Entahlah seberapa serius hubungan kita, hingga tidak menyadari bahwa aku terlalu yakin untuk berharap. Aku mencintaimu, dulu, saat kita melukis hari-hari indah bersama, saat kau menggenggam jemariku dengan erat, berjalan meniti jalan setapak bersama, mengukir senyum mengembangkan kebahagiaan, dan saat kita yakin satu sama lain atau mungkin hanya aku yang yakin?

Meski begitu, darimu aku belajar mencintai lelaki sesungguhnya, membuatku mencoba untuk menegarkan hati, belajar memahami apa makna kasih tulus sesungguhnya, mengerti bagaimana rasanya saling mencintai, belajar memdewasakan diri dan menguatkan pundak kalau-kalau ada berbagai hal rintangan yang menerjang.

Kau lelaki dewasa yang mengajariku bagaimana hidup memperlakukan manusia, kau adalah lelaki terramah yang pernah kukenal. Sayangnya aku jatuh terlalu dalam, aku menganggap kaulah satu-satunya lelaki yang akan kuperjuangkan hingga tangan Tuhan memisahkan, tetapi tidak, itu semua hanya ilusiku, itu semua hanyalah bayangan semu yang ingin kudapatkan darimu tapi sama sekali tidak benar-benar terjadi, seluruh mimpi tentang aku dan kamu dari ujung rambut hingga kaki hanyalah bualan, itu bohong!

Semua berawal dari aku yang mengagumimu dalam diam, saat kita tidak mengenal satu sama lain, hanya memandang dan menyanjungmu dari jauh yang kulakukan. Sangat terkejut jika kau menaruh hati juga padaku, seperti keajaiban, sungguh fenomena yang menyenangkan. Seluruh tubuhku bergetar, aliran darahku mengalir deras, detak jantungku semakin cepat dan aku benar-benar bahagia, sangat.

Hingga suatu saat takdir menyatukan hati kita, membuatku mencintaimu lebih dari apapun. Di saat apapun selalu ingat pada dirimu yang kucinta dan kudamba. Malam itu kita bertemu dan bertatap mata saling menautkan hati, kupikir memang itulah yang kuinginkan selama ini, memangnya apa lagi?

Advertisement

Senyummu mengembang dan membuatku semakin terpana, seiring waktu berjalan kita saling merasakan apa itu rasa aman dan nyaman saat bersama. Sempat tepikir bahwa satu-satunya hal yang mungkin memisahkan kita adalah waktu, karena hatiku berbisik kaulah yang kucari selama ini.

Nyatanya tidak demikian denganmu, satu-satunya perusuh dalam hubungan kita adalah dirimu sendiri. Tidak masalah jika kau tidak merasakan apa yang aku rasakan terhadapmu, sungguh, karena kurasa hubungan ini terlalu sempurna untukku. Begitu pas dalam porsi hatiku sehingga bisa-bisa membuatku terlena olehnya.

Waktu berjalan cepat hingga aku tidak menyadari bahwa kita sudah begitu lama menumpuk kenangan indah bersama. Sebegitu yakinnya aku terhadap segala janji manismu, rayuan gombalmu, wajah tampanmu serta pesona tubuhmu hingga aku tidak menyadari bahwa di sisi lain senyum palsu yang kau lontarkan padaku, kepentingan dirimu sendiri yang kau banggakan dan kebebasan yang kau perjuangkan. Segala bualanmu tentang cinta kutelan mentah-mentah tanpa peduli kata-kata itu keluar dari mulut lelaki sepertimu. Bukan menjadi beban yang berat untukku, karena untuk apa aku terus mempertahankan lelaki semacam itu?

Kau pergi begitu saja tanpa ba bi bu, sedikit saja tanpa memberiku penjelasan. Dan tepat setelah perayaan ulang tahunku, benar-benar kado yang indah, bukan? Saat semua menanyakan keberadaanmu hanya deretan gigi yang menghiasi luka di balik jeritan hatiku. Anehnya, aku masih terlalu bodoh untuk tetap memperjuangkanmu.

Saat kau benar-benar memutuskan segala bentuk komunikasi terhadapku tanpa memberiku setitik pun alasan, aku masih saja mengirimmu berbagai kata-kata dibalut kesabaran. Jujur saja aku sangat kecewa, pasti. Apa maumu? Kau ingin aku menghampiri dan memohon padamu sedangkan aku sendiri sedang berusaha mati-matian mengharap kau kembali dan memintamu menjelaskan semua apa yang terjadi.

Seharusnya aku tahu dari dulu bagaimana sikapmu pertama kali memperlakukanku, tetapi semua itu sirna tertumpuk rasa cinta yang begitu besar dan mendalam. Cintaku padamu telah membutakan mataku, membesarkan hatiku ketimbang otakku. Membuatku tidak bisa menggunakan otakku secara benar saat bersamamu, bahkan hal gila pun terasa wajar bagiku.

Ingatanku tentang bunga yang bermekaran di sekitar kita menjadi layu hanya dengan beberapa kedipan mata, kupu-kupu yang berterbangan pun enggan lagi menyibakkan sedikit saja sayapnya dan madu yang manis menjadi sangat pahit dalam ingatanku. Aneh sekali jika aku masih saja menyimpan sekaleng rasa manis darimu meskipun berbagai hujatan menghujani setiap langkahku. Mereka berkata aku harus ikhlas meninggalkanmu, berbagai komentar dan kata-kata penyemangat melingkupi hari-hariku, miris saja jika aku masih harus mengukir senyum meski hatiku sedang tergores luka dan air mata. Mudah bagi mereka tetapi sangat sulit bagiku.

Aku mencintaimu dan masih merindukanmu, jangan salahkan aku jika seketika aku mengingat senyummu di sela-sela deretan gigi geligi putihmu, mengingat bagaimana kau menyuapku dengan sesendok ikan laut segar yang sebelumnya panas dan kau tiup perlahan agar cepat hangat. Ya, aku mengingatnya bahkan setiap detail dari wajahmu, rahangmu yang sedikit menonjol, rambut halusmu yang membuatku iri, kulit sawo matangmu, hidung mancungmu yang selalu membuatku rindu, bibir merah meronamu yang membuatku iri sebagai wanita, seluruh tubuhmu yang aku yakin masih mengingatnya dengan sangat jelas.

Satu hari yang sangat berat bagiku, ketika aku masih mengharapkan kabarmu dan aku tahu kau tak lagi ingin bersamaku tetapi kau diam tanpa memberi tahuku. Kau pergi bersama sehabat kecilku, tak masalah jika itu membuatmu bahagia, aku tetap tersenyum di antara luka yang menganga. Pergi saja dengan gadis manapun yang kau suka, berkencan saja dengan semua gadis yang kau temui. Tidak masalah.

Apa kau ingin tahu seberapa hacur hatiku? Coba kau ambil piring keramik di dapurmu lalu lemparkan ke lantai hingga tak tersisa, seperti itulah rasanya. Air mataku tumpah ruah tak terhingga, kau yang kuyakini akan hidup bersamaku kelak justru mendustaiku dengan hal yang tak terduga. Selamat, ini adalah kejutan terbesar dalam hidupku!

Aku diam memberimu waktu dan mencoba seberapa lama kau akan mendiamkanku, waktu berlalu hingga berbulan-bulan tanpa kejelasan. Kuberanikan diri untuk bertemu dan mencoba untuk menyinggungnya, saat aku menatap wajahmu lagi setelah sekian lama, apakah kau tahu rasanya? Terlebih lagi saat aku mengetahui kau tak lagi ingin bersamaku dan tragedi aku menangis tersendu-sendu dalam kamar, aku sama sekali tidak menyimpan rasa manis lagi untukmu, wajahmu begitu menawan dan memuakkan bagiku. Kau bilang "Kita bisa memulainya dari awal," dan kau meneteskan air mata buaya di hadapanku. Dan aku berkata "Maaf, tapi aku tidak bisa. Ada lelaki lain yang lebih pantas mendampingiku," ucapku sembari tersenyum ramah. Memang benar, kini otakku mulai ikut berbisik, bersyukur kini kita tak lagi bersama.

Bersamamu membuatku belajar apa arti cinta sesungguhnya, kau meninggalkanku pun membuatku belajar untuk lebih memantaskan dan mendewasakan diri, membuatku mulai berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik, mengoreksi semua kesalahanku saat bersamamu dan bersumpah untuk tidak melakukannya lagi untuk lelakiku kelak, memposisikan diri serta lebih seleksi dalam mencari cinta sejati. Bagaimanapun juga, terima kasih kau yang telah menggoreskan luka dalam hatiku.

Aku tetap menyayangimu meski hanya sebatas ujung jariku, dari hatiku yang paling dalam aku ingin sekali paling tidak kita bisa bersehabat, aku tahu itu hal yang mustahil tetapi bukan berarti mustahil itu sama sekali tidak bisa terjadikan? hanya saja sedikit sulit untuk terjadi.