Aku mengenalmu hanya dengan satu nama. Nama yang membuatku merasakan sayang secara tiba-tiba. Entah kamu sebut aku perempuan sinting, aneh, gila atau apapun itu, aku tidak peduli. Aku suka. Tidak kurang tidak lebih.

Suatu hari, aku bersyukur ternyata semesta mengamini. Aku dan kamu terlibat dalam sebuah percakapan yang mengantarkan pada percakapan-percakapan lain. Sampai pada sebuah masa dimana kamu mulai mebahasakan aku dan kamu sebagai kita.

Kamu tahu, seandainya aku mampu berucap, aku sangat bahagia membaca kata ‘sayang’ tertulis dalam dialog percakapan kita. Tak terperi rasanya kebahagiaan ini. Jika ada orang yang bodoh karena cinta, mungkin aku salah satunya.

Purnama berganti, kita melewatinya dengan percakapan indah di pagi hari, seperti,

Masak apa hari ini, sayang?

Advertisement

Pertanyaan sederhana yang membuatku menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini karena aku memilikimu.

Sampai suatu hari, demi sebuah keputusan masa depan, aku harus meninggalkan kotamu. Kota tempat pertemuan aku dan kamu. Katamu,

Aku nggak bisa jauh dari kamu.

Dengan alasan ini itu kamu membujukku untuk tetap tinggal. Namun maaf sayang, aku lebih memilih keputusan untuk meninggalkan kotamu.

Awalnya semua biasa saja, ucapan selamat pagi, percakapan random hingga tengah malam masih tetap kita lakukan. Sampai suatu hari aku merasa asing. Kamu menghilang, tanpa kabar berita. Aku tak kuasa sehari tanpa kamu. Sampai pada satu titik, aku mulai menyerah.

Apakah aku terlalu berlebihan mencintaimu? Atau aku yang salah mengekspresikan perasaanku padamu? Apa kamu bosan?

Dengan ribuan pertanyaan yang singgah di kepalaku, aku memberanikan diri untuk bertanya padamu,

Apakah ada yang salah denganku?

Kamu menjawab

Tidak.

Aku diam saja. Mungkin memang caraku mencintaimu salah sehingga kamu lebih memilih menghilang tanpa kabar. Atau, sekarang aku bukan prioritas. Kamu sibuk. Pikiranku selalu meyakinkan demikian.

Lama-lama, aku mulai terbiasa oleh keacuhanmu. Aku hanya sedia saat kamu siap menghampiriku. Aku selalu ada saat kamu membutuhkanku. Aku tak berani mengganggumu dengan chat manja yang biasanya. Aku bahkan terlalu takut.

Ah..tunggulah, mungkin jarak memang mengajarkan aku untuk dewasa.

Di suatu kesempatan, kamu benar-benar acuh. Bahkan saat aku datang ke kotamu, kamu tidak menjawab sama sekali pertanyaanku,

Ingin bertemu?

Kamu tahu? Rasanya sakit. Aku selalu menunggu jawaban darimu. Bolak-balik aku lihat hp, siapa tahu kamu memberi kabar. Padahal sehari sebelumnya, kamu berkata,

Aku akan menghubungimu besok.

Sampai malam, aku dirundung resah berkepanjangan. Benarkah tidak ada pertemuan lagi? Aku beranikan lagi mengetik sebuah pesan,

Tidak jadi ketemu?

Sedang kamu hanya menjawab,

“Maaf, aku nggak bisa.”

Singkat, padat, jelas.

Esok paginya, aku pulang dengan linangan air mata. Aku sempat berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi melakukan hal yang sama: memintamu menemuiku meski sebentar. Aku tidak siap dengan penolakan, terlalu sakit.

Namun, kamu mulai mendekat saat aku berusaha menjauh. Memberiku perhatian lagi, menanyakan hal remeh temeh lagi, mengucapkan selamat pagi lagi, dan memanggil kata sayang lagi.

Aku seperti berada di sebuah hubungan yang tak terdefinisikan saat itu. Seketika juga, aku luluh oleh perhatianmu. Kamu tahu kan, tak banyak orang yang dengan sukarela mendengarkan isi kepalaku yang terlampau banyak ini, sedangkan kamu salah satunya. Mungkin itu yang selalu membuatku takut kehilangan kamu.

Entah kenapa, perasaan ini mungkin terlalu besar. Aku selalu menyediakan maaf untukmu. Air mata yang kemarin tak pernah aku perlihatkan atau bahkan aku ceritakan padamu.

Aku mendekat lagi padamu meski sahabatku berkata,

Kamu gila ya?

Kamu mau sakit hati lagi?

Aku acuhkan mereka. Aku tahu, kamu masih menyayangi seperti sebelumnya. Perasaan ini masih sama.

Nyatanya, kali ini bukan keacuhanmu yang membuatku sakit. Kamu mulai membandingkan aku dengan DIA, seseorang yang aku bahkan tak ingin menulisnya. Seseorang yang pernah kamu kagumi sepenuh hati sebelum mengenalku. Seseorang yang bahkan aku tidak ingin mendengarnya.

Aku terluka sedang kamu tak mengetahuinya. Aku bersikap seolah-olah aku nyaman, seolah-olah aku biasa saja mendengarmu bercerita tentang dia. Aku tak mampu berkata bahwa aku cemburu, aku terluka. Hanya, air mata ku tiba-tiba saja jatuh begitu saja sesaat setelah kita bertemu.

Aku menyimpannya dalam-dalam. Tak mampu aku ceritakan pada siapapun, karena aku telah mengabaikan perkataan sahabat-sahabatku.

Ya sudah. Mungkin aku harus benar-benar pergi.

Aku mencoba lagi menjauh darimu. Melupakan semua kenangan tentang kita berdua yang pernah berjalan bersama saat motormu mogok, melupakan genggaman tanganmu yang malu-malu di bawah bianglala sore itu, atau melupakan pelukan kejutan yang kamu berikan padaku. Juga melupakan kenangan makan jagung bakar di malam itu. Semuanya. Lupakan.

Semua telah kembali pada posisinya. Aku kembali diam, membawa kepingan hatiku. Semua seperti kembali sedia kala, kamu di kotamu, aku di kotaku. Persamaanya hanya kita sama-sama berpijak di atas planet yang sama, di bawah langit yang sama. Tak ada percakapan lagi, tak ada kabar.

Semua berubah sesaat setelah secara tidak sengaja aku melihat fotomu. Ah entahlah. Tiba-tiba saja aku menjadi rindu padamu.

Aku menghubungimu lagi. Kamu tetap baik, tetap menjadi pendengar setiaku, dan tetap berucap,

Cerita sayang, ada apa?

Sehari dua hari, kita seperti saat pertama memulai semuanya. Sampai aku bertanya,

“Tidakkah kamu ingin memulai lagi”

kamu menjawab,

“Aku tidak ingin membuatmu menangis lagi”

Oke, aku anggap itu adalah kata lain dari

“Tidak, aku tidak ingin.”

Itu kesalahanku, menghubungimu lagi. Meski kamu pernah berkata

Perasaan ini masih sama, sayang

Bodohnya aku, aku masih berharap karena kalimat yang kamu lontarkan itu. Esoknya, terjadi lagi…

Kamu membahas lagi soal DIA.

Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali. Aku sempat berucap,

Jangan bahas dia lagi ya?

Kamu menjawab,

Baiklah.

Sayangnya terulang lagi. Lagi dan lagi. Sampailah pada suatu titik,

Aku benar-benar tidak sanggup.

Setelah aku merenung, ternyata bukan soal siapa bersama dengan siapa. Tapi soal siapa yang kamu pikirkan saat kamu sedang berbicara padaku, iya, DIA.

Aku mungkin yang terlalu buru-buru masuk tanpa permisi ke hatimu. Aku pula yang terlanjur melabuhkan harapan yang begitu besar padamu. Sampai-sampai, hanya namamu yang muncul dibenakku ketika seseorang bertanya,

Kapan nikah?

Sudahlah, mungkin kamu perlu waktu untuk menerimaku. Itu yang selalu aku tanamkan dalam pikirku. Suatu saat kamu pasti berubah. Namun ternyata aku salah. Aku tetap mendapat perlakuan yang sama. Aku menjauh kamu mencari. Aku mendekat kamu bahas dia. Selalu begitu, terus dan terus.

Kali ini, maaf sayang, laki-laki yang pernah menjadi nama dalam doaku. Aku harus melepaskanmu. Bukan karena aku tidak sayang lagi, bukan. Lebih karena aku terlalu menyayangimu sehingga aku bahkan tidak sanggup membuatmu tidak bahagia bila terus bersamaku.

Biarlah aku yang menanggung rasa sakit ini sendiri. Aku saja yang tak sanggup ada di sisimu lagi. Meski aku harus rela dengan konsekuensi bahwa aku akan kehilangan seseorang yang sangat mengerti diriku, mau menerima dengan senang hati sampah cerita buangan dari otakku.

Meski aku berkali-kali berusaha untuk meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa kembali lagi bersamamu, nyatanya perasaan sayang yang masih ada pun, tak cukup untuk membuat kita bersama.

Pertukaran batin ini cukup aku dan diriku sendiri saja. Kamu boleh menganggapku jahat, kejam atau sebutan antagonis lainnya. Aku lebih sayang diriku, air mataku, tubuhku daripada aku harus kembali terluka lagi, dan lagi, bila bersamamu.

Maaf sayang, aku harus melepaskanmu.