Dalam harapan dan doa selalu saja ku selipkan namamu agar Tuhan selalu berpihak pada kita.

Bagaimana tidak, pertama kali saat kau mencoba masuk dengan lancangnya kedalam privasiku dan aku tidak dengan cepat mengizinkan mu masuk.
Selalu ada usaha yang kau tunjukkan untuk meluluhkan, dan aku hanya perempuan biasa yang mudah luluh dan percaya pada cinta yang sekiranya tulus ternyata hanya bulus.
Seandainya saja perlakuan yang kau beri tidak semanis itu mungkin aku tak akan terenyuh dalam rangkapanmu.
Kau datang, menyusup masuk, lalu berhasil mengambil hati lalu pergi dengan seenaknya.
Membuatku harus kembali sendiri untuk menyembuhkan hati.
Seandainya saja ada beberapa kenangan menyedihkan yang dapat sekejap saja ku lupakan.
Seandainya saja perasaan yang bisa ku ubah untuk tak lagi mengharap balasan.

Lalu, sebegitu teganya kau terhadapku tapi mengapa aku masih bisa mengingat kita dengan manis?
Mungkin karenaaaaaaaaaa…..

1. Pengejaranmu yang tak kenal waktu kapan kau menunjukan hidung didepanku tanpa sepengetahuanku sebelumnya

Kapan saja maumu, tanpa menghubungiku lebih dulu kau selalu bisa tiba-tiba ada dihadapanku .

Advertisement

Kau tahu dimana aku sedang berada, disitu pula kau selalu bisa berkujung dengan alasan yang klasik "aku hanya ingin bertemu" .

Hati wanita mana yang tidak terenyuh setiap kali mendapat perlakuan seperti itu? Bukan datang dengan tangan kosong tapi dia selalu membawa apa yang ku suka…

Es krim, coklat, susu sapi kardus warna biru, astor kecil warna ungu dan beberapa bunga mawar hidup yang masih berduri yang bisa dia berikan.

Dan semua adalah kesukaanku.

Bagaimana tidak aku terenyuh dalam kemanisan itu, ternyata semua itu hanyalah perlakuan awal agar aku mampu menerima nya .

Dan perlakuan seperti ini hanya berlangsung setelah beberapa bulan pendekatan dan bebarapa bulan aku dan kamu sudah bernama "kita"

Selebihnya dan seiring berjalannya waktu, sepertinya kau lupa akan hal itu.

2. Karena awalnya, kau memang selalu hadir dalam setiap keadaanku.

Kapan saja aku butuh pundak dan dada yang lapang, kau selalu hadir jadi orang pertama yang datang.

Dalam penerimaan pertama, aku dan kamu yang sudah bertransformasi menjadi "kita" sudah sepakat akan komitmen yang sudah dibuat.

Aku percaya dengan umurmu yang lebih jauh dariku, kau mampu menguatkan aku menjadi perempuan yang lebih kuat .

Karena sejak awal pertemuan, sudah selalu kupahitkan; bagaimana aku, hidupku, keluargaku tak indah seperti dongengan cerita.

Semua tentangku jauh dari kata sempurna, hanya saja aku mampu berdiri walau aku harus berjatuh-jatuh sambil merangkak untuk tetap bisa bertahan hidup.

Aku, bukan anak perempuan yang punya sosok ayah yang mampu mengayomi .

Dapat kamu, aku seperti anak kecil lagi yang bertingkah mnta perhatian, namun aku selalu tahu batas kapan aku harus berlagak menjadi anak kecil , kapan aku harus menjadi wanita dewasa yang mampu kau andalkan.

Aku, bukan lagi tentang anak yang hanya berfikir untuk hidup bersenang-senang.

Tapi aku, anak perempuan diusia 20 tahun yang masih tetap bertahan untuk menjadi sukses dimasa datang.

Hanya saja, aku adalah gadis pekerja yang merangkap menjadi mahasiswa.

Bagaimana lelahku, sudah ku simpan baik-baik.

Jika terkadang aku bercerita atau sedikit berkeluh kesah, percayalah aku sedang hanya butuh penyemangat.

Aku hanya butuh lelaki yang mampu menerima dengan tulus keadaanku, merelakan pundaknya untuk aku bersandar, meminjamkan dadanya untuk aku berpaling sejenak dari dunia, dan meringankan tangannya untuk mengusap punggungku memberi kekuatan.

Dan kamu adalah orang pertama yang selalu kucari untuk aku bercerita senang atau pun sedihku.

Hanya beberapa saat aku diterima dan merasa menjadi wanita bahagia, ternyata itu tak berlangsung lama untuk aku.

3. Komitmen yang kau ucap dan sudah kita sepakati, ternyata kau mampu melanggar bahkan pergi seenaknya tanpa jejak.

Pernahkah kau sedikit saja mengingat kita dengan manis?

Sudah banyak kenangan yang kita buat berdua.

Perjalanan berdua yang kita tuju, dan penerimaan yang baik dari keluarga masing-masing.

Ketersediaan tangan yang mampu saling menolong saat kita saling butuh.

Telinga yang senantiasa menjadi pendengar yang kita keluhkan.

Lalu mata yang selalu menjadi sorotan tak bernyawa yang mampu tahu apa yang sedang dirasa.

Belum hitungan tahunpun, kita sudah mampu melewati banyak kisah berdua.

Menerawang masa depan dan perlahan sudah untuk merencanakan, namun mungkin semesta tidak mengizinkan kita bersatu padu dalam hidup.

Bagaimana tidak, kau mampu menjadi lelaki dan meyakinkanku juga semua orang terdekatku bahwa kamulah yang pantas mendampingiku hingga nanti rambutku memutih.

Ternyata, Tuhan berkata lain.

Entah apa yang Dia rencanakan, mungkin Dia sudah mendengar doaku.

Bagaimana aku meminta jalan; Jika kamu memang yang terbaik maka kau akan tetap tinggal dan Tuhan akan selalu beri kemudahan, jika memang kau bukan yang terbaik tolong jauhkan aku sejauh-jauhnya dari kamu; dari harapan yang tak bernyawa namun selalu mampu membangkitkan asa dan rasa.

Benar saja, semakin lama semakin sulit keadaannya.

Bagaimana tidak, kita yang awalnya manis dan baik-baik saja tiba-tiba menjadi 2 manusia kerasa kepala dan egois.

Bukankah dulu kau yang selalu berucap bahwa apapun keadaanku, apapun jalannya kau akan tetap disampingku bahkan rasa bosan yang suatu saat akan tiba kau dapat atasi lalu kau mampu mencintaiku dengan utuh kembali.

Dengan apa kau berjanji seperti itu? Dengan mulut kah atau dengan hatimu?

Sebab janji dari hati tak akan mudah untuk mengingkari dan mengakhiri.

4. Lalu, kau pergi seperti yang lalu.

Menyisahkan luka, dan aku harus kembali menyembuhkan hati .

Sungguh, begitu manis apa yang kau beri selama beberapa bulan terakhir.

Seperti ku kira kau tulus mencintaiku namun ternyata kau sama saja seperti yang sudah-sudah.

Kau pergi tanpa jejak, tanpa membalikkan badanmu untuk melihatku.

Bagaimana bisa, kau yang selalu tahu bagaimana aku menyayangimu, aku selalu ringan tangan membantumu.Tapi sekarang kau pergi dengan mudahnya.

Aku sadar yang kau punya disini hanya aku, sebab kamu adalah perantau yang jauh dari keluarga.

Bahkan keluarga ku sanggup menjadikanmu keluarga baru dan memperlakukanmu layaknya kita satu darah.

Dalam keadaan titik terendahmu, aku selalu turut serta untuk membantumu, menjadi pendengar yang baik lalu memberi saran walau tidak kau hiraukan.

Aku yang selalu mencari dan mengkhawatirkan kamu setiap kalinya kamu tak memberi kabar.

Aku yang selalu tidak punya rasa tega untuk membiarkanmu kesepian.

Aku yang selalu berusaha membuatmu bahagia.

Aku yang tidak pernah memintamu lebih selain hanya kabar,

dan aku yang mau mengajakmu hidup dan berjuang dari 0 untuk nantinya kita bisa mencapai sukses bersama.

Tapi semua hanya angan.

Kau lebih memilih pergi dan tidak menghiraukan apapun yang selalu ku usahakan.

Bagaimana bisa kau memilih pergi dan tidak tahu siapa yang sedang memperjuangkanmu.

Apapun yang kau pilih, kau memilih untuk memalingkan dirimu dari hadapku.

Memilih jalan sendiri bersama yang lain.

Baiklah, aku akan berdoa untuk kamu..

Untuk semua kebahagiaan kamu,

Maaf jika mungkin kau berfikir rasa sayangku tak cukup banyak untukmu.

Maaf jika aku tidak sesuai seperti harapmu.

Aku hanya perempuan biasa dengan perasaan luar biasa terhadapmu.

Untuk sekarang, biarlah aku begini..

Sendiri untuk menyembuhkan luka yang kau buat..

Menerima kenyataan bahwa semua yang kita rencanakan tidak sebanding dengan semestinya.

Sepertinya memang semesta tidak berpihak kepada kita.

Terimakasih untuk waktunya.

Terimakasih untuk perlakuan baiknya,

Terimakasih sudah datang lalu pergi tanpa jejak,

Terimakasih sudah menjadi bagian hidupku,

Terimakasih sudah memberi bahagia lalu ditutup dengan luka.

Aku mencintaimu……..

Dari perempuan biasa dengan rasa luar biasa.