Assalamu’alaikum, Dear…

Bacalah ini baik-baik karena aku takkan mampu mengatakannya dua atau tiga kali lagi, tanpa kumerasa malu. Kukesampingkan gengsi demi mengatakan ini. Memang, terkesan kuno. Tapi hanya dengan cara ini, aku mengatakan apa alasannya aku memberikan secarik ungkapan hatiku.

Sedari awal, kusadari kita memang berbeda. Itulah mengapa aku bilang, aku denganmu tak sepadan. Bagiku, kamu sosok sempurna. Nyatanya, aku hanyalah gadis biasa. Mungkin ego ini yang tak bisa menepis bahwa aku memang mengagumimu sejak kau berani menyapaku. Sejauh mana aku mengenalmu, baik buruknya kamu, tetap aku mengagumimu.

Awalnya, kukira ini cinta. Awalnya, kukira ini ambisi. Ternyata, aku salah. Hatiku untuk yang lain. Orang yang selalu bersama-sama denganku. Kamu juga tahu siapa lelaki itu. Semakin hari, semakin kusadari. Rupanya, dengannya hanya ilusi. Rupanya, denganmulah kudapatkan kenyamanan hati.

Setelah tiba-tiba kau menghilang begitu saja tanpa kutahu, seolah kau tiada di dunia yang sama denganku, aku merasa sendiri dan kehilangan. Terpisah setelah terlalu terbiasa denganmu adalah cambuk yang melukai hati. Sekelebat memori tentangmu terasa menjelma kembali menjadi nyata. Kekhawatiranku semakin ada, jadikan asa yang tak dapat kubaca. Itu sebabnya, mengapa aku mencarimu. Itu sebabnya, mengapa aku ingin bertemu.

Advertisement

Mendengar dan melihatmu baik-baik saja, rasanya tenang.

Kamu? Tentu tak merasa begitu. Karena, sekali lagi kubilang, aku hanya gadis biasa. Wajar aku tak diingat, bahkan sekali pun, jika kamu ingat padaku, itu tak berpengaruh dan takkan menggugah hatimu.

Dear, kutekankan lagi ini bukan cinta. Namun kuyakinkan lagi, ini bukan ambisi. Mungkin memang caraku berlebihan. Mengapa tak langsung bilang? Pahamilah, aku wanita. Apa penilaiannya jika aku terlalu berani? Aku pasti dinilai sama dengan wanita rendah lainnya. Namun, hanya dengan ini aku bisa untuk ungkapkan semua tentangmu yang jadi harapanku.

Karena suatu alasan, walaupun bagimu kamu buruk, walaupun bagimu kamu hanya kepingan hancur seolah tak berbentuk, entah apa yang terjadi di masa lalumu. Namun, aku memujimu begitu indah. Aku tahu kamu juga tak sempurna. Kamu hanya sendiri bertemankan sepi. Itu alasannya, mengapa aku ingin menemanimu. Kamu rawat sendiri kala jatuh sakit. Itu sebabnya aku ingin ada di sisimu.

Kamu hanya bisa membeli, kala butuh asupan makanan. Karenanya, aku ingin memasak untukmu. Dan ini alasannya, mengapa aku ragu memilih yang lain. Aku tak akan tenang jika belum mengatakan secara jujur. Tapi aku merasa bahwa kamu tersesat. Entah ke dunia mana sehingga kamu tak bisa melihat arti hadirnya aku di duniamu. Sedangkan aku di sini, sering melihatmu menjadi seseorang di masa depanku.

Sudah kubilang ini bukan cinta. Sudah kubilang pula ini bukan ambisi. Tapi karena kelemahanmu, aku ingin jadi kekuatanmu. Karena kelemahanku, aku ingin kamu jadi kekuatanku.

Dear, meski tentang kita terlalu singkat, Allah punya cara membuatmu begitu melekat dan penuh makna untuk orang lain. Aku merasakan hadirmu sampai detik ini tetap ada. Kamu bukan seperti angin yang datang dan pergi begitu saja. Namun, sepertinya bagimu, aku justru kebalikannya.

Kamu tahu? Aku sudah menanyakan perihal mengatakan ini padamu, kepada seseorang yang paham benar akan agama, menimbang-nimbang akan pendapat mereka, karena aku tak ingin salah kaprah. Memang, tiada salah aku mengatakan ini, karena wanita juga berhak atas rasa yang dimilikinya. Tapi, aku hanya takut karena ini akan menjadi hal yang negatif tentangku.

Namun, mereka bilang, itu tergantung caramu memandangku, tergantung caramu melihatku dari sudut mana.

Kamu tahu? Namamulah yang kuperjuangkan di hadapan Allah, entah apa alasannya. Tapi yang jelas, hati ini mau memperjuangkan kamu di hadapan-Nya. Selalu berdo’a untuk kebaikan dan kelancaranmu dalam hal apa pun selagi itu dijalan-Nya. Berharap kamu segera menyempurnakan separuh ibadahmu kepada-Nya bersamaku. Tapi, sekali lagi, aku cukup sadar diri, maka tak berani aku mengatakan secara gamblang tentang maksudku.

Tapi … jika memang kamu cukup bodoh untuk memahami, untuk sekali ini aku kan katakan, 'Maukah kau, menjadi imamku?', itu saja.

Tania Erlin

Tangerang, 14 Agustus 2015