Memiliki sahabat sepertimu merupakan anugerah terindah bagiku. Kau bagaikan seorang kakak bagiku yang hidup sebagai anak tunggal, meskipun umur kita hanya berbeda beberapa bulan. Sayangnya, kebersamaan kita berakhir ketika kelulusan yang membawa kita berada di jalan persimpangan. kita memasuki dunia yang berbeda dan dipertemukan dengan orang-orang baru.

Kehidupanmu yang berada diasrama membuat kita jarang bertemu. Namun aku tetap mengunjungimu untuk mengobati rasa rinduku padamu dan bahagia rasanya ketika aku bisa menjumpaimu walaupun harus menghadapi satpam yang super galak. Tapi tahukah kamu? momen yang paling aku tunggu itu ketika kamu menghubungiku. Walapun sesaat, tapi itu sudah menjadi suntikan semangat yang luar biasa bagiku yang sedang mengalami masa terpuruk.

Namun setelah kita berada di jenjang yang lebih tinggi, kehidupan kampus, jarak kita semakin menjauh. Bedanya kita lebih sering bisa berkomunikasi. kamu selalu bercerita tentang teman-temanmu hingga kehidupan kampus yang membuatmu harus ekstra sabar karena berada ditengah orang-orang yang berbeda keyakinan.

Dan aku lega ketika mengetahui bahwa kamu memiliki teman. Seiring waktu kedewasaan kita, persahabatan ini semakin memudar. Meskipun kamu sering bercerita tentang kehidupanmu, tapi aku selau tidak memiliki peluang untuk mengungkapkan 5 hal ini:

“Aku sedang tidak mendramatisir. Hanya saja aku menemukan jalan bagaimana aku mengungkapkannya padamu”

Advertisement

Mungkin kelihatannya aku terlalu mendramatisir keadaanku. Seperti yang kamu tau, aku orang yang sulit mengungkapkan apa yang ingin aku ceritakan. Hingga akhirnya aku menemukan jalan yang kelihatannya seperti alur sebuah drama. Namun, itulah cara yang bisa aku lakukan.

“Aku selalu mendengarkanmu, tolong untuk saat ini saja, dengarkan ceritaku”

Aku rela menjadi tempat sandaranmu ketika kamu lelah, meminjamkan bahu untuk kamu menangis, dan bahkan aku telah berjanji untuk mengulurkan tanganku ketika kau terjatuh. Namun setiap aku bercerita, curhatan itu hanya menekam di kotak pesan. Padahal aku sangat membutuhkan dorongan darimu agar aku bisa lepas dari jeratan yang menyakitkan ini.

“Bukannya aku tidak mau hadir ke acara wisudamu. Tapi aku masih belum berani bertemu denganmu”

Luka dimasa laluku belum sembuh sepenuhnya. Sehingga membuat aku tidak percaya diri bertemu denganmu. apalagi hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang menguji kesabaranku. Namun, bisakah saat ini kau mengulurkan tanganmu? Aku sudah kehilangan kekuatan dan sangat membutuhkanmu.

“Aku rindu dengan sapaanmu, pelukanmu, dan suaramu”

Sapaan yang biasa aku dengar, sudah menghilang entah kemana. Ketika aku bercerita, kamu malah bercerita tentang teman-temanmu, padahal disaat itu aku membutuhkan saranmu. Aku juga rindu momen ketika kita berpelukan setiap kali berpisah, seakan meninggalkan pesar tersirat “kau akan baik-baik saja”. dan aku juga ingin mendengar suaramu lagi.

Mungkin aku belum bisa menjadi sahabat baik yang bisa melebihi teman-temanmu. Namun, bisakah kita memperbaiki hubungan persahabatan yang hampir mencapai 9 tahun ini?