Halo, apa kabar dirimu? Bagaimana kuliahmu? Bagaimana usaha yang kau bangun dengan temanmu? Bagaimana dengan hatimu? Tenang saja, tanpa kau minta, aku selalu mendoakanmu dari sini, iyaa.. Dari jauh sini.

Untukmu yang sampai saat ini masih saja kutunggu,

Maafkan aku yang belum bisa menghilangkan rasa yang bertahun-tahun mengendap ini. terhitung saat kau merayakan hari jadimu yang ke-18, itulah ulang tahun pertamamu di mana aku mulai ada rasa denganmu. Hingga saat ini, saat kau baru saja menginjak usia 21 tahun. Rasa itu tetap sama, bahkan semakin menjadi-jadi.

Sebenarnya penantianku ini pernah membuahkan hasil, namun mungkin karena kesalahankulah kau sudah tak menginginkan sesuatu yang sebenarnya sama-sama diperjuangkan itu. Ah sudahlah, aku tak ingin membahas saat itu lagi.

Ingin sekali rasanya aku pergi. Namun, setiap kali aku pergi, kau selalu hadir lagi. Dengan telepon dadakan saat malam hari, kau menanyakan kabarku lagi dan bertanya kenapa lari. Dan akhirnya aku selalu gagal untuk pergi darimu.

Advertisement

Saat kau dengan menggebu-gebu menceritakan kekasihmu yang baru, tahukah kau perasaanku? Haha, sudahlah kau tak perlu tahu. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu. Saat kau senang, saat kau sedih.

Untukmu lelaki pecandu kopi, tahukah kau, bagaimana kau selalu menang ketika aku membanding-bandingkanmu dengan yang lain? Tahukah kau sudah berapa hati yang kusakiti hanya untuk membelamu? Ah, mungkin ketika aku menceritakan ini ke sahabatku, dia akan bilang aku adalah gadis bodoh yang bertahun-tahun menunggu tanpa kepastian.

Ya sudahlah, aku hanya ingin tetap di sampingmu. Menemani langkahmu, mendoakanmu, dan tetap menunggu dalam diamku. Semoga penantianku ini memberi hasil yang terbaik untukku dan untukmu. Entah kita bersama atau tidak nantinya, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Jaga kesehatanmu, ya. kurangi merokok dan begadangnya.

Terima kasih karena tetap di sini, walaupun aku tak tahu hatimu berada di mana. Terima kasih karena masih mencariku di saat aku berusaha pergi. Terima kasih, pria kopi ku.

-dari seseorang yang menunggumu, di kota Lumpia-