Rasa sakit hati dan terluka yang teramat dalam membawaku ke dalam pelukanmu. Ketika aku terkhianati dengan cintanya dahulu, kau datang menawarkan cinta yang pantas untuk aku dapatkan. Luka yang teramat dalam membawaku ke dalam ketakutan untuk jatuh cinta lagi kepada seorang laki-laki. Perlahan tapi pasti, kau membuatku tersenyum kembali hingga pada akhirnya hatikupun ikut tersenyum padamu.

Hari demi hari, kau masuk dalam hidupku. Seakan-akan kamu dapat menghilangkan segala kenangan buruk di masa lalu. Kau-pun seakan memberikan nyawa baru dalam hidupku yang semula merasa benar-benar hilang. Kau memberikan sebuah harapan hingga sebuah janji yang manis padaku. Dan, kesalahan kedua telah ku perbuat. Betapa bodohnya aku mempercayainya.

Ketika aku mengetahui segalanya, nyawaku pun kembali hilang. Lemas seluruh badan ini, tiba-tiba aku memikirkan perempuan itu. Apa perempuan itu telah menjadi diriku di masa lalu? Yang tidak tahu jika menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan orang di masa lalu itu?

Aku tidak mau perempuan itu hancur layaknya aku yang kehilangan nyawaku di masa lalu itu. Aku tidak mau perempuan itu berada di posisi yang sama sepertiku. Memang, keputusanku sangat gila, kata teman-temanku. Jangan menyangka aku tidak menangis dengan kejadian ini. Memang benar, aku TIDAK MENANGIS. Mengherankan bukan?!

Alasanku untuk tidak menangis adalah keberuntunganku menjadi wanita yang mengetahui segalanya dari awal sebelum hidup bersamanya dalam rumah tangga. Kini aku pun pergi memilih mengalah, terima kasih. Kini aku mulai berdamai dengan keinginan dan hidup dengan nyawaku sendiri.