Aku menulis ini, untuk sekedar mengucapkan rasa terimakasih padamu yang telah menemaniku dalam perjalanan panjang berliku.

Aku tidak pernah menyangka bila kebersamaanku denganmu bisa selama ini, lebih dari 2.000 hari yang ku lalui bersama membuatku hapal betul semua tingkah lakumu bahkan aku tahu dengan pasti semua tentangmu. kamupun sebaliknya.

Aku sudah tidak perlu berkode ria ataupun menjaga image seperti wanita lain di depanmu, apa yang ingin aku utarakan selalu aku katakan tanpa ragu.

Seharian bersama di rumahmu pun sudah biasa, bercerita panjang lebar dengan ibumu sudah terasa tidak kaku lagi.

Kita berusaha untuk berjalan searah beriringan, meski tak pelak kadang waktu kita bertengkar hebat karena perbedaan pendapat, atau karena sikapku yang kekanakan. putus nyambungpun sudah pernah kita lakoni. hingga semakin dewasa kita semakin berfikir tentang masa depan.

Advertisement

Aku pernah mengusirmu jauh-jauh dari hidupku, tapi jauh darimu membuatku menyadari jika ada yang hilang saat kamu tidak ada.

Aku tahu betul rasanya sakit kehilanganmu atau sakitnya merindukanmu

Sempat akupun berfikir untuk merasakan cinta lain, tapi toh aku tepis jauh-jauh fikiran macam itu dari otakku karena aku tidak ingin menghancurkan asa yang sudah susah payah kita rajut bersama.

Begitu banyak laki-laki silh berganti mendekatiku, tapi yang ku ingat selalu dirimu.

Aku berusaha sebisa mungkin untuk bertahan denganmu, dan memperbaiki diri agar aku pantas bersanding dengan laki-laki sebaik kamu.

Aku juga tidak ingin munafik, jika kadang kala aku merasakan jenuh di dalam hubungan, saat aku sudah lelah meneruskan perjalanan aku selalu menengok kebelakang dan merasa jika perjalanan kita sudah sejauh ini. sayang sekali kalau aku harus berhenti disini. dan lagi-lagi aku harus mengalahkan egoku demi hubungan kita.

Hebatnya kamu selalu sabar menghadapi sikapku yang kekanakan, egoku yang kadang tak terkendali atau aku yang kadang mencoba bermain api.

terimakasih sayang atas semua kesabaranmu dalam perjalanan ini. jika sedikit saja sabarmu habis, mungkin saja sudah tidak ada lagi kita.

Semoga kelak kamu menjadi imam untukku dan anak-anakku.

Dari wanitamu yang tak pernah lelah menyebut namamu di dalam setiap doa.