"Hai apa kabar sayangku?"

Berada jauh darimu adalah hal yang tidak pernah ku syukuri hingga hari ini. Jika bisa, ingin rasanya aku memangkas ratusan kilometer yang memisahkan kita.

Di antara sekian banyak pertengkaran yang pecah di antara kita, masalah jarak adalah yang paling utama. Kita seringkali berdebat mempermasalahkan waktu bertemu yang terasa begitu sempit. Kesibukanmu kuliah dan aku yang sedang bekerja di kota berbeda, tidak dapat dipungkiri menjadi masalah yang ingin ku rutuki hingga kini.

Aku mengerti sayang bahwa kamu tentu memiliki keinginan seperti pasangan lainnya. Bisa bersua kapan saja tanpa perlu terhalang oleh kenyataan bahwa kita berada di kota berbeda. Kamu tentu iri dengan temanmu yang bisa dengan mudah menemukan prianya di mana saja. Bersenda gurau dan berbagai cerita secara langsung, tanpa harus mengandalkan teknologi tatap muka via satelit seperti yang kita lakukan.

Kamu berkali-kali mengeluhkan ini padaku. Kamu selalu bilang bahwa seandainya aku di sana, pasti semuanya akan terasa lebih mudah. Sesekali kamu pun menangis menyesali mengapa hingga sekarang aku masih bertahan di sini, bekerja di kota yang berbeda denganmu. Asalkan kamu tahu, sungguh tidak mudah untukku, berpisah denganmu dalam waktu yang lama. Di sini, di kota asing ini, aku sering memaki diri sendiri setiap kali aku gagal membuatmu bahagia.

Advertisement

aku memang bukan pria sempurna yang bisa melakukan semua hal sebaik yang kau damba. Tak jarang kuakui kealpaanku mengingat hal-hal kecil menyulut pertengkaran kita.

Kamu tentu belum lupa kalau kita pernah bertengkar hebat karena dengan tidak sengaja aku melupakan hari jadi kita. Kamu betul-berul marah padaku dan memilih mendiamkanku selama berhari-hari. Padahal, waktu itu pekerjaanku sedang padat-padatnya. Aku pun berusaha menjelaskan padamu dan meminta maaf untuk semua kesalahanku.

Aku jelas tidak bisa menyangkal bahwa aku adalah seorang manusia yang rapat dengan kekurangan. Aku tak jarang melupakan hari-hari penting kita. Sementara kamu adalah wanita yang mengingat semua hal dengan sempurna. Tapi tahukah kamu kalau itu kulakukan dengan tidak sengaja? Sayang mengertilah kalau ada hal-hal besar yang kupikirkan sehingga mungkin melupakan hal kecil lainnya. Aku harap kamu mau mengerti dan tidak mempermasalahkan ini lagi.

Untuk itu, kumohon kirimi aku doa setiap hari. Agar Tuhan memberikan kemudahan sehingga priamu ini bisa kembali secepatnya.

Aku hanya mempersiapkan apa yang kira-kira kau butuhkan. Karena kamu adalah masa depan yang sedang kuperjuangkan.

Kirimi aku doa yang tulus di sana, agar priamu ini bisa kembali secepatnya. Untuk semua rindu yang masih tertumpuk, aku harap kamu sudi bersabar. Karena sekembalinya aku dari sini, aku ingin kita segera menyebar undangan. I love you.