Aku yang sedang lelah untuk memperjuangkanmu.

Sepertinya aku sudah sampai di ujung. Bukan ujung jalanku, karena jalan yang ku lalui ini belum menemukan ujungnya Namun ujung batas kekuatan dan kesabaranku.

Aku yang selama ini memperjuangkanmu, akhirnya aku merasakan lelah dan ingin beristirahat di sini. Namun tak ku dapat apa-apa di sini, tak ku lihat apa yang ingin ku lihat. Ini bukan tujuanku, ini bukan tempat yang pas untuk bersinggah.

Aku ingin terus berjalan kearahmu, namun hanya lelah dan sakit yang aku rasakan.

Aku berada dikebimbangan. Antara harus berhenti dan melanjutkan jalanku. Aku sudah sangat lelah dan ingin berhenti. Namun, jika berhenti tentu tak ku dapat apa yang selama ini ku perjuangkan. Tapi jika aku berjalan lagi rasanya percuma, hanya lelah dan sakit yang ku rasakan. Toh belum tentu juga tempat tujuanku sesuai dengan yang ku dambakan.

Advertisement

Aku ingin berjalan mundur, kembali ke belakang, tapi tentu tidak bisa. Jikapun bisa dan aku lakukan, aku hanyalah seorang yang pengecut dimataku sendiri.

Aku hanyalah seorang lakon, yang mengikuti jalan cerita Sang Sutradara.

Aku berhenti sejenak. Jika boleh meminta aku ingin dibukakan jalanku yang lain. Jalan yang lebih cepat dan bukan lelah yang ku rasakan di perjalanan. Namun, apalah aku ini, hanya lakon yang harus mengikuti sutradaraku. Yang tak boleh banyak meminta dan menolak aturannya.

Aku hanya percaya dan yakin Sang sutradara tak mungkin menjebakku di cerita ini. Sang sutradara akan membuat cerita yang bagus dan akhir yang indah untuk para lakonnya.

Aku berharap ketika perjalananku selesai, kamulah tempat umtukku menetap.

Akhirnya ku lanjutkan jalanku. Sang sutradara sepertinya berhasil menyemangatiku. Aku berharap aku segera menemukan ujung perjalananku. Dan akan ada tempat menetap di sana, meskipun itu bukan kamu.