Sebelumnya tak pernah terbesit rasa ini, membayangkannya pun tidak, sama sekali. Namun tak dapat dipungkiri, rasa seorang manusia memang tak bisa ditebak. Hati manusia terlalu lemah untuk dapat mengelak perasaan yang ada.

Berawal dari sebuah perkenalan dalam bingkai yang mengatasnamakan pengabdian. Aku mengenalmu sebagai teman, begitu pun sebaliknya. Kita bertemu di waktu-waktu tertentu, sekedar bertatap muka, saling menyapa, dan sesekali berbicara. Sudah cukup begitu saja.

Seiring waktu berlalu, entah mengapa aku merasa nyaman saat berkomunikasi denganmu. Seakan ada dorongan dalam hati, hingga tak ku sadari aku mulai memperhatikanmu secara diam-diam. Gaya bicaramu, lelucon konyolmu, senyummu, dan sorot matamu selalu menjadi objek yang tak luput untuk ku perhatikan. Aku takut jika semua hal yang kulakukan itu menumbuhkan rasa yang tak wajar kepadamu. Rasa yang mungkin membuatmu tak nyaman denganku, jika kamu mengetahuinya. Sebisa mungkin, ingin ku menepis perasaan ini. Menjadikannya perasaan yang biasa-biasa saja.

Aku termasuk wanita yang sulit untuk jatuh cinta. Namun ketika aku sudah merasa nyaman, ku akui rasa cinta bisa tumbuh begitu saja tanpa memandang siapapun orangnya dan bagaimana latar belakangnya. Mungkin hal inilah yang sekarang ku alami terhadapmu. Tak kupungkiri, ada rasa yang berbeda. Aku mulai memikirkanmu dalam lamunanku. Muncul rasa bahagia ketika kita tak sengaja bertatap muka. Menyiratkan suatu perasaan, yang entah itu nyata atau fatamorgana. Aku merasa malu ketika kita memulai untuk saling berbicara dan berkontak mata. Namun, sesegera mungkin harus aku sadari bahwa perasaan ini hanyalah ilusi semata, mungkin hanya sebatas rasa kagumku terhadapmu. Tak lebih dari itu.

Perasaan cinta memang tak dapat ditolak, tetapi setidaknya bisa dikendalikan. Tak pantaslah aku mengotori perasaan cinta yang suci ini dengan keegoisanku sendiri. Aku tak ingin terlalu berambisi dan seolah memaksakan diri. Aku tak ingin rasa ini berimbas melukai hati.

Advertisement

Saat ini aku hanya bisa memantaskan driku, dan mendoakanmu dalam diamku. Harapku, semoga Sang Pemilik Cinta selalu menjaga dan melindungi kita dari perbuatan yang sia-sia yang mengatasnamakan cinta. Baik-baik ya, kamu. Seseorang yang semoga ditakdirkan untuk menyempurnakan separuh agamaku dan membimbing langkahku menuju jalan yang diridhai-Nya.