Jarum jam terus bergeser dari satu angka ke angka berikutnya. Tak bisa dikalkulasi secara pasti, sejak kapan kita memilih dekat, lekat, kemudian menyematkan status sahabat. Sebab segalanya mengalun begitu saja tanpa ada penanggalan masehi yang ditandai sebagai "hari sahabat". Berkali- kali kita selalu menghabiskan waktu bersama. Menjelajah berbagai wisata, memanjakan lidah dengan berburu kuliner, berkelakar mengenai apapun, hingga tak jarang kita saling menertawakan kebodohan masing- masing. Betapa semua itu bernilai mahal dan tak bisa dibeli dengan rupiah sebesar apapun.

Namun keakraban itu kini lenyap dan diganti dengan jarak yang ada. Iya, kita rupa orang asing yang tak pernah berjumpa. Jujur saja, aku tak ingat pasti penyebab semua ini. Aku hanya tahu kau sangat berbeda dari semula dan aku (mungkin) kecewa. Sebab tiba- tiba kau menjelma menjadi manusia perasa yang tak tertandingi (atau jaman sekarang dikenal sebagai baper) hingga aku merasa takut denganmu, leluconmu juga aneh mirip mengumbar rahasia yang pernah aku ceritakan padamu, beberapa kali kau membuatku malu di hadapan orang banyak, selanjutnya kau lebih menyukai berada di antara laki- laki dan mengesampingkanku. Aku pernah menegurmu secara halus, tapi kau mengabaikannya. Aku pernah meminta maaf jika memang segala perubahanmu bersumber dariku, tapi kau hanya mengangguk pelan.

Ah, mungkin benar kata orang bahwa tidak ada kehidupan yang mulus, pun itu perihal persahabatan. Perselisihan, pertikaian, makian akan selalu muncul di sela- selanya. Mungkin juga benar kata orang bahwa setiap manusia bisa berubah dan tak sama dari sebelumnya. Hingga akhirnya sedahsyat apapun perih dan kecewa, hanya satu yang selalu aku coba ingat dan ingin kupertahankan : kita adalah sahabat. Sekalipun kini sifatmu masih seperti itu dan kau tampak nyaman berada di jarak yang telah tercipta, aku akan belajar untuk memahamimu dan perubahanmu, belajar mengalah dan terus menjaga, belajar untuk selalu memiliki inisiatif menyapa dan meminta maaf, mengerti jika mungkin kau memang membutuhkan jarak tersebut ada untuk sebuah ketenangan, dan aku selalu berdoa mengharapkan hal- hal baik datang padamu. Terakhir, dari hati yang teramat dalam aku merindukanmu, semoga kau tahu..