Selamat malam Cinta. Senang masih bisa menyapamu dengan panggilan kesayangan. Bagaimana harimu hari ini? Lelahkah sekujur tubuhku setelah seharian tadi berulang kali naik turun tangga demi membagikan ilmu untuk anak-anak didikmu? Aku tahu kau begitu mencintai pekerjaan itu, hingga tak ada satu hal yang bisa menghalangimu untuk berbagi ilmu. Pun rasa sakit dan nyeri yang kini tengah hinggap di tubuhmu.

Aku tahu semua menjadi tak mudah semenjak hari itu. Aktifitas sehari-harimu menjadi terganggu. Beberapa rencana masa depanmu harus tertunda untuk sementara waktu. Walaupun mungkin yang tertangkap oleh telingaku hanya suaramu yang menggebu-gebu ketika kau berbicara tentang agama dan masa depan. Nyaris aku tak pernah mendengar kau mengeluh tentang sakitmu. Malah aku yang menjadi lebih sering mengkhawatirkan dirimu. Hebatnya, dengan sabar kau menanggapi celotehanku. Menenangkanku bahwa selagi ada Tuhan semuanya akan baik-baik saja.

Jujur aku tak pernah tahu apa yang tersimpan di kedalaman hatimu. Aku tak pernah tahu bagaiamana kau melewati malammu. Aku juga bertanya-tanya apakah kau diam-diam menangis dalam hati ketika rasa putus asa mulai menghampirimu. Tak mudah memang melewati semua ini. Terlebih kau harus merelakan hobi travelingmu terhenti sejenak hingga sakitmu mulai berangsur pulih. Cukup berpuas diri berada di dalam rumah selepas kau pulang kerja.

Tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikiranku untuk meninggalkanmu. Mencari laki-laki sempurna seperti yang sering kau pesankan padaku. Semuanya akan baik-baik saja selagi kau masih tetap di sisiku. Kau adalah sumber kebahagian yang mencukupkanku. Fisikmu boleh saja sakit, tetapi keelokan hatimu sungguh telah membuatku merasa tercukupkan.

Maaf, ketika aku belum bisa sepenuhnya mampu menguatkanmu ketika kau merasa jemu. Bahkan kau menjadi lebih sering direpotkan oleh rengekanku yang mengharap perhatianmu. Egois sekali ya aku? Sementara di sana kau berjuang melawan rasa sakit sekaligus harus menenangkan kedua orang tuamu yang tak kalah khawatirnya padamu.

Advertisement

Bersabarlah Sayang. Aku tahu tak mudah melewati ribuan hari dengan obat, sementara kau juga mengkhawatirkan kesehatan ganjilmu. Tak mudah rasanya menerima semua ini. Namun, kehidupan harus tetap berjalan, sekeras apapun itu. Semoga ada banyak dosa yang telah terlebur dengan kesakitanmu.

Jangan pernah merasa sendiri. Ada aku yang kapan pun kau butuh akan menjadi tempat bersandarmu. Tetaplah kuat! Ada deretan hari indah yang telah menantimu. Bukankah kehidupan itu seperti roda yang akan terus berputar?