Bagaimana bisa kumiliki rindu bila rasanya sesakit ini? Sesak tak berujung, perih tak tertahan. Perlahan lahan menggerogoti hati, mengakar didalam jiwa menyebar keseluruh indera.

Aku ingin berlari, menjauh dari kenangan kenangan yang membangkitkan rasa sakit ini. Tapi, seakan hati ikut berkhianat dengan logika, tetap kudapati aku masih stuck di memori lama, terbuai dengan keindahan keindahan di masa lalu.

Ayah, ini aku putri kecilmu yang kini sudah dewasa, sudah berusia 20 thn. Sesuai keinginanmu, aku tumbuh menjadi gadis mandiri. Terlalu mandiri hingga aku tak pernah membebani orang dengan masalahku sendiri. tapi namanya hidup pasti akan menghadapi masalah kan yah? Aku ingin ayah tau bila aku hampir gila memendam sendiri setiap masalah yang kuhadapi, aku kelimpungan mencari jalan keluar dari masalahku sehingga sering kali berakhir dengan obat-obatan karena fisik yang tak sekuat hati bersandiwara.

Aku tumbuh menjadi introvert karena trauma masa lalu, sadar bahwa tak akan ada yang abadi.

Pada akhirnya semua akan pergi, bila bukan aku yang ditinggalkan mungkin aku yang akan meninggalkan. Semua memiliki akhir, semua memiliki ujung, karna begitulah hukum alam.

Advertisement

Aku hanya mencegah terlalu banyak lubang di hati ketika nanti akhirnya aku harus melepas. Aku belajar ikhlas ketika tak ada ayah di sisiku di setiap ulang tahun yg kulewati. Aku ikhlas saat melewati tahun baru tak ada ayah diantara kami juga ketika aku harus melewati hari hariku dengan senyum palsu sekedar membuktikan bahwa aku kuat. Aku ikhlas dengan semua itu ayahh. Tapi aku membencimu untuk beberapa hal. Aku benci ketia melihat ibu berjuang sendirian untuk biaya hidup kami, aku benci tak ada yang mendampingi ibu di pertemuan-pertemuan keluarga kita. Aku benci menyaksikan bukan ayah yang mengantar kakak kakakku ke altar di hari pernikahan mereka. Aku benci melihat tatapan iri kakak ketika menyaksikan temannya di didampingi keluarga utuh di hari wisuda nya kemarin. Aku benci untuk setiap air mata yang kusaksikan diam diam disetiap malam ibu, terlebih aku benci bersandiwara dengan kepura puraan tak peduliku.

Namun, bagaimana bila sebenarnya benciku hanya pelarian dari kata kecewa karena kini engkau tak dapat kurengkuh? Aku hanya bersembunyi dibalik kata benci untuk menutupi kerinduan yang sudah mendalam.

Aku merindukanmu, melebihi kata rindu yang terucap..rindu tak bertepi yang ku halau sepenuh hati.

Maaf, aku belum mampu merelakan yang sudah terjadi.