Sekeping asa itu masih kugenggam erat, melekat nama yang slalu kusebut dalam gelap….

"Asaku tak pernah berhenti disini, meski kau tak lagi disisi."

Melepasmu seperti semacam perih yang harus kutanggung sendiri. Seakan tertancap sembilu, membusuk bersama luka tak terperi. Dear kamu, yang pernah datang lalu pergi. Kamu yang pernah mengajaku menari bersama hujan diantara bising kemacetan jalanan.

Tidakkah kau ingat bau tanah gersang bercampur hujan, alunan nada syair romantic bang Iwan fals, musisi favoritmu yang akhirnya menjadi racun bagiku beralih genre. Lucu ya, aku masih tak pernah bisa lupa hal-hal menarik saat bersamamu. Apakah kamu disana juga masih mengingatnya?

"sosokmu tak lagi bisa kusapa, dalam bayang pun tak bisa"

Advertisement

Ah aku lupa, kamu sudah bersamanya. Dia yang mengambilmu dari sisiku. Menghancurkan segala yang sudah diambang kebahagiaan. Tapi sekarang aku sudah mengerti. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Aku dan kamu hanya makhluk lemah. Bagaimanapun juga takdir Tuhan tak mungkin bisa kita cegah. Berpasrah bukan menyerah. Itu yang sekarang aku lakukan.

"karena bahagiamu adlah bahagiaku juga"

Berbahagialah disana, biar disini kembali kutata kembali ruang yang pernah menjadi tempatmu di hati, kubiarkan kosong kini. Kudoakan selalu kebahagiaan akan menyertaimu beserta orang terkasihmu kini.

Aku yang selalu mengingatmu. Berlalu bersama waktu.