Sudah sekitar 19 tahun kita saling mengenal, memang bukan waktu yang singkat bukan? Di awal perkenalan kita masing-masih masih sama-sama malu, namun lambat laun kita semakin akrab dan sering bermain bersama, dari mulai monopoli, congklak, bekel, kadang kau ikut bermain masak-masakan. Tak terasa waktu kian cepat berlalu, kita pun beranjak remaja. Apa kau masih ingat masa-masa SMA kita dulu? Kita sering berangkat sekolah bersama walau sekolah kita memang berbeda. Dan kita memiliki sebuah buku yang selalu bergiliran diisi seusai pulang sekolah yang kita namakan “buku curhat” dan didalam buku itu kita selalu bertukar cerita apa yang kita alami seharian penuh. Buku ini juga sebagai media komunikasi kita jika kita jarang bertemu.

Aku tak menyangka diam-diam kau menyukaiku sejak saat itu

Waktu memang berputar begitu cepat, antara kau dan akupun tumbuh besar bersama. Aku masih ingat benar saat itu setiap hari kau mengirim sms dengan inisial setiap harinya dan jika aku susun kata itu menjadi kalimat “aku sayang kamu”. Aku begitu shock membacanya karena belum lama itu aku baru saja jadian dengan teman di sekolahku.

Pertengkaran hebat mulai terjadi

Sejak saat itu kau menjadi berubah padaku. Menjadi diam, acuh, dan tak mau lagi melihat ataupun berbicara denganku. Tak ada lagi tawa, keceriaan yang slalu menghiasi hari kita. Kemudian kita tidak berkomunikasi entah berapa lama, hingga aku pun sudah berpisah dengan pacarku waktu itu dan kemudian kembali menjalin kasih lagi dengan teman sekampusku. Mungkin cukup lama aku menjalin kasih dengan teman sekampusku, namun ternyata aku di duakan. Awalnya aku berusaha menutupi ini darimu, namun akhirnya aku menceritakan semuanya padamu. Aku masih sangat ingat kau sangat marah saat mengetahui semuanya dan kemudian berjanji akan menjagaku.

Advertisement

Restu itu sulit di dapatkan meskipun kita berjuang sekuat tenaga

Kita mulai dekat kembali, sering jalan bareng, bercanda, dan tertawa lagi. Hingga akhirnya aku tau bahwa ternyata kau masih menungguku. Akupun memutuskan untuk berjalan denganmu, membuka hati, meskipun tanpa komitmen yang disebut “pacaran” karna kita berdua pun tau bahwa hubungan ini tidak bisa direstui oleh kedua keluarga, terutama keluargamu, ibumu dengan alasan karna kita berdua bertetangga. Namun pada akhirnya sepintar-pintarnya kita menyembunyikan akhirnya ketauan juga. Maaf karna aku kau dipaksa memilih antara aku atau keluargamu. Dan aku pun tau kau pasti memilih keluargamu, aku tau itu keputusan yang berat. Aku berusaha menyakinkan keluargamu & kita berjuang bersama-sama meraih restu itu namun akhirnya selalu nihil.

Dan akhirnya kita memilih jalan kita masing-masing

Kita mungkin tak mendapat restu jika kita berpacaran tapi hubungan kita tetap direstui sebagai sahabat. Saat ini kita memang berjalan dengan hidup kita masing-masing. Namun kita masih bisa bertemu, saling bertukar cerita walau mungkin pertemuan itu sangat jarang sekali karna kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku lihat saat ini kau bahagia dengan wanita yang begitu mencintaimu dan ditahun ini kau akan mempersunting gadis pujaan hatimu itu. Tapi aku masih duduk sendiri karna hubungan percintaanku yang selalu berujung perpisahan.

Terima kasih untuk segalanya, sahabat

Aku selalu berdoa agar kita berdua sama-sama bahagia karna aku tau rencana Tuhan selalu yang terbaik untuk kita. Karena terkadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik juga menurut-Nya. Saat ini aku hanya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih karna selalu menjadi orang yang slalu ada, tak pernah bosan mendengarkan celotehan curhatanku, selalu memarahiku jika aku salah dan mengarahkanku ke arah yang lebuh baik. Terima kasih pria penyabarku, terima kasih sahabat.

Dari aku, Sahabat masa kecilmu