang, mungkin aku tak akan betah menghabiskan sisa waktu di perantauan. Karena bagiku, kamu pengganti ibu. Kamu bisa mengenali aku dan tahu kebiasaan dan inginku. Kamu sudah seperti rumah. Kapan saja aku butuh, sudah pasti kamu ada meski tak selalu bisa bersama.

Saat liburan panjang datang, kamu ikut sibuk menyiapkan perlengkapanku. Kamu rela repot memastikan aku pulang tanpa beban.

Kamu rela mondar-mandir membantuku mengemas barang. Mengantarku melengkapi apa yang kurang. Kamu mungkin tak merasa direpotkan, tapi aku melihat kamu begitu kelelahan. Dari pagi hingga petang, kamu disibukkan oleh kegiatan tahunan macam ini. Kamu benar-benar soulmate terbaikku di sini. Terimakasih. Memandangmu ketika mengantarku pulang adalah hal yang sungguh tak menyenangkan. Aku takut merindukanmu. Aku takut kita lama tak bertemu.

Aku takut jika kamu lupa rasanya mengerti aku. Tapi kamu meyakinkanku. Kini, aku bisa pulang dan tentu tanpa beban.

Kini, aku sangat paham bagaimana persahabatan bisa bertahan. Hanya perlu ketulusan dan pengertian. Selebihnya, biar berjalan sebagaimana alurnya.

Kamu sudah berkorban dan kamu sudah menunjukan bahwa kamu adalah sahabat yang pantas diperjuangkan. Kamu bisa mengandalkanku, begitu pula aku yang tentu bisa mengandalkanmu. Kurangku bisa kau lengkapi dan aku berusaha membantu jika kamu menghadapi masalah. Aku harap, kamu bisa selalu begini. Meski waktu tak selalu ada di tengah kesibukan yang melanda. Tak perlu lagi ragu dan risau atas ketulusanmu.

Jika kamu tak baik, maka sudah sedari dulu kamu meningalkanku. Ujian itu bukan sia-sia namun jadi bukti kita memang sahabat yang setia.

Kawan seperjuangan, seberapa jauh jaraknya, kamu masih tetap di sini. Di hatiku.

Aku rindu perhatian kecilmu padaku. Aku rindu kata semangatmu. Aku rindu kamu. Aku menyimpan banyak cerita suka duka dari kampung halaman untuk kubagi denganmu. Berharap kamu bisa tahu dan mengomentari. Tunggu aku kembali. Tak lama lagi.