Aku menulis ini ketika kamu sudah mengantarkanku usai kita menikmati senja di sebuah pantai. Ini aku tulis beberapa ratus hari sebelum hari ini, sayang. Mungkin nanti saat kau membacanya, kau akan kaget. Karena kau tak pernah tahu kapan aku menulisnya dan kau juga tidak tahu bukan, kalau aku suka merangkai kata demi kata hingga menjadi satu kesatuan utuh dalam sebuah tulisan. Memang bukan sebuah bacaan yang sempurna, tapi semoga ini bisa membuatmu tahu betapa aku ingin menceritakan tentangmu dalam setiap bait kata yang aku rangkai ini.

Sayang, ini hari yang kita tunggu-tunggu. Ini hari dimana aku merasa menjadi wanita paling berbahagia di dunia. Ini hari dimana aku menyunggingkan senyum terlebarku selama hampir 26 tahun aku hidup. Ini hari dimana aku sudah tak lagi menjadi gadis kecilnya ibu dan bapak. Ini hari dimana aku sudah menjadi bagian dari hidupmu. Ini hari dimana aku mendengarkanmu mengucapkan ikrar suci sehidup sematimu untukku. Iya, ini hari pernikahan kita. Hari yang paling kita tunggu selama kebersamaan kita.

Terima kasih sayang. Terima kasih mas. Terima kasih kekasih halalku. Terima kasih suamiku. Terima kasih karena kamu telah memilihku. Terima kasih karena kamu telah mempercayakanku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu. Terima kasih karena kamu telah membuatku merasa menjadi wanita yang sangat spesial. Terima kasih karena semua janjimu untuk menua bersamaku telah kau awali dengan sebuah ikrar suci yang kau ucapkan tadi. Sayang, kamu tahu. Rasanya ini seperti mimpi. Hari ini aku menjadi seorang istri. Iya, istri. Dan kamu, mulai hari ini aku menyebutmu suami. Suami yang akan menuntunku menuju surgaNya. Suami yang akan menjadi ladang ibadahku untuk meraih surgaNya. Suami yang akan menjadi orang pertama tempatku berbakti. Mulai hari ini, aku bukan lagi milik ibuku, aku bukan lagi milik bapakku. Aku menjadi milikmu seutuhnya. Ridhomu sekarang lebih dari segalanya.

Instagram, sebuah hashtag dan foto nametag itu adalah awal dari segalanya. Allah benar-benar memudahkan kita menjalani hubungan ini. Perkenalan yang singkat, keyakinan yang sangat mudah kita dapatkan, sama sekali tidak ada keragu-raguan dalam diri kita hingga kita sama-sama memantapkan hati untuk mengikat diri kita dalam sebuah momen lamaran, semua persiapan-persiapan pernikahan yang selalu dimudahkanNya, sepertinya memang sebuah pertanda dariNya kalau DIA memberikan restuNya untuk kita. Bukankah itu yang selalu kau sampaikan setiap kita duduk bersama dan bercerita ngalor ngidul sepulang kerja? Ahhhh..rasanya baru kemarin kita berjabat tangan. Ternyata hari ini aku benar-benar bisa memelukmu dengan sangat erat dalam sebuah ikatan yang halal.

Hari ini banyak orang yang memanjatkan doa untuk rumah tangga kita, sayang. Semoga kita menjadi seperti apa yang mereka harapkan. Semoga kita bisa menjadi sosok panutan bagi adik-adik kita. Oh iya, kau pasti tadi sedikit tersentak melihat sahabat-sahabat baikku mengenakan baju yang seragam. Ini memang belum aku ceritakan padamu. Mereka memang sempat mengatakan kalau mereka sengaja menjahitkan baju seragam untuk kita, iya hanya untuk menghadiri pernikahan kita. Kejutan yang menyenangkan untuk kita, bukan?

Advertisement

Rasanya sudah tak ada lagi kata yang bisa aku tulis lebih banyak di sini. Hari ini aku hanya bisa bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Pencarianku benar-benar telah berakhir di orang yang tepat. Iya, kamu. Semua yang aku ragukan dari awal tentangmu dan tentang kebersamaan kita sudah terjawab dengan ikrar suci yang kau ucapkan tadi. Ragu-raguku ketika menerimamu masuk dalam kehidupanku ternyata berhasil kamu hilangkan setelah kamu benar-benar memberitahu ibuku bahwa kamu berniat untuk meminangku. Setelah kedatanganmu beserta keluargamu ke rumahku saat itu, semua keraguanku, semua ketidakyakinanku, dan semua ketakutanku menghilang tanpa jejak. Dan hari ini, akhirnya kamu sudah menjadi suamiku. Iya, suami.

Sekali lagi, terima kasih lelakiku. Terima kasih suamiku. Mulai hari ini, kita akan semakin saling menyayangi, saling berbagi, saling mencintai, saling setia, saling menguatkan, saling menerima, saling mengasihi, saling mendukung, saling percaya, saling memahami, saling peduli, saling menghormati, saling saling dan saling yang lainnya dalam hal menuju surgaNya sampai nafas terakhir kita. Perlahan tapi pasti, kita akan sama-sama berjuang meraih mimpi dan harapan dari setiap rencana yang sudah kita susun berdua demi kita dan demi anak-anak kita nanti. Kau pasti sangat ingat bagaimana ketika kita menyusun setiap rencana masa depan kita dengan detail. Dan kita sudah berjanji bukan, kita akan saling bahu-membahu mewujudkan rencana-rencana yang kita susun. Kau jangan khawatir, kau tidak akan berjuang sendiri mewujudkan rencana-rencana kita. Ada aku, aku yang juga akan siap mengucurkan bulir keringatku dan rupiah penghasilanku untuk kita gunakan mewujudkan rencana kita demi anak-anak kita.

Aku sekarang milikmu. Kamu sekarang milikku. Aku akan berusaha menjadi istri yang bisa kau andalkan dan ibu dari anak-anak kita yang bisa mereka banggakan. Percayalah, aku akan selalu ada disampingmu, mendukung setiap langkah hidupmu, dan kita akan bersama-sama meraih surgaNya. Ingatkan aku bila aku lalai mengabdi padamu. Peluklah aku jika aku tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Gengamlah tanganku jika suatu saat aku merasa tidak mampu menjalani langkahku sendiri. Dan aku, aku akan selalu memberikan yang terbaik dariku untukmu, aku akan selalu berusaha menjadi sosok wanitamu yang mengabdi sepenuhnya padamu. Suamiku, percayalah, aku menerimamu sebagai kamu tanpa pernah sedikitpun mempermasalahkan masa lalu dan kesalahan-kesalahan masa lampau yang pernah kau lakukan. Tetaplah bersamaku. Kita akan menua bersama, sayang..

Nb : Aku menuliskan ini beberapa ratus hari sebelum tanggal tujuh belas januari dua ribu enam belas ini. Dan tulisan ini memang akan aku email padamu setelah kamu mengucapkan ikrar suci padaku di pagi ini. Tapi kenyataan berkata lain. Tak ada ikrar suci itu. Tak ada pernikahan kita. Semua berakhir setelah keraguan dan ketidakyakinanmu muncul di dua minggu menjelang pernikahan kita yang akhirnya kamu wujudkan dengan sebuah pembatalan semua rencana pernikahan kita yang tak pernah kamu sampaikan langsung padaku dan ibuku.