Saat kita kecil, seringkali kita bertengkar, berebut mainan, berebut makanan, dan berebut mendapatkan perhatian. Lucu rasanya ketika mengingatnya. Membuatku tertsenyum simpu dan kadang tertawa terbahak-bahak sendirian saat mengingatnya. Kini kita telah dewasa, telah memiliki kesibukan sendiri-sendiri, telah mengenal cinta, dan telah memiliki pasangan masing-masing. Intensitas pertemuan pun semakin singkat.

Saat kau berangkat kerja, tak jarang aku masih tertidur, dan ketika aku kembali dari kampus, kulihat lampu kamarmu telah mati. Akan tetapi, tak jarang kita bertengkar dan berdebat. Waktu berlalu begitu cepat. Mas, sebentar lagi kau akan menikah, hanya dalam hitungan bulan. Kini kau tengah sibuk mempersiapkannya, hanya berdua dengan calon isterimu. Kau sama sekali tak pernah mau merepotkan keluarga, salut!

Aku akan menjadi anak tunggal di rumah. Rumah akan terasa sangat sepi tanpamu. Di rumah ini akan sangat jarang terdengar tawamu. Kamar di lantai dua akan kosong. Selama ini, jika keluarga kami pergi, ayah selalu dengan ibu, dan kau dengan aku. Ketika kau telah menikah nanti, aku akan mengendarai motor sendiri, jok belakangku tak terisi. Dan aku harus sanggup melihatmu dengan wanita lain, yang tidak lain juga akan menjadi kakakku, kakak iparku.

Mungkin sudah saatnya bagi keluarga kami untuk membeli sebuah mobil. Entahlah, apakah aku mampu mengambil alih posisimu di keluarga? Aku rasa aku belum mampu. Ayah dan Ibu begitu memercayaimu, mereka begitu mengandalkanmu, termasuk aku. Setiap pendapatmu akan selalu didengar, dan jika keluarga sedang membutuhkan saran, pasti kaulah orang pertama yang dicari.

Mas, tahukah kau bahwa sebenarnya aku begitu menyayangimu? Aku begitu bangga akan sosokmu. Aku selalu membanggakanmu di depan teman-temanku. Aku merasa sangat beruntung memiliki kakak laki-laki sepertimu. Kau adalah pria yang bertanggung jawab, penyayang, pengertian, pandai memasak, dan family man. Beruntunglah dia yang mendapatkanmu.

Advertisement

Kau adalah panutan bagiku, teladanku, kebanggaanku. Selama ini, dihadapanmu dan orang lain, aku cuek dan nakal. Tak jarang aku membantah perkataanmu, tak menuruti pintamu. Tapi ketahuilah jika selama ini dibelakangmu, aku selalu membicarakan kebaikanmu, menyanjungmu. You\\'re the best gift from Him.

Ketahuilah jika selama ini jari-jemariku banyak menulis tentangmu. Terima kasih atas segala kasih sayang yang kau berikan kepadaku, terima kasih atas segala barang yang kau belikan tanpa kuminta, dan terima kasih telah menginspirasiku. Aku selalu menyebutmu di dalam doaku, untuk kebaikanmu, untuk rizkimu, untuk kebahagiaanmu, untuk kesuksesanmu, untuk kesehatanmu, apapun yang terbaik untukmu.

Aku bangga memilikimu, dan aku tahu jika kau menyayangiku tanpa syarat. I know that your love will never change till the end. Selamat ulang tahun ke 25 untukmu, Albaet Firdausi.