“Aku menyayangimu seperti adikku sendiri”

“Aku berusaha melupakannya, tapi tak bisa”

Kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku kemarin?

Hidup memang selalu pilihan. Dan tiap pilihan pasti ada yang dikorbankan. Awalnya, mungkin kita sama. Sama-sama berniat melupakan orang yang pernah singgah di hati masing-masing. Bedanya, aku berhasil dan kamu tidak. Itu saja. tadi pagi saat aku bangun, kuharap yang kualami hanyalah mimpi buruk. Tapi bukan. Ini kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan bahwa kita, tepatnya aku, tak bisa lagi bersamamu.

Belum kering air mataku saat kutulis ini…

Advertisement

Tadi pagi kamu masih mengirimkan sapaan selamat pagi….

Tapi mulai hari ini, aku akan membiasakan diri..

Karena tak kan ada lagi ucapan selamat tidur

Takkan lagi kubuka handphone tengah malam untuk melihat adakah pesan yang masuk darimu…

Akupun tak akan lagi berjanji pada teman sekamarku bahwa aku tak akan makan sebelum kamu mengingatkanku makan, seperti yang pernah kulakukan, hingga aku tak makan sampai jam 12 malam. Sekarang aku akan selalu ingat makan…

Dan untukmu,seperti yang kamu bilang lewat telpon kemarin, mungkin tak ada lagi orang rese yang selalu mengejekmu karena tidak mandi.

Tak ada lagi…

“aku tak mau kamu pergi….”

Begitu rapi Tuhan menata segala sesuatunya, hingga perjumpaan kita, barangkali….

Satu hal yang harus kamu tahu, aku tak pergi, aku tak pernah berubah, aku tak membencimu, apalagi menyesali pertemuan kita. Aku hanya berusaha memposisikan diri. Karena bagaimanapun, sekarang dan kemarin sudah berbeda. Aku melakukan sebagaimana mestinya yang harus kulakukan sekarang, bukan seperti kemarin. Mencoba menerima kenyataan, berdamai dengan diriku sendiri, dan berusaha bangun seperti sediakala sebelum aku mengenalmu. Kuharap kamu bisa mengerti.

Rasanya baru sembuh lukaku dari seseorang yang juga pernah kugantungkan harapan padanya. Hanya beberapa hari denganmu saja bisa membuatku melupakan dia yang sudah hampir enam tahun bersamaku. Bukankah kamu sungguh hebat? Tapi sekarang aku memang harus menerima kenyataan ini. Merelakan semua yang pernah terjadi di antara kita. Karena aku sadar, aku hanyalah orang baru di hidupmu. Dan seperti apapun orang baru yang datang, bagaimanapun ia, orang lama tetap punya tempat yang istimewa.

Tak ada maksud apapun saat kutuliskan surat ini. Tak berniat mengungkit yang telah lalu, pun tak bermaksud membuatmu merasa tidak enak ataupun bersalah. Tak ada pula kata aku tersakti atau kamu menyakiti. Karena kita sama-sama sakit. Aku sakit, kamupun sakit. Ini tak sepenuhnya salahmu. Akupun bersalah karena mungkin terlalu jauh berharap, terlalu terburu-buru menyipulkan semuanya. Tapi sudahlah…walau bagaimanapun, aku berterima kasih padamu, terima kasih. Karenamu, aku benar-benar bisa melupakannya. Dan tugasku sekarang adalah melupakanmu, menghapusmu sebagai seorang yang pernah kuharapkan. Tapi tenang saja…kita tetap bisa berteman, tetap bisa silaturahmi layaknya keluarga dan saudara.