Hai, Yah! Apa kabarmu di sana?

Dalam minggu-minggu terakhir, sudah dua kali aku memimpikanmu dan entah apa arti dari mimpi-mimpiku. Apakah engkau sedang mencoba menitipkan pesan untukku? Atau mungkin hanya aku saja yang sedang merindukanmu? Sudah hampir separuh dasawarsa semenjak engkau berpulang kepada-Nya. Jika aku merenung tentangmu, banyak hal yang terlintas di pikiranku dan banyak pula yang ingin kusampaikan kepadamu.

Engkau bukanlah malaikat. Engkau dulu hanya seseorang yang berjuang menjadi sebaik-baiknya manusia dengan apa adanya.

Hidup yang aku jalani sekarang tanpamu, memaksaku untuk keluar dari zona nyamanku. Seakan dari seekor ulat yang berproses metamorfosa menjadi seekor kupu-kupu. Dulu, aku hanya pribadi yang manja yang menuntut darimu ini dan itu. Ketika engkau melakukan kesalahan, di mataku hanya itu yang terlihat, terlupakan dari benakku pada waktu itu bahwa engkau juga manusia yang bukan sempurna.

Maaf, Yah! Diriku yang beberapa tahun lalu belum bisa memahami hal ini. Namun diriku yang sekarang sangat memahaminya.

Percekcokan antara kita yang kerap terjadi, seharusnya membuatku mengerti maksud dari ketegasanmu yang sering terluputkan dari benakku dulu.

Engkau sering menunjukkan sisi keras dan tegasmu. Kini aku mengerti bahwa tidak semua pribadi bisa menyampaikan maksud dari hatinya dengan gampang. Dan itulah caramu untuk mengajari karena hidup yang keras yang terlebih dahulu harus kau jalani dan kau lalui sebelum kami. Seharusnya jauh lebih harus kupahami maksud dari ketegasanmu. Engkau hanya mencoba mendidikku menjadi pribadi yang mandiri.

Advertisement

Sekali lagi. Maaf, Yah! Diriku yang beberapa tahun lalu belum bisa memahami hal ini. Namun diriku yang sekarang sangat memahaminya.

Jika memungkinkan untuk kau melihatku di sana. Lihatlah, Yah! Anakmu yang telah beranjak dewasa dalam perjalanannya meniti kehidupan dan mencari jati diri.

Ayah, maaf jika dulu aku memang belum sempat membanggakanmu dalam perjalananku berkembang menjalani kehidupan ini. Biarlah. Setidaknya aku tidak mempermalukanmu. Dan dalam menjaga nama baik keluarga yang telah kau bangun dan usahakan sepanjang hidupmu, yang memang bukanlah perkara yang mudah. Namun, semoga saja kelak aku benar-benar bisa membanggakanmu.

Dan mungkin sesampai suatu saat kita berjumpa lagi di Surga sana. Doakan aku ya, Yah! Yang berjuang sekarang sepertimu. Berjuang menjadi sebaik-baiknya manusia dengan apa adanya.