Setetes embun dalam heningnya pagi, diriku terbangun dalam mimpi, entah mengapa terbesit keyakinan akan dirimu. Seribu pertanyaan terlintas dalam pikiranku pagi ini. Sembari mencium aroma kopi dan kemudian menyesapnya, benakku kembali berpikir akan dirimu. Akhir-akhir ini otakku hanya di penuhi olehmu. Tentang beribu pertanyaan yang setiap kali muncul begitu saja. Seperti pohon yang selalu tumbuh dengan cabangnya, seperti itu juga yang ada di dalam otakku. Semakin aku berpikir, pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu bercabang dan menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang aku, kau dan masa depan kita.

Masih ingatkah kau saat kita pertama kali berjumpa? Bagaimana kau menggengam tanganku dan mengatakan jika kau ingin selalu bersamaku? Sungguh begitu banyak kenangan yang telah kita buat. Mempertahankan cinta ini tidaklah mudah. Begitu banyak cobaan, begitu banyak dinding-dinging yang dapat meruntuhkan cinta ini. Ibarat sebuah pohon yang setiap saat di terpa oleh kerasnya angin. Sanggupkah pohon itu bertahan? Layaknya cinta ini yang sudah lama kita bangun dan mencoba untuk bertahan. Mampu kita melangkah lebih jauh lagi? Jika keyakinan yang ada di dalam dirimu dan diriku itu sangat besar, bahkan lebih besar dari pohon yang ada di dunia ini, maka kita bisa melampauinya.

Yakinlah akan cinta kita, dan yakinlah akan kepercayaan yang selama ini kita bangun. Jika ada seseorang yang menghalangi kita dalam langkah ini, dialah Ibuku. Seseorang yang sangat aku hargai dan sangat aku cintai melebihi dirimu. Maaf, bukan berarti aku tidak mencitaimu, hanya saja kau dan ibuku adalah orang yang sangat aku cintai. Pertanyaan itu kembali menghantuiku, akankah restu dari ibu bisa kita raih? Akankah ibuku bisa menjadi ibumu juga?

Keraguan itu muncul begitu saja dalam benakku. Terlebih lagi seorang ibu mencari yang terbaik untuk anaknya. Yang tidak akan menyakitinya, yang tidak akan membuatnya menangis dan selalu membuatnya tersenyum bagaimana pun nanti keadaan ke depannya. Sekali lagi aku bertanya padamu, mampukah dirimu meyakinkan ibu? Mampukah kau menggenggam restu ibuku, sebelum nantinya kau memutuskan untuk meminangku?

Tapi, jika keyakinan yang ada di dalam dirimu sangat besar akan cintamu kepadaku, restu dari ibu pasti akan kita dapatkan. Cukup yakinilah beliau bila kau tidak akan menyakiti diriku, yakinilah jika kau akan selalu membuatku bahagia, karena seorang ibu hanya ingin melihat anaknya tersenyum dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.