Jatuh cinta dalam diam bukan perkara yang mudah. Dia bisa berontak, mengobrak-abrik logika dan perasaan. Kadang rasanya ingin berteriak, menyadarkanmu bahwa ada aku yang selalu menunggu. Namun ketika memang diam adalah pilihan terbaik saat ini. Hanya tulisan ini yang mampu tertuang, berharap suatu saat kamu membaca dan menyadari ada hati yang begitu kuat menahan rasanya demi menanti waktu yang tepat.

Karena walau hanya berjarak dua meja, aku hanya berani menatap punggungmu

Kita dalam lingkaran pertemanan yang sama. Kita sering dalam ruang dan waktu yang sama. Namun aku tetap selalu merasa, berada didekatmu jadi keberuntungan bagiku. Tuhan rasanya sedang begitu baik, mempertemukan kita, meski kita harus berjarak dua meja. Walau memang aku hanya mampu menatap punggungmu. Kemudian berharap suatu saat tak ada jarak lagi diantara kita.

Karena tatapanku, walau hanya dua detik lebih lama membuatku takut kamu bisa membaca isi hatiku

Aku tak mampu menatap matamu. Bukan, bukan karena menganggapmu tiada. Aku hanya takut kamu bisa mengetahui bagaimana perasaanku dari sudut mataku. Aku wanita. Kadang kami meletakkan harga diri sangat tinggi. Terutama dalam kasusku. Dimana aku sadar diam menjadi pilihan terbaik untuk mencintaimu.

Advertisement

Aku tak mau kamu melihat kelembutan dari sorot mataku. Aku tidak mau kamu tahu, bahwa sekali memandangmu aku ingin selalu bertahan disana. Bertahan hingga hanya ada bayangku didalam hitam bola matamu. Ah tampak alasanku berlebihan. Maafkan aku, tapi menjaga pandangku menjadi pilihan terbaik saat ini, demi hatiku dan rasa yang tak ingin aku nodai.

Aku menyisipkan namamu diakhir doaku, untuk menjadi pasrah bahwa diakhir penantian ini cerita kita menjadi indah

Dalam lirih ada namamu tersisip diujung doaku. Berharap jika memang takdir menyatakan kita harus bersama, semoga aku dan kamu diberi kesabaran sampai waktunya. Karena memang jodoh tak pernah salah jalan, dia akan selalu datang ke hati yang ditakdirkan menjadi rumah menggapai cinta dan bahagia bersama.