Dear gadis yang meringkuk pilu di balik pintu kayu..

Usaplah air mata yang menetes di wajahmu. Aku tau, betapa perih luka yang tertoreh di hatimu. Memang benar, rasanya semesta tak adil pada cinta yang telah kau bina lama. Dia yang kau pertahankan dengan segenap jiwa raga, malah berbalik menyakitimu terlampau parah hingga kau tak mampu berkata-kata.

Pengkhianatan, sungguh tak pernah bisa kita duga kehadirannya. Dia muncul dan meperporak-porandakan segala rencana yang telah kau canangkan bersama. Mirisnya, pengkhianatan itu datang dari dia yang paling kau percaya. Dari dia yang selama ini kau kira pangeran hatimu. Tempat melabuhkan cinta terakhirmu.

Ah, masih lekat di ingatan saat pertama ia ungkapkan cinta padamu. Dia gugup mengaku, kau tersipu malu. Sungguh semesta pun cemburu pada senyum bahagiamu kala itu.

Namun seiring waktu berlalu, kulihat senyummu mulai pudar. Matamu tak berbinar. Aku pun mengerti, saat itu kau sedang berupaya bertahan. Kuperhatikan engkau yang tersisihkan dari sisinya yang kau sayang. Perlahan, ia berjalan meninggalkanmu, tapi kau tak tinggal diam. Kau kejar cintamu lagi dan lagi.

Advertisement

Namun sejatinya, cinta yang kau kira sesungguh-sungguhnya cinta, hanyalah persinggahan hati baginya. Tiada komitmen nyata, tiada asa menuju ikatan yang kekal selamanya. Hanya kau, gadis malangku yang bermimpi pada kesia-siaan semata. Kau berikan segalanya, hanya tuk dicampakkan begitu saja.

Ya, menangislah kembali. Menangislah sejadi-jadinya. Jika kau mau, luapkan saja segala kemarahanmu pada dia yang semena-mena menggores luka. Puaskan amarahmu. Buat dia tau sakitnya dikhianati. Buat dia mengerti bahwa ini hati, bukan untuk disakiti !

Kau terpuruk. Sesalmu merayap di dalam dada. Segala “Andai” mulai bertebaran di benakmu yg lara.

“Andai kau tak pernah bertemu dengannya..”

“Andai kau tak pernah jatuh hati pada wajah teduh dan senyum manisnya..”

Dan andai-andai lain yang hanya ada dalam anganmu saja. Sungguh, sesalmu sia-sia belaka, karena kini semua telah berwujud realita. Realita yang mau tak mau, sepahit apapun itu harus kau terima dengan lapang dada.

Gadisku, Sudah cukup kau ratapi kisah perjalanan cintamu yang berakhir tragis ini. Bukankah sekarang sudah waktunya kau bangkit kembali ? Kapan terakhir kali kau berdiri tegak menantang mentari ? Bangunlah. Tidakkah kau rindu pada embun pagi ?

Ratusan hari telah terlewati. Kulihat kau telah tersenyum kembali. Ku kira kau telah mulai lupa pada dia yang meninggalkanmu pergi. Ku kira, kau sudah rela pada takdir yang harus kau jalani. Namun ternyata, senyum itu hanya topeng yang kau pasang di muka. Kau kelabui semua jiwa yang dulunya menatap iba padamu yang merana.

Rupanya, luka itu terlalu dalam untuk kau sembuhkan dalam diam.

Nyatanya hari ini, kutemukan kau kembali menangis sesenggukkan di pojok kamarmu. Kau bercerita tentang dia yang telah menemukan pengganti dirimu. Kau berkeluh kesah tentangnya yang dengan mudahnya menjalin cinta yang baru. Tentangnya yang menganggap ribuan hari kalian seperti angin lalu Tapi kau memang keras kepala. Bukankah sudah ku bilang, tak usah lagi kau cari kabar tentangnya. Apa gunanya ? Hanya membuka lukamu saja.

Penasaran juga ada batasnya, sayang. Jangan kau siksa dirimu dengan cinta yang tak bisa kau genggam.

Ah, lagipula kenapa kau masih terperangah ? Faktanya, kau sudah tau bahkan sebelum dia memutuskanmu waktu itu. Alasannya yang dibuat-buat membuat geli hatimu kala itu. Kebohongannya nyaris membuatmu tertawa ironis. Hanya saja, kau masih berbaik hati pada cinta yang mengkhianatimu. Lucu dan miris. Kau memilih menahan diri sembari tersenyum tipis.

Tanpa kau sadari, diam-diam cinta yang terlampau dalam menjelma menjadi benci yang tak terelakkan oleh hati. Kau yang mengasihani diri, kau yang merasa tercampakkan tanpa hati, memendam rasa tuk menghakimi. Terbersit di hati mendoakannya mengalami malangnya patah hati setelah dikhianati. Agar ia tau perihnya luka dari cinta yang begitu kau percayai.

Untungnya Yang Kuasa masih membuka hati pada jiwa yang terlampau larut dalam ironi patah hati. Secepatnya engkau sadari diri. Tiada pantas kau biarkan jiwamu ternodai oleh gelapnya hati. Sungguh, dia tak layak untuk terus kau ratapi.

Kau terlalu berharga untuk cintanya yang pongah.

Akhirnya kau tanya padaku, apa yang harus kau lakukan.

Aku tersenyum. Kau mengiba. Kulihat asa yang terselip di sana.

Sungguh, tak ada yang tak bisa kau lakukan, sayang. Hidup ini adalah pilihan. Jika kau ingin bahagia, kau bisa bahagia. Tapi jika kau ingin hidupmu sengsara, terus lah berduka. Jadi, merenunglah. Ambillah kembali waktumu sendiri.

Masih banyak sosok lain di luar sana, yang mampu dan mau mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Mengapa kau harus terpaku pada dia yang menimbulkan lara ? Percayalah pada takdir Tuhan. Jodohmu pasti datang membawa cinta dan sukacita. Biarkan waktu memainkan perannya. Lebih bijak rasanya jika kau menghabiskan waktumu dengan berbenah diri, memantaskan diri untuknya yang dikirim sang Pencipta menemanimu nanti dalam suka-duka.

Aku yakin, kau ingin bahagia. KAU BERHAK BAHAGIA. Maka, gadisku sayang, Ikhlaskan lah dia yang telah pergi. Tak usah kau mengenang lagi tentang cintanya yang telah mati.

Berlari lah ! Berlari lah mengejar mimpi !

Berlayarlah. Dan temukan cinta sejati !