Lelakiku, kebersamaan kita selama ini bukanlah tanpa makna. Terima kasih kau berikan kebermaknaan tentang kasih dan sayang.

Dulu, saat pertama kali kau ucapkan cinta, jujur aku meragukanmu. Aku ragu jika hanya menjadi pelarianmu, aku ragu hanya menjadi pelampiasanmu, aku ragu terhadap kesetiaan dan tanggung jawabmu, aku ragu terhadap latar belakangmu, dan aku memang ragu.

Namun tak henti kau terus bertahan dan berjuang untuk mendapatkan balasan perasaan dariku. Dari hujan-hujanan menjemputku, menghampiriku seketika aku memberi kabar buruk, menghibur kala aku menangis, dan banyak hal lagi. Saat itu pun pertahananku mulai runtuh, hatiku mulai ditumbuhi benih-benih rindu kala kau tak mengabariku.

Hari-hari demi hari perasaanku kian menjadi, aku kehilanganmu kala kau tak ada di dekatku. Sejak saat itulah aku memang jatuh hati padamu. Saat itu kau ucapkan,"Jangan jatuh cinta karena jatuh akhirnya akan sakit. Tapi belajarlah mencinta, karena dengan belajar kita akan mendapat hasil yang tulus".

Dan kau benar-benar mengajariku dengan caramu memperlakukanku, mendengarkan celotehan dan bawelanku, mendengar keluhan tentang studiku, memberikan bahumu kala aku menangis, menjadi penenang saat aku panik!

Advertisement

Hingga suatu hari orangtuaku tahu tentang kita dan menentang hubungan kita. Tapi dengan sabar kau menerima semua makian ayahku, dengan ikhlas kau terima semua cacian beliau. Sungguh aku tahu sesungguhnya kau sangat terluka.

Tapi kau tidak menyerah, kau tetap datang dengan gagah dan berbicara secara lelaki kepada ayahku, kau jabarkan keseriusanmu padaku, kau jelaskan rasa tulusmu menyayangiku, dan kau buktikan bahwa saat ini kau telah berhasil memenuhi semua janjimu. Bahkan di puncak karirmu, kau buktikan keseriusanmu meminangku.

Terima kasih lelakiku, kau tetap menjadi yang terbaik dan selamanya yang terbaik.