Berbeda dengan wanita lain yang seolah sangat selektif ketika seorang pria yang ingin mencoba mendekatinya, dirimu justru sangat terbuka menerima kehadiranku. Aku merasa menjadi salah satu lelaki yang beruntung di dunia ini karena sapaanku dibalas olehmu, dan tak ku sangka dari kata sapa itulah hubungan kita bisa beranjak jauh saat perlahan aku mulai mengagumimu.

Ketika tiada teman untuk berbagi, dirimu datang untuk mendegarkan segala curahanku. Pun begitu juga sebaliknya sudah bukan menjadi rahasia diantara kita jika cerita yang masing-masing kita ceritakan menambah ketertarikan antara kita berdua. Aku merasa nyaman dengan kedekatan kita hingga enggan untuk jauh darimu meskipun sesaat.

Sewaktu kedekatan kita dulu hampir setiap hari rasanya diriku menunjukkan senyum kepadanya seolah banyak sekali pesan yang sebenarnya ingin aku sampaikan dibalik senyumku itu. Namun tahukah dirimu jika aku ingin hubungan yang kita jalani pada saat itu menjadi lebih dari sekedar teman namun juga bukan seperti sepasang kekasih.

Karena banyak yang bilang jika masa-masa pendekatan adalah masa yang terindah dalam suatu hubungan, dan aku takut bila memang hubungan lebih lanjut membawa kita kepada keseriusan dalam artian ‘pacaran’. Apakah kita masih bisa selalu nyaman ketika bertukar cerita serta canda tawa seperti selama ini yang kita rasakan. Aku takut, jika kita pacaran, kita malah akan cenderung menutupi-nutupi segala kekurangan untuk terlihat sempurna dimata kita masing-masing. Pacaran bukanlah jaminan untuk kita akan hidup selalu terus bersama.

Dan aku merasa seperti seorang pecundang karena aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku kepada wanita yang aku sukai. Di sisi lain, aku bisa merasakan semua rasa kegelisahanmu karena ketidak jelasan arti dari kedekatan kita yang sebenarnya, begitulah perempuan (red:baper) hari demi hari.

Advertisement

Tiba-tiba, salah satu dari kita memilih untuk hilang secara perlahan dari kedekatan yang telah kita jalani selama ini. Seolah tanpa sebab dirimu mulai sulit untuk ditemui. Dari kedekatan yang kita jalani, aku bisa menyimpulkan bahwa 'dirinya' (mantan) memang sulit digantikan oleh perempuan lain.

Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa tanpa dirimu tapi jauh di lubuk hati yang dalam ini masih mengharap akan kehadiranmu suatu saat nanti.

Dan pada akhirnya ketika aku telah menemukan wanita yang sungguh-sungguh menyukai diriku ini apa adanya, dirimu hadir kembali membawa segala kenangan manis sewaktu kita pernah dekat dulu. Sempat terpikir olehku untuk meninggalkannya untuk kembali dekat denganmu, namun sayang tidaklah pantas pria sepertiku ini mengingkari janji padanya.