Aku menulis ini sebelum tahu seperti apa sosokmu. Aku hanya tahu bahwa kamu adalah suami terhebat, yang memang Tuhan berikan padaku. Suami paket lengkap, yang bisa menjadi teman, sahabat, kakak, adik, bahkan seorang Ayah sekalipun. Suami yang selalu bisa membuatku berhenti menangis saat aku dilanda kesedihan. Dan, kamu adalah suami yang bisa menjadi teman bertengkar yang paling aku rindukan.

Suamiku…

Sungguh aku mencintaimu. Kamu selalu sabar saat mendengar keluh-kesahku. Rengekanku. Hingga, tawa lepasku. Kamu rela aku pinjam pundaknya untuk aku bersandar. Kamu rela aku pukul di saat aku sedang kesal. Tapi, kamu juga sosok yang paling tegas di saat aku melakukan kesalahan.

Suamiku, sekali lagi aku katakan, tulisan ini aku tulis memang spesial untukmu. Aku menulisnya di saat aku belum tahu bagaimana wajahmu. Bagaimana sifatmu. Bagaimana cara kamu memperlakukanku. Bagaimana cara kerja kerasmu untukku dan keluarga kecil kita. Bahkan, untuk terpikirkan bagaimana pertemuan kita saja, belum. Aku menulisnya saat kamu masih dalam impian dan di saat kamu masih terlihat kabur dalam bayangan.

Suamiku tersayang,…

Advertisement

Kamu di antara triliunan pria yang menghuni dunia ini. Dunia tahu, jika kamu adalah sosok pria biasa saja. Dunia bahkan tahu, jika kamu seperti pria yang tidak jauh dari pria kebanyakan yang menghuninya. Pria normal. Pria yang mengagumi seorang gadis dan mengajaknya untuk "berpacaran".

Suamiku…

Aku menyadari, aku tidak jauh baiknya dari kamu. Aku tidak mau munafik. Aku 'memaklumi' kesalahan yang sama-sama kita lakukan di masa lalu. Aku takkan menghujatmu. Karena, aku bukan Tuhan. Aku takkan menghakimimu. Aku tekankan lagi, karena 'AKU BUKAN TUHAN. Aku tidak memohon pada Tuhan untuk dikirimkan seorang suami yang sempurna. Tapi, aku memohon pada-Nya untuk dikirimkan seorang suami yang bisa berhijrah ke arah lebih baik bersama-sama menuju arti 'kesempurnaan' itu sendiri.

Suamiku, yang aku lihat kamu telah berubah. Berubah menjadi sosok yang lebih baik. Bukan dari orang lain, tapi…dari dirimu sendiri di masa lalu.

Biarkan masa lalu menjadi pemanis. Tidak ada kamu yang sekarang tanpa adanya kamu di masa lalu. Yang aku sukai adalah kamu yang sekarang, tanpa mengusik masa lalu. Yang aku cintai, adalah kamu di masa sekarang, bahkan di masa depan yang aku tidak pernah tahu kamu akan menjadi seperti apa.

Kata orang mencintai itu terjadi tanpa alasan. Ya, aku setuju. Hanya saja, saat aku bertemu kamu. Aku sedikit berubah haluan. Kataku kini... ternyata mencintai itu perlu alasan. Satu alasan. Seperti aku tahu, alasanku mencintaimu karena kamu begitu mencintai Allah lebih dari kamu mencintaiku, dengan kamu selalu berhijrah ke arah yang lebih baik lagi.

Suamiku….
Anna ukhibu fillah

-Your wife before meet you-