Hai, "MAMA" !!
Mungkin agak canggung sebutan itu ku ucapkan.
Apa kabar mu disana ? Di tempat yang tak ku tahu keberadaannya.
Tak terasa ya, 21 tahun kita tak pernah berjumpa.
Perjumpaan yang tak pernah terjadi bukan dihalangi sebuah tahap akhir kehidupan yang sering disebut orang dengan kematian.
Perjumpaan yang tak pernah terjadi 21 tahun ini karena keegoisanmu dan keegoisan pria itu, pria yang kupanggil Papa.

Sejak pertengkaran hebat antara kalian berdua, kau mengambil keputusan bodoh untuk melangkah pergi meninggalkan putrimu dan pria yang kau bilang egois itu yang seperti "binatang".
Apakah tak ada sedikitpun niat di dasar lubuk hatimu untuk datang mencari sosok yang dulu kau sebut malaikat kecilmu?
Sosok anak kecil yang tak berdosa, sosok yang kau tinggalkan tanpa ada sedikit rasa ragu.
Sosok yang kau tinggalkan tanpa pernah kau berfikir bagaimana kehidupannya setelah kepergianmu nanti sosok yang seharusnya masih berada dalam dekapan seorang ibu.
Kau meninggalkan sesosok anak kecil yang bahkan belum bisa untuk berbicara, bahkan menyebut kata "mama"-pun masih belum fasih.

Banyak hal yang terjadi dalam hidupku, yang tumbuh sebagai anak broken home.
Rasa iri kepada teman-temanku yang dengan leluasa berbagi cerita bersama sosok mama.
Rasanya menyakitkan sekali saat aku memasuki masa pubertasku yang pertama. Disaat anak perempuan yang lain menangis dan bercerita tentang perubahan fisik mereka kepada mama mereka masing-masing. Aku hanya dapat berbaginya dengan sosok nenek yang bertanggung jawab penuh atas diriku semenjak kepergianmu.
Dimana dirimu, saat aku merasakan indahnya jatuh cinta untuk pertama kali, dan menangis karena patah hati yang pertama?
Apakah rasa rindu tak sedikitpun singgah dihatimu?
Atau jangan-jangan kamu sudah lupa bahwa kamu memiliki seorang anak perempuan?
Sekarang sosok yang pernah menjadi malaikat kecilmu sudah bertumbuh menjadi gadis dewasa.

Mungkin dulu aku masih bisa menangis saat mengingat dirimu,
tapi sekarang untuk berharap kau datangpun aku tak ingin.
Aku tak pernah membencimu, karena aku tahu itu dosa terbesar.
Tapi sekarang, aku sudah cukup mengerti kerasnya hidup tanpa sosok mama.
Jadi, rasanya jika kau ingin kembali sekarang, rasanya terlambat.
Karena rasanya tak berguna lagi kau datang dimasa sekarang ataupun dimasa yang akan datang.
Karena aku sudah terbiasa memikul segala beban dengan bahuku sendiri tanpa merengek meminta pelukan seorang mama sebagai obat rasa sakit akan kerasnya hidup.
Aku sudah terbiasa hidup tanpa sosok seorang mama.

Mungkin sekarang kau sudah bahagia dengan keluarga barumu.
Jika suatu hari nanti kau benar-benar merindukanku,
pikirkan kembali jika kau ingin mencariku.
Karena, kupastikan jika aku takkan bisa mengenalimu.
Karena bayangan wajahmu sudah benar-benar hilang dari ingatanku.